

Halaman 1
Di Maluku Utara ada pulau besar bernama Halmahera. Hutannya lebat dan hijau. Pagi-pagi sekali, hutan itu bernyanyi. Burung-burung bersahutan menyambut matahari. Namun dahulu kala, ada yang lebih indah lagi di hutan itu.

Halaman 2
Kata orang tua-tua, dahulu para bidadari, putri-putri dari langit, suka turun ke Halmahera saat fajar. Mereka menari di pucuk-pucuk pohon. Selendang mereka melambai seperti kabut tipis, dan hutan pun menjadi terang.
Halaman 3
Seekor burung kecil berbulu cokelat selalu menonton dari dahan. Ia tidak berani mendekat. Ia hanya memandang, lalu diam-diam menirukan tarian itu. Kaki kecilnya melompat, sayapnya terangkat, kepalanya bergoyang pelan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pada suatu fajar, bidadari tertua berkata, “Adik-adikku, langit memanggil kita pulang. Ini tarian kita yang terakhir di bumi.” Burung kecil itu mendengarnya. Hatinya sedih sekali. Siapa yang akan menari di hutan ini nanti?
Halaman 5
Burung kecil itu memberanikan diri. Ia terbang ke hadapan para bidadari. “Jangan berhenti menari,” pintanya dengan suara kecil. “Nanti aku lupa. Nanti hutan lupa.” Para bidadari saling berpandangan, lalu tersenyum lembut.
Halaman 6
“Kamu sudah lama menonton kami,” kata bidadari tertua. “Sekarang menarilah.” Burung kecil itu menari sebisanya. Para bidadari bertepuk tangan. “Bagus! Mulai sekarang, kamulah penari hutan Halmahera.”
Halaman 7
Bidadari tertua mengusap bulu burung itu dengan ujung selendangnya. Seketika bulunya berkilau. Di dadanya tumbuh warna hijau zamrud, dan di sayapnya muncul sepasang bulu putih panjang seperti selendang kecil.
Halaman 8
Para bidadari naik ke langit bersama cahaya pagi. Burung kecil itu tidak menangis. Ia terbang ke dahan tertinggi, lalu menari seperti yang dijanjikannya. Bulu putihnya melambai-lambai seperti selendang bidadari.
Halaman 9
Sampai sekarang, setiap fajar burung itu menari di pucuk pohon Halmahera. Orang yang melihatnya berbisik kagum, “Lihat, burung bidadari!” Begitulah burung cantik itu mendapatkan namanya.
Halaman 10
Fajar masih lama, jadi tidurlah dahulu. Biarkan mimpimu menari pelan-pelan seperti selendang di angin. Besok pagi, sambutlah matahari dengan riang seperti burung bidadari. Selamat tidur, penari kecil.
Burung bidadari benar-benar ada. Ia burung khas Maluku Utara yang hidup di hutan Halmahera dan sekitarnya, kerabat cendrawasih yang tinggal paling barat. Cerita kami menganyam dua hal: motif bidadari yang turun dari langit — motif yang dikenal di banyak daerah Nusantara — dan kebiasaan asli burung ini.
Kebiasaan itulah jangkarnya: burung bidadari jantan sungguh "menari" menjelang pagi. Mereka berkumpul di pucuk pohon, melompat, membentangkan sayap, dan memamerkan sepasang bulu putih panjang yang melambai seperti selendang kecil. Ajak anak menonton videonya — tariannya persis seperti dalam dongeng.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita ini tidak diambil dari satu legenda baku, melainkan dikisahkan baru untuk menjelaskan nama si burung — nikmatilah sebagai dongeng pengantar berkenalan dengan satwa Indonesia. Bahan obrolan: si burung belajar lama dengan cara menonton, lalu memberanikan diri maju. Tanyakan pada anak, hal apa yang ia pelajari diam-diam sebelum berani mencoba.
Keindahan dan kebiasaan baik akan terus hidup bila ada yang setia melanjutkannya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.