

Halaman 1
Masih ingat Buaya Learissa, penjaga sungai di Pulau Haruku? Setelah menolong buaya-buaya Seram mengusir ular raksasa, ia bersiap pulang. Namun sahabat-sahabatnya di Seram tidak mau melepasnya dengan tangan kosong.

Halaman 2
“Learissa, terimalah hadiah kami,” kata buaya tertua Seram. “Kawanan ikan kecil berkilau ini akan ikut berenang bersamamu. Namanya ikan lompa dan ikan make. Peliharalah di sungaimu, untuk bekal anakmu kelak.”
Halaman 3
Maka berangkatlah Learissa mengarungi laut. Di belakangnya, ribuan ikan lompa berenang seperti pita perak yang panjang. Perjalanan itu jauh dan melelahkan, tetapi Learissa berenang pelan-pelan sambil menjaga kawanannya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di tengah jalan, sebagian ikan tertinggal di teluk bernama Passo. “Tidak apa-apa,” kata Learissa lembut. “Tinggallah di sini. Jadilah rezeki untuk orang Passo.” Kawanan yang lain terus mengikutinya ke Haruku.
Halaman 5
Sampai di Haruku, Learissa beristirahat di muara sungai. Di air yang tenang itu lahirlah anaknya. Ikan-ikan lompa pun menari berkeliling, menyambut bayi buaya kecil itu. Penduduk menonton dari tepian dengan takjub.
Halaman 6
Sejak itu, setiap tahun ikan lompa datang berkelimpahan di muara Sungai Learissa Kayeli. Ribuan ekor, berkilau seperti bintang yang jatuh ke air. Penduduk Haruku gembira, tetapi mereka juga berpikir jauh ke depan.
Halaman 7
Para tetua kampung membuat kesepakatan bernama sasi, aturan adat untuk menjaga alam. “Selama ikan masih kecil, tak seorang pun boleh menangkapnya,” kata mereka. “Kita tunggu bersama-sama sampai waktunya tiba.”
Halaman 8
Menunggu itu tidak mudah. Anak-anak sering berdiri di tepi sungai memandang ikan yang berkilauan. “Sabar,” kata nenek mereka sambil tersenyum. “Ikan yang dijaga baik-baik akan tumbuh banyak dan besar.”
Halaman 9
Akhirnya tibalah hari sasi dibuka. Gong berbunyi! Seluruh kampung turun ke muara dengan jala dan bakul. Semua mendapat bagian, dan yang pertama dibagi adalah para nenek, kakek, dan anak-anak. Semua pulang dengan hati senang.
Halaman 10
Begitulah hadiah Learissa terus hidup sampai sekarang. Malam ini, bayangkan pita perak ikan lompa berenang pelan di air yang tenang. Ikuti mereka dengan matamu yang terpejam... pelan... pelan... dan tidurlah.
Ini kelanjutan kisah Buaya Learissa Kayeli, masih dari Pulau Haruku di Maluku Tengah — bacalah keduanya berurutan. Legenda ikan lompa termasuk cerita Haruku yang paling hidup: kawanan ikan kecil itu dipercaya sebagai hadiah yang dibawa Learissa dari Seram, sebagian tertinggal di Teluk Passo, sisanya menetap di muara sungai Haruku.
Jangkarnya adalah sasi, kesepakatan adat Maluku untuk menjaga alam — dan itu bukan dongeng: di negeri Haruku, sasi ikan lompa benar-benar dijalankan sampai sekarang. Selama sasi ditutup, ikan dibiarkan tumbuh; hari buka sasi menjadi perayaan besar, seluruh kampung turun ke muara bersama-sama.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua, Learissa mati kelelahan di akhir perjalanannya; versi kami membiarkannya beristirahat dan membesarkan anaknya. Bahan obrolan: menunggu itu sulit — tanyakan pada anak apa yang pernah ia tunggu lama-lama, dan mengapa hasil yang ditunggu bersama terasa lebih manis.
Alam yang dijaga bersama dengan sabar akan memberi rezeki berlimpah untuk semua.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.