Identitas
- Kelompok usia: 4–6 tahun (TK A/B)
- Topik: Binatang laut · Subtopik: Menolong alam, ditolong alam
- Alokasi waktu: 60 menit (satu blok dalam hari belajar; bisa dibagi dua hari)
- Cerita: Legenda Teluk Cenderawasih (cerita rakyat Maluku & Papua, 10 halaman, 4 menit)
- Dimensi profil lulusan: Kewargaan, Kesehatan, Komunikasi
Tujuan pembelajaran
- Anak menyebutkan pemberian kakek kepada hiu paus: segenggam ikan kecil.
- Anak menceritakan cara kakek dan cucu pulang: mengikuti burung cendrawasih, dijaga hiu paus.
- Anak tetap dalam barisan perahu mengikuti «burung» sampai ke «pantai».
- Anak menyebutkan satu cara menolong hewan atau alam di sekitarnya.
Alat dan bahan
- Cerita Legenda Teluk Cenderawasih: pemutar «Putar di kelas» di laptop/proyektor, atau dibacakan guru.
- Kartu diskusi & kosakata (cetak 1 lembar untuk guru).
- Lembar mewarnai halaman 6 atau 7 (cetak sesuai jumlah anak).
- Kain kuning sebagai sayap cendrawasih; bola kertas sebagai ikan kecil.
Pembukaan (10 menit)
- Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
- Pertanyaan pemantik: «Siapa yang pernah memberi makan ayam, kucing, atau ikan? Apa yang kamu berikan?»
- Tunjukkan gambar halaman 1: «Ini teluk di Papua, airnya bening. Apa saja yang hidup di dalamnya?»
- Perkenalkan 3 kata: hiu paus, kabut, bagan.
Inti (40 menit)
- Memahami: Bacakan halaman 1–4. Berhenti di halaman 4, ketika cucu bertanya «Kek, kita ada di mana?». Tanyakan: «Kabut tebal, pulau hilang. Siapa yang akan menolong kakek dan cucu pulang?»
- Memahami: Lanjutkan sampai halaman 10, lalu tanyakan: «Siapa yang menolong dari atas? Siapa dari bawah?»
- Mengaplikasi: pilih 1–2 ragam main. (a) Bermain peran berbagi dengan hiu paus: anak yang jadi kakek menebar «ikan» kepada «hiu paus» (anak yang merangkak pelan) sambil berkata «Makanlah, sahabat besar». Ganti peran. Tanya: «Mengapa kakek mau berbagi?» (b) Gerak ikuti burung: satu anak jadi cendrawasih dengan kain kuning berjalan berkelok; yang lain berbaris «mendayung» mengikutinya, satu anak «hiu paus» merangkak di samping, sampai tiba di «pantai». Sisa waktu: mewarnai halaman 6.
- Merefleksi: bahas kartu diskusi: «Apa yang diberikan kakek kepada hiu paus?», «Bagaimana kakek dan cucu menemukan jalan pulang dalam kabut?», «Bagaimana caramu menolong hewan atau alam di sekitarmu?»
Penutup (10 menit)
- Recalling: urutan cerita: kakek memberi ikan, kabut turun, burung datang, hiu paus menjaga, pulang.
- Ulangi kata baru: hiu paus, kabut, bagan, teluk, jaring, dayung, oleng.
- Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu beri makan hewan atau siram tanaman bersama.
- Doa penutup dan salam.
Asesmen (observasi)
- Pemberian kakek: anak menyebutkan ikan kecil.
- Jalan pulang: anak menyebutkan burung cendrawasih dan hiu paus.
- Mengikuti pemimpin: anak tetap dalam barisan sampai «pantai».
- Cara menolong alam: anak menyebutkan satu cara sendiri.
- Dokumentasi: hasil karya (lembar mewarnai) / catatan anekdot.
Catatan untuk guru
- Untuk kelompok A (4 tahun): bacakan sampai halaman 8, satu ragam main (gerak ikuti burung), pertanyaan pertama dan terakhir saja.
- Tersesat dalam kabut (halaman 4–5) bisa mencemaskan. Tekankan kakek tenang dan pertolongan segera datang. Hiu paus bukan hiu yang menggigit; ia hanya makan ikan kecil.
- Teluk Cenderawasih ada di utara Papua, taman nasional laut terbesar di Indonesia. Hiu paus memang berenang di dekat bagan nelayan dan diberi ikan kecil. Cendrawasih adalah burung berbulu emas yang dilindungi.