

Halaman 1
Maluku dijuluki Kepulauan Rempah. Di sana tumbuh pala dan cengkih yang harum. Tahukah kamu asal mulanya? Dengarlah cerita dari Pulau Ternate ini.

Halaman 2
Dahulu di Ternate hiduplah seorang sultan. Di halaman istananya tumbuh sebatang pohon yang ajaib. Kuncup bunganya kecil-kecil seperti paku, dan harumnya semerbak sampai ke laut. Itulah pohon cengkih yang pertama.
Halaman 3
Sultan sangat bangga. “Pohon ini hanya boleh tumbuh di sini,” katanya. Tamu dari pulau lain boleh mencium harumnya, tetapi tak seorang pun boleh membawa bijinya pulang. Penjaga berdiri di sekeliling pohon siang dan malam.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pada suatu hari datanglah utusan dari Pulau Ambon. Namanya Upu Hatunuku. Ia berjalan dengan tongkat bambu tua. Ketika ia beristirahat di bawah pohon cengkih, beberapa biji jatuh dan menggelinding masuk ke lubang tongkatnya.
Halaman 5
Upu Hatunuku pulang berlayar tanpa tahu apa-apa. Di kebunnya di pegunungan Ambon, ia menancapkan tongkat itu ke tanah. Biji-biji kecil itu pun jatuh ke tanah yang subur. Hujan turun, matahari bersinar, dan biji itu mulai tumbuh.
Halaman 6
Bertahun-tahun kemudian, pohon-pohon cengkih menghijau di bukit Ambon. “Harum apakah ini?” tanya para pelaut yang lewat. “Cengkih!” jawab penduduk dengan bangga. Kabar itu sampai juga ke telinga Sultan Ternate.
Halaman 7
Mula-mula sultan terkejut. Namun ketika ia berlayar dan melihat bukit-bukit yang harum serta penduduk yang gembira, hatinya luluh. “Ternyata harum ini terlalu indah untuk disimpan sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Halaman 8
Kabar harum juga datang dari Kepulauan Banda. Di sana tumbuh pohon ajaib yang lain: pohon pala. Buahnya bulat keemasan, dan di dalamnya ada biji cokelat berselimut merah yang wangi. “Harum pala membuat kue jadi lezat!” kata anak-anak Banda.
Halaman 9
Sejak itu kapal-kapal datang dari negeri-negeri jauh untuk membeli rempah Maluku. Penduduk menanam, merawat, dan berbagi bibit dengan senang hati. Semakin dibagikan, semakin harum kepulauan itu.
Halaman 10
Sekarang rasakan napasmu sendiri: pelan dan tenang seperti angin di kebun cengkih. Malam sudah harum oleh mimpi. Tutup matamu, dan tidurlah seperti biji kecil yang tumbuh dalam tanah yang hangat.
Cerita ini datang dari Maluku Utara, tanah asal cengkih. Maluku sejak lama dijuluki Kepulauan Rempah: cengkih tumbuh asli di pulau-pulau seperti Ternate dan Tidore, sedangkan pala berasal dari Kepulauan Banda. Demi dua rempah harum inilah kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia dahulu berlayar jauh ke timur Nusantara.
Jangkarnya ada di dapur. Tunjukkan pada anak cengkih kering yang bentuknya seperti paku kecil dan pala yang bulat keras, lalu ajak menciumnya — harum yang sama yang dahulu membuat Maluku terkenal ke seluruh dunia. Ternate, Tidore, dan Banda sendiri adalah pulau-pulau gunung api yang nyata dan masih bisa dikunjungi.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kisah asal rempah punya banyak versi, dan sebagian versi tua jauh lebih keras; versi kami memilih jalan yang hangat: harum yang dibagikan tidak berkurang, justru bertambah. Bahan obrolan: apa yang menyenangkan untuk dibagi, dan bagaimana rasanya berbagi sesuatu yang kita banggakan.
Hal yang baik menjadi lebih indah ketika dibagikan, bukan disimpan sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.