

Halaman 1
Musim buah tiba di hutan. Pohon-pohon penuh buah masak. "Ayo kita mengadakan pesta!" usul Kancil. "Pesta panen di bawah bulan purnama!" Hewan-hewan bersorak setuju. Semua langsung sibuk menyiapkan pesta besar.

Halaman 2
Monyet memetik pisang dan rambutan. Gajah mengangkut daun-daun pisang untuk alas duduk. Burung-burung berlatih bernyanyi. Katak-katak menyiapkan irama. Semut merapikan jalan ke tanah lapang. Sibuk dan gembira!
Halaman 3
Tapi ada satu nama yang tidak disebut-sebut. Harimau. "Jangan undang dia," bisik Monyet. "Nanti pestanya bubar karena takut." Hewan lain mengangguk. Diam-diam, dari balik semak, Harimau mendengar semuanya. Ia pergi dengan kepala tertunduk.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kancil melihat Harimau pergi. Ia berpikir sebentar, lalu mengejarnya. "Harimau! Tunggu!" Harimau menoleh. "Untuk apa? Aku tidak diundang. Semua takut padaku," katanya pelan. "Dulu aku suka menakut-nakuti. Sekarang aku... sendirian."
Halaman 5
"Justru itu aku mengejarmu," kata Kancil. "Pesta belum lengkap tanpa kamu. Dan aku punya tugas istimewa yang hanya bisa dilakukan olehmu." Mata Harimau berbinar sedikit. "Tugas? Tugas apa?" "Datang saja nanti malam. Kamu akan tahu."
Halaman 6
Kancil kembali dan berbicara kepada semua. "Teman-teman, Harimau sudah lama berubah. Ia belajar lembut. Kalau kita terus menjauhinya, kapan ia punya teman?" Hewan-hewan saling pandang. Gajah mengangguk lebih dulu. "Kita beri kesempatan."
Halaman 7
Malam purnama tiba. Tanah lapang terang oleh cahaya bulan dan kunang-kunang. Harimau datang dengan langkah ragu-ragu. "Selamat datang!" seru Kancil. "Ini tugasmu: aummu yang dahsyat itu, jadikan tanda pesta dimulai!" Semua menunggu.
Halaman 8
Harimau menarik napas dalam-dalam. "AUUUM!" Auman itu menggema ke seluruh hutan. Bukan auman yang menakutkan, tapi auman gagah seperti gong raksasa. "Pesta dimulaaai!" sorak hewan-hewan. Musik mengalun, buah-buahan pun dibagikan.
Halaman 9
Malam itu hutan penuh tawa. Burung bernyanyi, katak menabuh irama, monyet menari sampai terguling. Harimau duduk di tengah, dikelilingi teman-teman barunya. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum lebar. Tidak ada lagi yang sendirian.
Halaman 10
Larut malam, pesta usai. Bulan purnama menggantung rendah, kunang-kunang meredup satu-satu. Hewan-hewan tertidur di sana-sini, kenyang dan bahagia. Pestanya sudah selesai, harimu juga. Selamat tidur, dan bermimpilah yang indah ya.
Pesta panen di bawah bulan purnama bukan khayalan belaka: di berbagai daerah Nusantara, panen memang dirayakan bersama — hasil kebun dikumpulkan, makanan dibagikan, ada musik dan tarian. Cerita ini menaruh tradisi syukur panen itu ke dalam dunia kancil, lalu menambahkan pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang tidak ikut diundang?
Arah ceritanya istimewa untuk siklus kancil: Harimau yang dulu ditakuti kini kesepian, dan Kancil bukan menipunya, melainkan merangkulnya — memberi peran, bukan sekadar undangan. Auman yang dulu menakutkan berubah menjadi gong pembuka pesta. Tunjukkan pada anak bulan purnama di langit malam; itulah lampu pesta di cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Obrolan yang berharga: adakah teman yang sering tidak diajak bermain? Kadang yang ia butuhkan bukan sekadar diundang, melainkan diberi tugas — supaya merasa berguna. Resep Kancil bisa ditiru: beri kesempatan, mulai dari yang kecil.
Jangan biarkan siapa pun sendirian: memberi kesempatan dan mengajak serta adalah hadiah terbaik.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.