

Halaman 1
Di hutan ada sebuah sumur tua. Airnya dalam dan tenang. Tidak jauh dari sana tinggal Harimau. Setiap hari ia mengaum keras. "Akulah yang paling kuat di hutan ini!" Hewan-hewan kecil pun takut mendekat.

Halaman 2
Suatu hari Harimau menghadang Kancil di jalan. "Kancil! Katakan: siapa yang paling kuat di hutan ini?" Kancil berpikir sebentar. Lalu ia menjawab tenang, "Maaf, Harimau. Ada satu yang lebih kuat darimu. Ia tinggal di dalam sumur tua."
Halaman 3
"Apa?!" Harimau melotot. "Tidak mungkin! Antarkan aku ke sana!" Kancil berjalan di depan, Harimau mengikuti sambil mengaum-aum. Sampailah mereka di sumur tua itu. "Ia ada di bawah," kata Kancil. "Coba saja lihat sendiri."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Harimau menjulurkan kepala ke dalam sumur. Di air yang tenang, ada wajah harimau menatapnya! "Siapa kamu?" bentak Harimau. Suaranya menggema, "...kamu... kamu... kamu!" Harimau kaget. "Berani sekali dia menirukan aku!"
Halaman 5
Harimau memamerkan giginya. Harimau di dalam air ikut memamerkan gigi. Harimau mengangkat cakarnya tinggi-tinggi. Yang di bawah juga! "Grrr!" aumnya. "GRRR!" jawab sumur, lebih keras. Bulu Harimau berdiri semua.
Halaman 6
"Dia... dia memang hebat," kata Harimau, lututnya gemetar. "Baiklah! Mulai hari ini aku tidak akan sombong lagi!" Ia pergi cepat-cepat, ekornya turun ke bawah. Kancil menahan tawa sampai perutnya sakit.
Halaman 7
Sejak hari itu Harimau jarang sekali membentak hewan kecil. Kalau ingin mengaum keras-keras, ia teringat harimau sumur, lalu menutup mulutnya sendiri. Di sekitar sumur tua, hewan-hewan pun bisa bermain dengan tenang.
Halaman 8
Suatu sore Gajah bertanya, "Kancil, siapa sebenarnya yang tinggal di sumur itu?" Kancil mengedipkan mata. "Rahasia," katanya sambil tersenyum. "Yang penting, sekarang hutan kita damai, dan tidak ada yang ditakut-takuti lagi."
Halaman 9
Malam itu hutan sunyi dan damai. Tidak ada auman, hanya jangkrik yang bernyanyi. Harimau tidur melingkar seperti kucing besar. Kancil terlelap di rumput yang empuk. Sekarang giliranmu. Pejamkan mata, dan tidurlah yang lelap ya.
Kisah raja hutan yang dikalahkan bayangannya sendiri adalah pengembara ulung: ia dikenal dari Panchatantra, kumpulan fabel India kuno, sebagai cerita singa dan kelinci di sumur. Bersama para pedagang dan pencerita, kisah-kisah India semacam ini berlayar sampai Nusantara dan menyatu dengan siklus Kancil — kelinci digantikan pelanduk cerdik, dan singa menjadi harimau.
Ada dua keajaiban alam dalam cerita ini yang bisa dicoba anak di rumah: pantulan wajah di permukaan air yang tenang — cukup baskom berisi air — dan gema yang "menirukan" suara di ruang kosong atau lorong. Setelah mencoba sendiri, anak akan mengerti rahasia sumur tua itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi kuno, singa yang marah melompat ke dalam sumur menyerang bayangannya — dan tamat. Versi kami jauh lebih lembut: Harimau hanya ketakutan, lalu berhenti menyombongkan diri. Obrolan: kenapa bayangan selalu meniru kita? Dan apa bedanya kuat dengan sombong?
Yang suka menakut-nakuti akhirnya takut pada bayangannya sendiri; hutan damai bila tidak ada yang sombong.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.