

Halaman 1
Di Pulau Biak, di utara Papua, hiduplah seorang kakek tua. Namanya Manarmakeri. Kulitnya kering dan bersisik seperti kulit kayu. Orang-orang enggan mendekatinya. Kakek itu pun tinggal sendirian di kebun kelapanya di tepi pantai.

Halaman 2
Meski hidup sendiri, Manarmakeri rajin bekerja. Setiap sore ia memanjat pohon kelapa dan memasang bumbung bambu untuk menampung nira, air manis dari bunga kelapa. “Besok pagi pasti penuh,” katanya senang.
Halaman 3
Namun anehnya, setiap pagi bumbung itu kosong. Sekali, dua kali, berhari-hari! “Siapa yang mengambil niraku?” gumam Manarmakeri. Malam berikutnya, ia bersembunyi di balik pelepah kelapa dan menunggu dengan sabar.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tengah malam lewat. Tiba-tiba turunlah cahaya dari langit, terang dan lembut. Cahaya itu hinggap di pucuk kelapa dan meminum nira dari bumbung. Manarmakeri melompat dan memeluknya erat-erat. “Kena kamu sekarang!”
Halaman 5
Cahaya itu ternyata Sampari, sang Bintang Pagi. “Lepaskan aku, Kek,” pintanya. “Sebentar lagi fajar. Aku harus bersinar menyambut pagi.” Manarmakeri menggeleng. “Katakan dulu, mengapa kamu meminum niraku setiap malam?”
Halaman 6
“Niramu paling manis di seluruh langit dan bumi,” jawab Sampari. “Aku tidak bisa mengembalikannya, tetapi aku bisa memberimu satu permintaan.” Manarmakeri tidak meminta emas. Ia berkata pelan, “Aku hanya ingin tidak sendirian lagi.”
Halaman 7
Sampari tersenyum, terang seperti fajar. “Mandilah dengan cahaya pertamaku besok pagi.” Lalu ia terbang ke langit. Ketika fajar tiba, Manarmakeri berdiri di pantai. Cahaya pagi menyapu tubuhnya, hangat dan berkilau.
Halaman 8
Kulitnya yang kering menjadi sehat dan cerah. Punggungnya yang bungkuk menjadi tegak. Orang-orang kampung terheran-heran. “Kek Manarmakeri, engkau tampak gagah!” Mereka jadi malu karena dahulu suka menjauhinya.
Halaman 9
Manarmakeri tidak menyimpan marah. Ia membuka kebun kelapanya untuk semua orang. Anak-anak datang bermain, belajar memanjat, dan mendengar cerita tentang bintang-bintang. Kakek itu tidak pernah kesepian lagi.
Halaman 10
Sampai sekarang, Bintang Pagi bersinar paling terang di langit Biak menjelang fajar. Kata orang, ia sedang menengok sahabat lamanya. Tidurlah sekarang, sahabat kecil bintang-bintang. Biar Sampari yang menjaga langit sampai pagi.
Manarmakeri adalah tokoh besar dalam tuturan orang Biak, pulau di utara Papua, dan Sampari adalah nama bintang pagi dalam bahasa mereka. Kisah lengkapnya panjang, berlapis, dan sangat dihormati di Biak; versi kami sengaja mengambil satu bagian yang paling ramah anak — pertemuan kakek kesepian dengan bintang yang meminum niranya.
Jangkarnya menggantung di langit: "bintang pagi" adalah planet Venus, titik paling terang menjelang fajar. Sekali waktu, ajak anak bangun sebelum subuh dan mencarinya di ufuk timur — itulah Sampari yang mencuri nira, air manis dari bunga kelapa, dalam cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: versi asli Manarmakeri jauh lebih rumit dan berbeda jalannya; anggaplah versi kami pintu kecil untuk berkenalan dengan tokohnya. Bahan obrolan: orang menjauhi kakek karena kulitnya, padahal hatinya rajin dan sabar — dan permintaannya bukan emas, melainkan teman. Tanyakan pada anak, hadiah apa yang menurutnya paling berharga.
Jangan menilai orang dari rupanya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.