

Halaman 1
Seorang penjahit tua punya tiga anak laki-laki. Rumah mereka kecil dan periuk sering kosong. "Pergilah belajar bekerja," kata ayah. "Kalau sudah pandai, pulanglah." Ketiga kakak beradik itu berangkat ke tiga arah yang berbeda.

Halaman 2
Anak sulung belajar pada tukang kayu. Setelah bertahun-tahun, gurunya memberi hadiah sebuah meja kecil. "Katakan saja: Meja, sajikan hidangan!" Dan benar, meja itu langsung penuh roti, sup, dan buah. Sulung pun pulang dengan bangga.
Halaman 3
Di jalan, ia menginap di sebuah penginapan. Malam itu ia memamerkan mejanya kepada para tamu. Pemilik penginapan mengintip dari balik pintu. Diam-diam, ia menukar meja ajaib itu dengan meja biasa yang mirip sekali.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di rumah, sulung mengumpulkan tetangga. "Meja, sajikan hidangan!" serunya. Tapi meja itu diam saja. Tak ada roti, tak ada sup. Wajahnya memerah karena malu. Ayahnya menepuk bahunya. "Sudahlah, Nak. Kita makan bubur saja malam ini."
Halaman 5
Anak kedua belajar pada tukang giling. Sebagai hadiah, gurunya memberi seekor keledai. "Bilang saja: Keledai, keluarkan!" Maka keping-keping emas berjatuhan dari mulut keledai itu. Anak kedua pun pulang dengan gembira.
Halaman 6
Ia menginap di penginapan yang sama. Pemilik penginapan melihat emas berkilau, lalu mengganti keledai itu dengan keledai biasa. Di rumah, anak kedua berseru, "Keledai, keluarkan!" Yang keluar hanya suara, hik-hok! Semua tetangga tertawa.
Halaman 7
Anak bungsu belajar pada tukang bubut. Gurunya memberi sebuah karung berisi tongkat kayu. "Kalau ada yang berbuat curang, bilang saja: Tongkat, keluar dari karung!" Bungsu sudah mendengar kabar tentang kedua kakaknya. Diam-diam ia menyiapkan rencana.
Halaman 8
Di penginapan itu, ia sengaja berkata keras, "Karungku ini paling ajaib sedunia!" lalu pura-pura tidur. Tengah malam, pemilik penginapan menyelinap ke arah karung itu. "Tongkat, keluar!" seru bungsu. Tongkat melompat dan menari mengejar si pemilik.
Halaman 9
"Ampun! Berhenti!" teriak pemilik penginapan sambil berputar-putar di halaman. "Kembalikan meja dan keledai kakakku," kata bungsu tenang. "Baik, ambil semuanya!" Tongkat pun kembali ke karung, dan pemilik penginapan berjanji tak akan mencuri lagi.
Halaman 10
Ketiga bersaudara pulang membawa meja, keledai, dan karung. Malam itu meja menyajikan hidangan, dan rumah kecil penuh tawa. Sang ayah duduk kekenyangan di kursinya. Perutmu juga sudah hangat, bukan? Pejamkan mata dan tidurlah nyenyak.
Dongeng tiga bersaudara ini datang dari Jerman, dari kumpulan Grimm. Di baliknya ada tradisi nyata para perajin Eropa: anak muda pergi bertahun-tahun magang pada seorang ahli, lalu pulang membawa keahlian — mirip tradisi merantau untuk belajar yang akrab di Indonesia.
Meja yang menyajikan hidangan, keledai emas, dan tongkat penjaga adalah tiga "ijazah" dari tiga guru. Ajak anak memperhatikan urutannya: dua kakak kecurian karena memamerkan hadiahnya, si bungsu menang karena mendengar kabar lebih dulu dan menyiapkan rencana. Kecerdikan di sini adalah buah dari belajar.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua tongkat itu memukuli pemilik penginapan; di versi kami tongkat hanya menari mengejarnya sampai ia mengembalikan semua curiannya dan berjanji jera. Bahan ngobrol: barang curian tidak pernah membawa tenang — dan meja penuh hidangan paling nikmat kalau dinikmati beramai-ramai.
Kecurangan selalu ketahuan pada akhirnya, dan kecerdikan yang jujur mengembalikan apa yang hilang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.