Google PlayApp Store
Sampul cerita Manarmakeri dan Bintang Pagi

Manarmakeri dan Bintang Pagi

10 halaman3 menit 27 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di Pulau Biak, di utara Papua, hiduplah seorang kakek tua. Namanya Manarmakeri. Kulitnya kering dan bersisik seperti kulit kayu. Orang-orang enggan mendekatinya. Kakek itu pun tinggal sendirian di kebun kelapanya di tepi pantai.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Meski hidup sendiri, Manarmakeri rajin bekerja. Setiap sore ia memanjat pohon kelapa dan memasang bumbung bambu untuk menampung nira, air manis dari bunga kelapa. “Besok pagi pasti penuh,” katanya senang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Namun anehnya, setiap pagi bumbung itu kosong. Sekali, dua kali, berhari-hari! “Siapa yang mengambil niraku?” gumam Manarmakeri. Malam berikutnya, ia bersembunyi di balik pelepah kelapa dan menunggu dengan sabar.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Tengah malam lewat. Tiba-tiba turunlah cahaya dari langit, terang dan lembut. Cahaya itu hinggap di pucuk kelapa dan meminum nira dari bumbung. Manarmakeri melompat dan memeluknya erat-erat. “Kena kamu sekarang!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Cahaya itu ternyata Sampari, sang Bintang Pagi. “Lepaskan aku, Kek,” pintanya. “Sebentar lagi fajar. Aku harus bersinar menyambut pagi.” Manarmakeri menggeleng. “Katakan dulu, mengapa kamu meminum niraku setiap malam?”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

“Niramu paling manis di seluruh langit dan bumi,” jawab Sampari. “Aku tidak bisa mengembalikannya, tetapi aku bisa memberimu satu permintaan.” Manarmakeri tidak meminta emas. Ia berkata pelan, “Aku hanya ingin tidak sendirian lagi.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Sampari tersenyum, terang seperti fajar. “Mandilah dengan cahaya pertamaku besok pagi.” Lalu ia terbang ke langit. Ketika fajar tiba, Manarmakeri berdiri di pantai. Cahaya pagi menyapu tubuhnya, hangat dan berkilau.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Kulitnya yang kering menjadi sehat dan cerah. Punggungnya yang bungkuk menjadi tegak. Orang-orang kampung terheran-heran. “Kek Manarmakeri, engkau tampak gagah!” Mereka jadi malu karena dahulu suka menjauhinya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Manarmakeri tidak menyimpan marah. Ia membuka kebun kelapanya untuk semua orang. Anak-anak datang bermain, belajar memanjat, dan mendengar cerita tentang bintang-bintang. Kakek itu tidak pernah kesepian lagi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sampai sekarang, Bintang Pagi bersinar paling terang di langit Biak menjelang fajar. Kata orang, ia sedang menengok sahabat lamanya. Tidurlah sekarang, sahabat kecil bintang-bintang. Biar Sampari yang menjaga langit sampai pagi.

Tentang cerita ini

Manarmakeri adalah tokoh besar dalam tuturan orang Biak, pulau di utara Papua, dan Sampari adalah nama bintang pagi dalam bahasa mereka. Kisah lengkapnya panjang, berlapis, dan sangat dihormati di Biak; versi kami sengaja mengambil satu bagian yang paling ramah anak — pertemuan kakek kesepian dengan bintang yang meminum niranya.

Jangkarnya menggantung di langit: "bintang pagi" adalah planet Venus, titik paling terang menjelang fajar. Sekali waktu, ajak anak bangun sebelum subuh dan mencarinya di ufuk timur — itulah Sampari yang mencuri nira, air manis dari bunga kelapa, dalam cerita ini.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: versi asli Manarmakeri jauh lebih rumit dan berbeda jalannya; anggaplah versi kami pintu kecil untuk berkenalan dengan tokohnya. Bahan obrolan: orang menjauhi kakek karena kulitnya, padahal hatinya rajin dan sabar — dan permintaannya bukan emas, melainkan teman. Tanyakan pada anak, hadiah apa yang menurutnya paling berharga.

Untuk orang tua

Pesan moral

Jangan menilai orang dari rupanya.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa yang ternyata meminum nira Manarmakeri setiap malam?
  2. Permintaan apa yang dipilih Manarmakeri? Mengapa bukan emas?
  3. Apa yang dilakukan Manarmakeri kepada orang-orang yang dulu menjauhinya?
  4. Kalau kamu boleh meminta satu permintaan pada bintang, apa permintaanmu?

Untuk kelas

bersisikenggannirabumbungpelepahfajarkesepian

Cerita lain: Maluku & Papua

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.