

Halaman 1
Di utara tanah Papua ada teluk yang sangat luas, penuh pulau kecil dan air sebening kaca. Namanya Teluk Cenderawasih, teluk burung surga. Mengapa dinamai begitu? Dengarlah cerita para nelayan tua.

Halaman 2
Dahulu, seorang kakek nelayan dan cucunya berlayar dengan perahu kecil. Mereka memasang jaring di dekat bagan, rumah panggung di tengah laut. “Kalau rezeki kita banyak,” kata kakek, “jangan lupa berbagi, bahkan dengan ikan.”
Halaman 3
Sore itu jaring mereka penuh ikan kecil. Tiba-tiba muncul bayangan besar di bawah perahu. Seekor hiu paus! Ikan terbesar di laut, tetapi hatinya lembut. Kakek menebar segenggam ikan kecil ke air. “Makanlah, sahabat besar.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ketika hendak pulang, kabut turun tebal sekali. Putih semua! Pulau hilang, matahari hilang, arah pun hilang. “Kek, kita ada di mana?” bisik sang cucu. “Tenang, Nak,” jawab kakek. “Laut baik kepada orang yang baik.”
Halaman 5
Mereka terapung lama dalam kabut yang dingin. Sang cucu mulai mengantuk dan ketakutan. Kakek memeluknya erat. Tiba-tiba... sssrrr! Terdengar kepak sayap halus di atas kabut, disusul suara burung yang bersahut-sahutan.
Halaman 6
Dari celah kabut muncul burung-burung keemasan: cendrawasih! Bulunya berkilau seperti pagi. Mereka terbang berputar-putar di atas perahu, lalu beriringan menuju satu arah. “Ikuti mereka!” seru kakek sambil mengayuh dayungnya.
Halaman 7
Ajaibnya, hiu paus yang tadi diberi makan berenang di sisi perahu, membelah ombak agar perahu tidak oleng. Burung di atas, sahabat besar di bawah. Perlahan kabut menipis, dan tampaklah pantai kampung dengan api unggun menyala.
Halaman 8
Orang sekampung menyambut mereka dengan gembira. “Kami dituntun burung cendrawasih!” cerita sang cucu bersemangat. “Dan dijaga hiu paus!” Para tetua mengangguk. “Alam menolong kalian, karena kalian menolong alam.”
Halaman 9
Sejak itu, teluk yang luas itu dinamai Teluk Cenderawasih. Para nelayan di sana bersahabat dengan hiu paus sampai sekarang, dan selalu menyisihkan ikan kecil untuknya. Burung cendrawasih pun menari-nari di hutan pulau-pulaunya.
Halaman 10
Kabut malam sudah turun di matamu, tetapi jangan takut tersesat. Ada yang selalu menuntunmu pulang ke pagi: mimpi yang baik. Ikuti kilau emasnya pelan-pelan... pelan... Selamat tidur, sampai pagi menjemputmu.
Teluk Cenderawasih adalah teluk raksasa yang nyata di utara Papua, dan perairannya kini dijaga sebagai taman nasional laut. Kisah asal namanya tidak sampai kepada kita sebagai satu legenda baku, maka cerita kami dianyam dari kehidupan nyata teluk itu: bagan nelayan, kabut laut, dan satwa-satwanya yang menakjubkan.
Persahabatan dengan hiu paus dalam cerita ini bukan khayalan. Di perairan teluk ini, ikan terbesar di dunia itu terbiasa mendekati bagan para nelayan, dan nelayan menyisihkan ikan-ikan kecil untuknya — pemandangan yang membuat teluk ini terkenal sampai mancanegara. Hiu paus bertubuh raksasa, tetapi jinak dan hanya memakan ikan-ikan kecil.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: kata para tetua, "alam menolong kalian, karena kalian menolong alam" — kebaikan kepada hewan dan laut kembali kepada kita. Tanyakan pada anak, kebaikan kecil apa yang bisa ia lakukan untuk hewan di sekitarnya, mulai dari tidak membuang sampah ke air.
Siapa menjaga dan menolong alam, akan ditolong alam pada waktunya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.