

Halaman 1
Di hutan Papua hiduplah burung kasuari. Badannya besar. Kakinya kuat. Tetapi ia tidak bisa terbang. Anehnya, dahulu kala kasuari justru punya sayap yang paling lebar di seluruh hutan. Mau tahu ceritanya?

Halaman 2
Dahulu, burung kasuari sombong sekali. Dengan sayap lebarnya, ia terbang paling tinggi dan paling cepat. Ia memetik buah-buah terbaik sebelum burung lain datang. “Hutan ini milikku!” serunya dari puncak pohon.
Halaman 3
Kasuari juga serakah. Buah yang tidak habis dimakan ia sembunyikan di bawah sayapnya yang lebar. Burung-burung kecil sering kelaparan. “Kasuari, bagilah sedikit,” pinta mereka. “Cari sendiri!” jawab kasuari dengan angkuh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Burung-burung pun berkumpul: kakatua, mambruk, nuri, sampai burung pipit yang paling kecil. “Kita adakan lomba terbang,” usul pipit. “Siapa yang menang, dialah yang mengatur pembagian buah di hutan.” Semua setuju.
Halaman 5
“Melawan kalian? Mudah sekali!” ejek kasuari. Ia bahkan tidur-tiduran sebelum lomba. Sementara itu, pipit kecil berlatih terbang berputar-putar di sela dahan: ke kiri, ke kanan, naik, turun, ringan seperti daun.
Halaman 6
Lomba dimulai! Wusss! Kasuari melesat seperti angin ribut. Ia menoleh ke belakang sambil tertawa, “Dadah, kecil-kecil!” Karena tidak melihat ke depan... BRUK! Ia menabrak dahan-dahan besar dan jatuh berguling-guling ke tanah.
Halaman 7
Sayap kasuari patah dan menjadi kecil. Bulu-bulunya rontok berhamburan. Sementara itu pipit terbang lincah berkelok-kelok di antara pepohonan dan sampai lebih dulu. “Pipit menang!” sorak burung-burung.
Halaman 8
Kasuari tertunduk malu. “Selama ini aku sombong dan serakah,” katanya pelan. “Sekarang sayapku kecil. Aku tak bisa terbang lagi.” Pipit hinggap di dekatnya. “Tidak apa-apa, Kasuari. Di hutan ini semua punya tempat.”
Halaman 9
Benar saja. Kaki kasuari tumbuh semakin kuat. Ia menjadi pelari tercepat di hutan Papua. Ia memakan buah yang jatuh, lalu biji-bijinya tersebar ke mana-mana dan tumbuh menjadi pohon baru. Kasuari menjadi penanam hutan yang rajin.
Halaman 10
Sejak itu kasuari tidak terbang, tetapi hutan menyayanginya. Nah, sekarang lipat sayapmu juga, anak burung. Berhentilah melompat-lompat di kasur. Pejamkan mata... dan biarkan mimpi yang terbang untukmu.
Ini dongeng "mengapa" dari hutan Papua — keluarga cerita yang menjelaskan asal-usul kebiasaan hewan. Kasuari memang burung khas hutan Papua dan sekitarnya: badannya besar, larinya cepat, dan ia sungguh tidak bisa terbang. Kisah lomba burung semacam ini dituturkan di berbagai daerah dengan tokoh dan akhir yang berbeda-beda.
Bagian paling nyata dari cerita ini justru penutupnya: kasuari benar-benar "penanam hutan". Ia memakan buah-buahan yang jatuh, biji-bijinya tersebar bersama kotorannya dan tumbuh menjadi pohon baru — kasuari dikenal sebagai salah satu penebar biji terpenting di hutan Papua. Tunjukkan fotonya pada anak: burung besar berleher biru yang gagah.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua, kasuari dihukum karena sengaja mematahkan sayap burung lain; versi kami melunakkannya menjadi kisah si sombong yang jatuh sendiri. Bahan obrolan: kalimat pipit "di hutan ini semua punya tempat" — kelebihan setiap orang berbeda, dan kalah lomba bukan akhir segalanya.
Sombong dan serakah akhirnya merugikan diri sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.