

Halaman 1
Dahulu di Pulau Seram ada negeri bernama Luhu. Di sana tinggal seorang putri yang lembut hatinya. Namanya Putri Luhu. Ia pandai bercerita dan sangat menyayangi anak-anak. Setiap sore anak-anak berkumpul di halamannya.

Halaman 2
Pada suatu musim, badai besar melanda negeri itu. Rumah-rumah rusak dan penduduk berpindah ke tempat yang jauh. Putri Luhu ikut berlayar ke Pulau Ambon. Hatinya sedih karena rindu kepada keluarganya yang terpisah.
Halaman 3
Di Ambon, Putri Luhu tinggal di lereng bukit yang sejuk. Ia tetap menyayangi anak-anak. “Kemarilah, aku punya cerita,” katanya. Namun diam-diam ia sering memandang laut, mencari-cari arah kampung halamannya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pada suatu pagi yang aneh, hujan turun ketika matahari bersinar. Putri Luhu berjalan ke puncak bukit. Kabut tipis turun perlahan. Ketika kabut itu naik kembali, Putri Luhu tidak ada lagi. Ia hilang bersama kabut.
Halaman 5
Penduduk mencarinya ke mana-mana. “Putri! Di mana engkau?” panggil mereka. Yang terdengar hanya angin lembut di pucuk pohon. Orang-orang pun percaya: Putri Luhu telah menjadi penjaga yang tidak terlihat.
Halaman 6
Karena menjaga anak-anak seperti seorang nenek, ia pun disebut Nenek Luhu. Bila hujan turun saat matahari bersinar, orang Ambon berkata, “Nenek Luhu sedang lewat.” Ia berkeliling mencari anak-anak yang tersesat, seperti dahulu di Luhu.
Halaman 7
Pernah seorang anak bermain terlalu jauh sampai senja. Ia tertidur di bawah pohon pala. Malam itu penduduk mencarinya dengan obor. Anak itu ditemukan tidur nyenyak dan hangat, seperti ada yang menyelimutinya dengan kabut lembut.
Halaman 8
“Nenek Luhu yang menjaganya,” kata orang-orang lega. Sejak itu anak-anak Ambon selalu diingatkan, “Pulanglah sebelum gelap, supaya Nenek Luhu tidak perlu repot mencarimu.” Anak-anak pun menurut sambil tersenyum.
Halaman 9
Sampai sekarang, bila hujan panas turun, anak-anak Ambon memandang bukit yang berkabut. Mereka melambai. “Terima kasih, Nenek Luhu!” Nenek yang lembut itu tetap menjaga, walau tak terlihat mata.
Halaman 10
Malam ini kamu tidak perlu mencari jalan pulang. Kamu sudah di rumah, hangat di tempat tidurmu. Biarkan kabut tidur turun perlahan di matamu. Selamat tidur, mimpilah yang indah.
Nenek Luhu adalah salah satu tokoh cerita rakyat Ambon yang paling dikenal. Namanya berasal dari Luhu, negeri tua di Pulau Seram. Dalam tuturan orang Ambon, ia seorang putri dari Luhu yang berpindah ke Ambon lalu menghilang bersama kabut, dan sejak itu dipercaya berkeliling menjaga anak-anak yang tersesat.
Jangkar cerita ini bisa ditunjuk langsung di langit: bila hujan turun ketika matahari masih bersinar — "hujan panas" — orang Ambon berkata, "Nenek Luhu sedang lewat". Saat hujan panas berikutnya, ajak anak ke jendela dan ceritakan kembali kalimat itu; beginilah dongeng menempel pada cuaca sehari-hari.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam banyak versi tua, Nenek Luhu dikisahkan lebih seram — sosok yang membawa anak-anak pergi; versi kami memilihnya sebagai penjaga lembut yang justru memulangkan anak. Bahan obrolan: mengapa penduduk berpesan "pulanglah sebelum gelap", dan siapa saja yang menjaga anak di rumah kalian.
Anak yang pulang sebelum gelap membuat orang yang menyayanginya tenang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.