

Halaman 1
Di Aceh Selatan, ada kota bernama Tapaktuan. Di tepi lautnya, pada sebuah batu karang besar, ada jejak kaki raksasa yang membekas dalam. Orang-orang menyebutnya tapak Tuan Tapa. Inilah kisahnya.

Halaman 2
Dahulu, di sebuah gua di gunung, tinggallah Tuan Tapa, raksasa tua yang baik hati. Ia hidup tenang, jarang turun gunung, dan suka mendengarkan suara ombak dari kejauhan sambil beristirahat.
Halaman 3
Di laut lepas, sepasang naga besar menemukan bayi perempuan terapung di atas kayu sehabis badai. Mereka merawat bayi itu dengan penuh sayang di pulau karang, hingga ia tumbuh menjadi putri yang cantik.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bertahun-tahun kemudian, datanglah kapal raja dan permaisuri dari negeri Asralanoka. "Itu putri kami yang hilang saat badai!" seru sang permaisuri sambil menangis haru. "Kami mencarinya bertahun-tahun!"
Halaman 5
Namun sepasang naga tidak mau berpisah dengan putri itu. Mereka mengibaskan ekor, membuat ombak besar mengejar kapal raja. "Tolong! Kapal kami hampir tenggelam!" seru para awak. Kapal itu oleng ke sana kemari di tengah lautan.
Halaman 6
Dari gunung, Tuan Tapa mendengar keributan itu. Ia melangkah lebar, dan kakinya menjejak batu karang di tepi pantai. Jejak kaki raksasa itu membekas dalam sekali, dan masih ada sampai sekarang!
Halaman 7
"Hentikan!" seru Tuan Tapa dengan suara yang menggetarkan laut. "Putri itu punya ayah dan ibu yang mencarinya bertahun-tahun. Kalian telah merawatnya dengan baik, kini relakanlah ia pulang."
Halaman 8
Mula-mula kedua naga marah dan menyerang. Tuan Tapa menahan mereka dengan tongkat kayunya yang besar, sampai keduanya lelah dan tenang kembali. Akhirnya mereka tunduk pada raksasa yang bijak itu.
Halaman 9
Sang putri memeluk kedua naga. "Terima kasih telah menjagaku. Aku akan selalu menyayangi kalian." Naga mengantar putri ke kapal, lalu menyelam ke laut dalam.
Halaman 10
Malam tiba di Tapaktuan. Di pantai, topi dan tongkat Tuan Tapa ikut tertidur, menjadi batu yang tenang. Ombak menepuk-nepuk batu pelan, seperti menepuk anak yang mau tidur. Kamu aman dan disayangi. Tidurlah yang nyenyak, sampai besok pagi.
Ini legenda kota Tapaktuan di Aceh Selatan, yang dijuluki Kota Naga justru karena cerita ini: raksasa bijak Tuan Tapa mendamaikan sepasang naga dengan raja dan permaisuri yang mencari putri mereka yang hilang.
Jejaknya benar-benar ada: di batu karang tepi laut Tapaktuan membekas "tapak kaki raksasa" yang dikunjungi orang sampai sekarang, dan nama kota itu sendiri berarti tapak sang Tuan. Seru ditunjukkan pada anak: kota di peta yang namanya lahir dari sebuah jejak kaki.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Naga di sini bukan penjahat — mereka merawat sang putri bertahun-tahun dan sulit melepasnya; sang putri pun berjanji menyayangi mereka selamanya. Ini pintu yang lembut untuk bicara tentang dua macam sayang: kepada yang membesarkan dan kepada ayah-ibu sendiri — dan tentang merelakan, seperti kedua naga merelakan putri pulang.
Menyayangi berarti juga merelakan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.