

Halaman 1
Di daerah Batu Bara, Sumatra Utara, ada lubuk sungai yang dalam dan tenang. Konon, pada waktu-waktu tertentu airnya berkilau keemasan. Orang menyebutnya Lubuk Emas. Beginilah ceritanya.

Halaman 2
Dahulu, hiduplah seorang putri raja yang lembut hati. Ia suka membantu rakyat menanam padi dan tidak suka memamerkan perhiasannya. Namun kabar kecantikannya sampai ke negeri seberang lautan.
Halaman 3
Seorang pangeran kaya datang meminangnya dengan kapal penuh hadiah. Tetapi putri segera tahu, sang pangeran hanya membicarakan emas: emas putri, emas kerajaan, emas untuk mas kawin. Hati putri menjadi ragu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Jika aku menikah denganmu, apa yang paling kau sayangi?" tanya sang putri. Pangeran menjawab cepat, "Tentu peti-peti emasmu yang terkenal itu!" Putri menghela napas panjang. Kini ia tahu isi hati pangeran itu.
Halaman 5
Sang putri mengajak pangeran berlayar di sungai. Di atas lubuk yang paling dalam, ia membuka peti perhiasannya. "Lihatlah baik-baik," katanya, lalu menuangkan semua emas itu ke dalam air. Byurrr!
Halaman 6
Kepingan emas berkilauan tenggelam ke dasar lubuk. "Jika yang kau sayangi emas, ambillah dari sungai ini," kata putri dengan tenang. "Tetapi aku bukan emas. Aku ingin disayangi sebagai manusia."
Halaman 7
Pangeran terdiam malu. Ia pulang ke negerinya dengan kapal kosong dan sebuah pelajaran berharga. Sedangkan sang putri kembali ke kampungnya. "Selamat datang, Putri kami!" sambut rakyat yang menyayanginya dengan tulus.
Halaman 8
Putri itu hidup bahagia. Ia tetap sederhana, rajin menolong, dan kelak menikah dengan orang yang menyayanginya dengan tulus, bukan karena harta. Rakyat pun semakin menghormatinya.
Halaman 9
Konon, emas sang putri masih tersimpan di dasar lubuk. Saat matahari condong, airnya berkilau keemasan. Orang menamainya Lubuk Emas, pengingat bahwa hati yang tulus lebih berharga daripada emas.
Halaman 10
Malam turun di atas sungai yang tenang. Kilau emas tertidur di dasar lubuk, dan bintang-bintang berkilau menggantikannya di langit. Kamu disayangi apa adanya. Pejamkan matamu. Sampai bertemu di mimpi yang indah.
Legenda ini berasal dari daerah Batu Bara di pesisir timur Sumatera Utara, tepi Selat Malaka. Lubuk adalah bagian sungai yang paling dalam dan tenang — dan lubuk dalam cerita ini dipercaya menyimpan emas seorang putri yang memilih harga diri daripada perhiasan.
Batu Bara sendiri nyata dan punya warisan indahnya: negeri pesisir Melayu yang terkenal dengan tenun songketnya. Sedangkan pelajaran ceritanya tidak berkarat oleh waktu — sang putri menuang semua emasnya ke sungai untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan barang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kalimat kunci sang putri layak dibacakan pelan: "Aku bukan emas. Aku ingin disayangi sebagai manusia." Bahan ngobrol: apa yang membuat seseorang berharga — barang-barangnya atau hatinya? Dan bagaimana kita tahu seseorang menyayangi kita dengan tulus?
Ketulusan hati lebih berharga daripada emas dan harta.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.