Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Sungai Kawat

Legenda Sungai Kawat

10 halaman3 menit 20 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di kota Sintang, Kalimantan Barat, ada sungai kecil yang bermuara ke Sungai Kapuas. Namanya Sungai Kawat. Dahulu, di tepi sungai itu hidup seorang nelayan miskin bersama istri dan anak-anaknya di gubuk beratap daun.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Hidup mereka serba kekurangan, tetapi rukun. Kadang seharian memancing, hasilnya hanya dua ikan kecil. “Sedikit pun tidak apa-apa,” kata istrinya selalu, “yang penting kita makan bersama-sama.” Nelayan itu tersenyum lelah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Suatu hari, dari pagi sampai sore, tak ada satu ikan pun yang menyambar. Ketika matahari mulai rendah, kailnya tiba-tiba tersangkut sesuatu yang berat. Ditariknya pelan-pelan... dan muncullah seutas kawat berwarna kuning berkilau.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Nelayan itu terbelalak. “Kawat emas! Sedepa saja, sepanjang rentangan dua tanganku, cukup untuk membeli beras setahun!” serunya. Lalu terdengar bisikan lembut dari atas air, “Ambil secukupnya, Nak, lalu potonglah kawatnya.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Namun kilau emas membuat matanya silau. Sedepa, dua depa, sepuluh depa! Kawat itu seakan tidak berujung. Ia terus menarik dan menggulung, menarik dan menggulung. Bisikan tadi dilupakannya. Langit pun mulai gelap.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Perahu kecil itu makin penuh dan makin berat. Airnya mulai masuk melewati bibir perahu. “Sedikit lagi... sedikit lagi saja!” gumam nelayan itu, terus menarik. Perahu miring ke kiri, miring ke kanan, lalu oleng sekali.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Blub! Perahu itu tenggelam bersama seluruh gulungan kawat emas. Kawat itu meluncur kembali ke dasar sungai seperti seekor belut panjang. Nelayan itu gelagapan, berenang sekuat tenaga, dan sampai ke tepi dengan tangan kosong.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Ia pulang berjalan menunduk, basah kuyup dan kedinginan. Namun istri dan anak-anaknya berlari memeluknya. “Ayah selamat! Itu lebih berharga daripada emas,” kata si sulung. Malam itu mereka makan ubi rebus sambil bersyukur.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sejak itu sang nelayan mengambil rezeki secukupnya, dan anehnya, pancingnya justru jarang pulang kosong. Ia suka menutup ceritanya begini: “Kalau hati berkata cukup, hidup jadi tenang.” Sungai itu pun dinamai Sungai Kawat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam ini bintang-bintang berkilau di atas Kapuas seperti butir-butir emas yang tak perlu ditarik siapa-siapa. Harimu sudah cukup, mainmu sudah cukup. Sekarang saatnya berbaring, memejamkan mata, dan tidur yang dalam.

Tentang cerita ini

Cerita ini berasal dari Sintang, Kalimantan Barat. Sungai Kawat sungguh ada — sungai kecil yang bermuara ke Kapuas di kota itu, dan namanya sampai sekarang dipakai untuk kawasan di tepinya. Kisah nelayan dan kawat emas adalah cara orang Sintang menjelaskan nama itu, sekaligus menitipkan pesan tua para orang sungai: ambil secukupnya.

Ada kata bagus untuk dikenalkan ke anak dari cerita ini: depa, ukuran panjang dari rentangan dua tangan. Minta anak merentangkan tangannya — itulah sedepa miliknya. Orang dahulu mengukur kain, tali, dan kawat dengan tubuhnya sendiri, sebelum ada meteran.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Nelayan kami pulang dengan tangan kosong tetapi disambut pelukan — "Ayah selamat, itu lebih berharga daripada emas". Bahan ngobrol: kapan "sedikit lagi" berubah jadi terlalu banyak, dan permainan kecil sebelum tidur — sebut tiga hal yang hari ini sudah terasa cukup.

Untuk orang tua

Pesan moral

Yang serakah bisa kehilangan segalanya; yang tahu berkata cukup, hidupnya tenang.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa yang ditemukan nelayan itu di ujung kailnya?
  2. Bisikan apa yang ia dengar dari atas air, dan mengapa ia melupakannya?
  3. Bagaimana keluarganya menyambut ketika ia pulang dengan tangan kosong?
  4. Menurutmu, kapan kita perlu berkata cukup?

Untuk kelas

gubukkawatdepasilauolenggelagapan

Cerita lain: Kalimantan

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.