

Halaman 1
Di tepi hutan Minahasa, hiduplah dua sahabat yang tak biasa. Seekor kera bernama Kuse dan seekor ayam jantan bernama Kokoreko. Setiap pagi mereka mencari makan bersama di tepi sungai.

Halaman 2
Kerja sama mereka rapi. Kuse memanjat memetik pisang yang tinggi, Kokoreko mengais biji-bijian yang tersembunyi. Sebagian mereka makan, sebagian ditabung di dalam batang kayu berlubang, untuk musim hujan.
Halaman 3
Suatu siang yang panas, Kuse kelaparan. Ia menghabiskan seluruh tabungan pisang itu sendirian! Lalu ia mengatur wajahnya dan berkata, “Wah, gawat, Ko! Tabungan kita pasti dicuri tikus hutan!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kokoreko memandangi kulit-kulit pisang di bawah pohon. Ia sedih sekali. “Aku tidak sedih karena pisangnya, Kuse. Aku sedih kalau sahabatku tidak jujur padaku.” Kuse membuang muka, pura-pura sibuk mencari kutu.
Halaman 5
Di tepi sungai, Kokoreko bercerita kepada sahabat lamanya, Kepiting. Kepiting mengetuk-ngetuk capitnya, berpikir. “Jangan dimarahi,” katanya. “Kita bantu dia jujur — dengan cara yang sedikit lucu.”
Halaman 6
Mereka membungkus batu bulat dengan daun pisang, rapi seperti bungkusan istimewa, lalu meletakkannya di dekat pohon. “Kami mau memancing dulu! Jangan buka bungkusan ini, ya!” seru Kepiting. Keduanya lalu bersembunyi di balik batu.
Halaman 7
Baru saja mereka “pergi”, Kuse merayap turun. Ia membuka bungkusan itu... batu! Dan di sebelahnya, tersusun rapi, kulit-kulit pisang dari tabungan yang ia habiskan. Kuse terpaku. Jadi mereka sudah tahu!
Halaman 8
Kepiting dan Kokoreko muncul dari balik batu. “Tikus hutannya berbulu cokelat dan berekor panjang, ya?” tanya Kepiting sambil tersenyum. Kuse menunduk malu. “Akulah tikusnya... Maafkan aku. Berbohong ternyata lebih tidak enak daripada lapar.”
Halaman 9
Kokoreko mengepakkan sayap, memaafkan sahabatnya. Kuse bekerja keras memetik pisang sampai tabungan penuh lagi, lebih besar dari sebelumnya. Dan mereka membuat aturan baru: “Kalau lapar, bilang saja. Sahabat pasti berbagi.”
Halaman 10
Malam pun tiba di tepi sungai. Kokoreko tidur di dahan rendah, Kuse meringkuk di dahan atas, Kepiting di rumah pasirnya. Semua sahabat sudah terlelap. Kamu juga, ya. Tutup mata... sampai jumpa besok pagi.
Fabel kera, ayam, dan kepiting dikenal di banyak daerah Nusantara; versi kami mengambil latar Minahasa, Sulawesi Utara. Seperti umumnya fabel binatang, tokoh-tokohnya mewakili sifat manusia: kera yang tergoda, ayam yang setia, kepiting yang bijak dan sedikit jahil.
Sulawesi adalah tempat yang tepat untuk cerita tentang kera: di hutan Sulawesi Utara hidup yaki, monyet hitam berjambul yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia dan kini dilindungi. Ajak anak melihat foto yaki dengan jambulnya yang seperti model rambut keren — cara sederhana mengenalkan kata "endemik" dan "dilindungi".
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi lama fabel ini berakhir dengan pembalasan yang kejam terhadap kera; kami menggantinya dengan tipuan kecil yang lucu — batu dibungkus daun pisang — lalu pengakuan dan maaf. Bahan obrolan: kalau lapar atau butuh, bilang saja, sahabat pasti berbagi; dan mengaku salah itu butuh keberanian, tapi rasanya lebih lega daripada berbohong.
Sahabat sejati berkata jujur; kesalahan diakui, dimaafkan, lalu diperbaiki bersama.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.