

Halaman 1
Dahulu di ujung timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan kecil. Patihnya yang gagah bernama Sidapaksa. Istrinya, Sri Tanjung, lembut hatinya dan disayangi penduduk. Keduanya hidup rukun dan bahagia.

Halaman 2
Suatu hari raja mengutus Sidapaksa ke gunung yang jauh untuk sebuah tugas penting. “Tunggulah aku, aku pasti pulang,” kata Sidapaksa. Sri Tanjung mengangguk dan setia menunggu sambil menenun di rumah.
Halaman 3
Di istana ada seorang menteri yang iri kepada Sidapaksa. Ketika sang patih pulang, menteri itu berbisik, “Selama kau pergi, istrimu tidak setia menunggumu. Ia hendak pergi meninggalkanmu.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sidapaksa pulang dengan hati keruh. “Benarkah kau hendak meninggalkanku?” tanyanya dengan suara keras. Sri Tanjung menggeleng sedih. “Aku menunggumu setiap hari. Tapi kulihat hatimu sudah termakan kabar bohong.”
Halaman 5
Sri Tanjung lalu berkata tenang, “Mari ke sungai. Biarlah air menjadi saksiku. Jika aku bersalah, air akan menjadi keruh dan berbau. Jika aku jujur, air akan menjadi harum seperti bunga.”
Halaman 6
Penduduk berkumpul di tepi sungai. Sri Tanjung melangkah masuk ke air yang dingin, lalu membasuh selendangnya perlahan. Semua orang menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi pada sungai itu.
Halaman 7
Tiba-tiba angin lembut bertiup. Seluruh sungai berbau harum seperti taman bunga! Orang-orang berseru, “Banyu wangi! Airnya wangi!” Sri Tanjung tersenyum, dan matanya berkaca-kaca karena lega.
Halaman 8
Sidapaksa berlutut di tepi sungai. “Maafkan aku. Aku percaya pada kabar bohong dan tidak bertanya dulu kepadamu.” Menteri yang iri pun mengaku salah sambil menunduk malu di depan semua orang.
Halaman 9
Sri Tanjung memaafkan suaminya, dan mereka hidup rukun kembali. Tempat itu lalu dinamai Banyuwangi, kota air yang harum. Konon sampai kini angin sungainya masih membawa wangi yang lembut.
Halaman 10
Malam ini bayangkan angin Banyuwangi yang harum itu berembus pelan lewat jendelamu. Tarik napas dalam-dalam... embuskan perlahan. Badanmu ringan, hatimu tenang. Selamat tidur, sampai pagi.
Legenda Sri Tanjung adalah cerita asal nama Banyuwangi, kabupaten di ujung paling timur Pulau Jawa. Namanya berasal dari dua kata Jawa: banyu berarti air, wangi berarti harum — "air yang harum", kenangan akan sungai yang berbau bunga sebagai saksi kejujuran seorang istri.
Banyuwangi mudah ditemukan di peta bersama anak: dari pelabuhannya kapal-kapal feri menyeberang ke Bali, dan dari kotanya orang berangkat mendaki Kawah Ijen yang terkenal. Kini anak Anda tahu cerita di balik nama yang harum itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Perlu jujur: versi-versi lama legenda ini jauh lebih keras terhadap Sri Tanjung, dan keharuman air muncul sebagai bukti setelah semuanya terlambat. Versi kami berhenti pada ujian air yang berakhir baik — tidak ada yang terluka. Bahan ngobrolnya tetap sama kuatnya: Sidapaksa percaya pada bisikan orang iri tanpa bertanya kepada istrinya. Tanyakan pada anak: kalau mendengar cerita buruk tentang teman, apa yang sebaiknya dilakukan lebih dulu?
Jangan langsung percaya kabar buruk tentang orang lain; tanyakan dulu kepada orangnya dengan hati yang tenang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.