Google PlayApp Store
Sampul cerita Asal Usul Pala dan Cengkih

Asal Usul Pala dan Cengkih

10 halaman3 menit 7 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Maluku dijuluki Kepulauan Rempah. Di sana tumbuh pala dan cengkih yang harum. Tahukah kamu asal mulanya? Dengarlah cerita dari Pulau Ternate ini.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Dahulu di Ternate hiduplah seorang sultan. Di halaman istananya tumbuh sebatang pohon yang ajaib. Kuncup bunganya kecil-kecil seperti paku, dan harumnya semerbak sampai ke laut. Itulah pohon cengkih yang pertama.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Sultan sangat bangga. “Pohon ini hanya boleh tumbuh di sini,” katanya. Tamu dari pulau lain boleh mencium harumnya, tetapi tak seorang pun boleh membawa bijinya pulang. Penjaga berdiri di sekeliling pohon siang dan malam.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Pada suatu hari datanglah utusan dari Pulau Ambon. Namanya Upu Hatunuku. Ia berjalan dengan tongkat bambu tua. Ketika ia beristirahat di bawah pohon cengkih, beberapa biji jatuh dan menggelinding masuk ke lubang tongkatnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Upu Hatunuku pulang berlayar tanpa tahu apa-apa. Di kebunnya di pegunungan Ambon, ia menancapkan tongkat itu ke tanah. Biji-biji kecil itu pun jatuh ke tanah yang subur. Hujan turun, matahari bersinar, dan biji itu mulai tumbuh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Bertahun-tahun kemudian, pohon-pohon cengkih menghijau di bukit Ambon. “Harum apakah ini?” tanya para pelaut yang lewat. “Cengkih!” jawab penduduk dengan bangga. Kabar itu sampai juga ke telinga Sultan Ternate.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Mula-mula sultan terkejut. Namun ketika ia berlayar dan melihat bukit-bukit yang harum serta penduduk yang gembira, hatinya luluh. “Ternyata harum ini terlalu indah untuk disimpan sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Kabar harum juga datang dari Kepulauan Banda. Di sana tumbuh pohon ajaib yang lain: pohon pala. Buahnya bulat keemasan, dan di dalamnya ada biji cokelat berselimut merah yang wangi. “Harum pala membuat kue jadi lezat!” kata anak-anak Banda.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sejak itu kapal-kapal datang dari negeri-negeri jauh untuk membeli rempah Maluku. Penduduk menanam, merawat, dan berbagi bibit dengan senang hati. Semakin dibagikan, semakin harum kepulauan itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sekarang rasakan napasmu sendiri: pelan dan tenang seperti angin di kebun cengkih. Malam sudah harum oleh mimpi. Tutup matamu, dan tidurlah seperti biji kecil yang tumbuh dalam tanah yang hangat.

Tentang cerita ini

Cerita ini datang dari Maluku Utara, tanah asal cengkih. Maluku sejak lama dijuluki Kepulauan Rempah: cengkih tumbuh asli di pulau-pulau seperti Ternate dan Tidore, sedangkan pala berasal dari Kepulauan Banda. Demi dua rempah harum inilah kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia dahulu berlayar jauh ke timur Nusantara.

Jangkarnya ada di dapur. Tunjukkan pada anak cengkih kering yang bentuknya seperti paku kecil dan pala yang bulat keras, lalu ajak menciumnya — harum yang sama yang dahulu membuat Maluku terkenal ke seluruh dunia. Ternate, Tidore, dan Banda sendiri adalah pulau-pulau gunung api yang nyata dan masih bisa dikunjungi.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kisah asal rempah punya banyak versi, dan sebagian versi tua jauh lebih keras; versi kami memilih jalan yang hangat: harum yang dibagikan tidak berkurang, justru bertambah. Bahan obrolan: apa yang menyenangkan untuk dibagi, dan bagaimana rasanya berbagi sesuatu yang kita banggakan.

Untuk orang tua

Pesan moral

Hal yang baik menjadi lebih indah ketika dibagikan, bukan disimpan sendiri.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Di mana pohon cengkih pertama tumbuh?
  2. Bagaimana biji cengkih bisa sampai ke Ambon?
  3. Mengapa sultan akhirnya tersenyum dan tidak marah?
  4. Apa makanan wangi kesukaanmu? Maukah kamu membaginya dengan teman?

Untuk kelas

kuncupsemerbakutusansuburmenghijaululuh

Cerita lain: Maluku & Papua

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.