

Halaman 1
Di perbatasan Sumatra bagian selatan, terhampar Danau Ranau yang luas dan tenang. Di tepinya berdiri Gunung Seminung yang gagah. Konon, dahulu kala di tempat itu belum ada danau maupun gunung.

Halaman 2
Dahulu, lembah itu dilanda kemarau panjang. Sungai kering, sumur kering, dan orang-orang harus berjalan jauh sekali demi seember air. Para tetua pun berkumpul untuk mencari jalan keluar bersama.
Halaman 3
Dalam tidurnya, seorang tetua mendengar suara lembut, "Carilah pohon ara raksasa di tengah lembah. Di bawah akarnya tersimpan mata air yang tidak pernah habis." Paginya, ia menceritakan mimpi itu kepada warga.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Warga mencari ke tengah lembah. Benar saja, berdirilah pohon ara raksasa. Batangnya besar sekali, pucuknya seakan menembus awan. "Di bawah akar pohon inilah mata air itu," kata sang tetua dengan yakin.
Halaman 5
Bergotong royong, warga bekerja berhari-hari membuka tanah di sekitar akar pohon itu. Kapak kecil silih berganti diayun. Anak-anak mengantar makanan, ibu-ibu membawa minuman. "Ayo, sedikit lagi!" seru mereka bersemangat.
Halaman 6
Akhirnya pohon raksasa itu rebah perlahan-lahan. Dari bekas akarnya, menyemburlah air jernih yang sangat deras! "Air! Airnya keluar!" sorak warga gembira. Air terus mengalir, mengisi lembah sedikit demi sedikit, menjadi danau yang luas dan biru.
Halaman 7
Batang pohon raksasa yang rebah itu lama-kelamaan berubah menjadi gunung yang berdiri kokoh di tepi danau. Orang-orang menamainya Gunung Seminung, penjaga danau yang setia sampai sekarang.
Halaman 8
Di sekitar danau tumbuh banyak tumbuhan ranau, sejenis rumput air. Karena itulah danau ini dinamai Danau Ranau. Konon, di dalam airnya tinggal seekor naga baik hati yang menjaga air danau tetap jernih.
Halaman 9
Sejak itu, lembah menjadi subur. Warga menanam padi dan kopi, anak-anak berenang riang di tepi danau. Semua itu berkat kerja sama seluruh kampung yang tidak menyerah saat kesulitan datang.
Halaman 10
Malam turun di Danau Ranau. Gunung Seminung berdiri tenang menjaga air yang memantulkan bulan. Sang naga pun tertidur nyenyak di dasar danau. Biarkan malam yang tenang menjagamu. Tidurlah.
Legenda ini menjelaskan asal dua tetangga yang tidak terpisahkan: Danau Ranau dan Gunung Seminung. Yang menarik, ini bukan kisah kutukan — danau lahir dari gotong royong seluruh kampung yang mencari air di musim kemarau, dan pohon ara raksasa yang rebah menjadi gunung penjaganya.
Keduanya nyata dan bisa ditemukan di peta: Danau Ranau terhampar di perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung, dengan Gunung Seminung berdiri tepat di tepinya. Nama danau berasal dari tumbuhan ranau, sejenis rumput air yang dulu banyak tumbuh di sekitarnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun, termasuk yang paling kecil — naga di dasar danau pun baik hati dan ikut tidur di akhir cerita. Bahan ngobrol: masalah besar selesai karena semua orang ikut membantu, dari tetua sampai anak pengantar makanan. Tanyakan: kamu mau jadi yang mana di kampung itu?
Kerja sama dan gotong royong dapat mengatasi kesulitan yang besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.