

Halaman 1
Di sebuah kampung di tanah Papua hiduplah seorang perempuan bernama Baria bersama anak sulungnya, Kweiya. Rumah mereka berdekatan dengan hutan yang lebat.

Halaman 2
Kweiya anak yang rajin. Ia pandai menganyam noken, yaitu tas dari serat kulit kayu, dan selalu membantu ibunya bekerja di kebun.
Halaman 3
Kemudian ibunya menikah lagi dan Kweiya mempunyai dua adik tiri. Kweiya menyayangi mereka dan mengajari keduanya cara menganyam noken.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Namun adik-adiknya tidak sabar dan tidak mau mengikuti petunjuk. Anyaman mereka berantakan. “Ini gara-gara Kakak! Kakak sengaja mengajari kami yang salah!” seru mereka.
Halaman 5
“Aku sudah menunjukkannya pelan-pelan,” kata Kweiya lirih. Tidak ada yang mau mendengarkannya. Dengan hati yang sedih ia masuk ke dalam rumah seorang diri.
Halaman 6
Di dalam rumah Kweiya memintal benang dari serat kayu. Dari benang itu ia membuat sepasang sayap yang indah dan memasangnya pada lengannya.
Halaman 7
Ketika ibunya memanggil, dari dalam rumah justru terdengar suara burung. Kweiya keluar dengan bulu keemasan dan ekor panjang yang berkilau.
Halaman 8
Ia terbang ke dahan pohon yang tinggi. “Kweiya, turunlah, Nak!” panggil Baria sambil menangis. Burung itu hanya memandangnya dari atas.
Halaman 9
“Maafkan kami, Kak!” seru adik-adiknya. Namun Kweiya tidak turun juga. Mereka membuat sayap dari serat kayu lalu menyusul kakaknya terbang ke dalam hutan.
Halaman 10
Sejak itu burung-burung berbulu indah menghuni hutan Papua. Orang menyebutnya burung cendrawasih, burung surga yang menjaga hutan.
Cerita Kweiya datang dari Papua, tanah asal burung cendrawasih sungguhan. Dari sekitar empat puluh jenis cendrawasih di dunia, hampir semuanya hidup di Pulau Papua dan sekitarnya. Bulunya yang menyala membuat orang Eropa dulu menjulukinya "burung surga" — mereka mengira burung seindah itu tidak mungkin hinggap di tanah.
Noken yang dianyam Kweiya juga nyata: tas serat kulit kayu ini dipakai di seluruh Papua untuk membawa hasil kebun, buku sekolah, bahkan bayi. Pada 2012 noken dicatat UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Keterampilan menganyamnya diturunkan dari orang tua ke anak — persis seperti Kweiya mengajari adik-adiknya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol setelah membaca: kesabaran. Adik-adik Kweiya gagal bukan karena bodoh, melainkan karena tidak mau mengikuti petunjuk pelan-pelan. Tanyakan pada anak: apa yang pernah ia pelajari yang awalnya susah — dan siapa yang mengajarinya?
Dengarkan orang yang sedang mengajari kita, dan segeralah meminta maaf. Penyesalan yang datang terlambat tidak dapat mengembalikan apa yang hilang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.