

Halaman 1
Dahulu di kaki Gunung Lawu hiduplah sepasang kakek dan nenek petani, Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Ladang mereka kering dan hidup mereka sederhana, tetapi mereka selalu bekerja sambil bersenda gurau.

Halaman 2
Suatu pagi, di bawah pohon besar, Kyai Pasir menemukan sebutir telur yang besar dan berkilau. “Wah, rezeki!” katanya. Ia membawanya pulang dan menunjukkannya kepada Nyai Pasir yang keheranan.
Halaman 3
Mereka merebus telur itu dan membaginya dua. Rasanya gurih dan lezat. Namun tak lama kemudian, badan mereka terasa hangat dan gatal sekali. “Aduh, punggungku!” seru Kyai Pasir sambil menggaruk-garuk.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Mereka berguling-guling di tanah ladang. Ketika berdiri, keduanya sudah berubah menjadi dua naga hijau yang besar! “Suaramu seperti guntur!” kata Nyai Pasir. “Suaramu juga!” jawab Kyai Pasir, lalu keduanya tertawa.
Halaman 5
Karena badan mereka besar, setiap kali berguling tanah ladang menjadi cekung. Mereka menggali makin lama makin dalam, sampai dari dasar cekungan itu memancar mata air yang jernih dan dingin.
Halaman 6
Air memenuhi cekungan luas itu hingga menjadi telaga yang berkilau di kaki gunung. Ikan-ikan datang, pepohonan tumbuh rindang di tepinya, dan burung-burung ramai bernyanyi setiap pagi.
Halaman 7
Kedua naga memandang telaga itu dengan gembira. “Dulu ladang kita kering. Sekarang airnya cukup untuk desa-desa di sekitar sini,” kata Kyai Pasir. Mereka pun memilih tinggal di dasar telaga sebagai penjaganya.
Halaman 8
Penduduk menamai telaga itu Telaga Sarangan. Airnya dingin dan segar. Pagi-pagi kabut turun perlahan, dan perahu-perahu kecil mengapung tenang di permukaannya yang berkilau seperti cermin.
Halaman 9
Konon, kalau permukaan telaga beriak pelan padahal tidak ada angin, itu tandanya dua naga tua sedang berenang pelan di dasar sambil bercengkerama, mengenang ladang kering mereka dahulu.
Halaman 10
Malam ini Telaga Sarangan tenang seperti cermin yang gelap dan teduh. Di dasarnya, dua naga tua tidur melingkar berdampingan, hangat dan damai. Seperti mereka, pejamkan matamu dan tidurlah nyenyak.
Legenda dua naga Telaga Sarangan berasal dari kaki Gunung Lawu di Jawa Timur, dekat Magetan. Di antara cerita asal-usul danau di Jawa, versi ini istimewa karena nadanya: bukan hukuman atau bencana, melainkan sepasang kakek-nenek petani yang bahkan setelah menjadi naga masih saling menggoda dan tertawa.
Telaganya sungguh ada dan menjadi tempat berlibur keluarga: airnya dingin khas pegunungan, pagi-pagi kabut turun ke permukaan, perahu dan kuda menunggu pengunjung di tepiannya. Kalau berkunjung, ajak anak memperhatikan riak kecil di permukaan — dalam cerita kami, itu dua naga tua yang sedang berenang pelan sambil bercengkerama.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol yang hangat: Kyai dan Nyai Pasir tidak panik ketika hidup mereka berubah total — mereka tertawa, lalu mencari cara agar perubahan itu berguna bagi banyak orang. Tanyakan pada anak: perubahan apa yang awalnya terasa menakutkan, tapi ternyata membawa hal baik?
Perubahan yang tak terduga pun bisa membawa kebaikan bila hati kita tetap baik dan suka menolong.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.