

Halaman 1
Di tepi hutan ada sebuah kebun. Kebun itu milik Pak Tani. Isinya mentimun yang segar dan manis. Kancil, pelanduk kecil yang cerdik, lewat di sana. Perutnya berbunyi. "Wah, harum sekali mentimun itu," bisiknya.

Halaman 2
Kancil tahu kebun itu ada pemiliknya. Tapi perutnya lapar sekali. "Ambil satu saja, tidak apa-apa," pikirnya. Ia menyelinap masuk lewat celah pagar. Kraus, kraus! Satu mentimun habis. Lalu dua. Lalu tiga.
Halaman 3
Esok paginya Pak Tani datang. Ia terkejut melihat kebunnya. "Aduh, mentimunku hilang lagi!" serunya sedih. "Padahal mau kubawa ke pasar." Pak Tani lalu membuat orang-orangan sawah dan melumurinya dengan getah yang lengket.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malamnya Kancil datang lagi. Ia melihat orang-orangan itu. "Hai, kamu siapa? Kok diam saja?" tanyanya. Orang-orangan tentu tidak menjawab. Kancil kesal dan mendorongnya. Lengket! Kakinya menempel di getah dan tidak bisa lepas.
Halaman 5
Pagi-pagi Pak Tani menemukan Kancil. "Jadi kamu pencuri mentimunku!" katanya. Kancil menunduk malu. Pak Tani membawanya pulang dan menaruhnya di kandang. "Besok akan kupikirkan hukumanmu," kata Pak Tani.
Halaman 6
Malam itu Kancil tidak bisa tidur. Ia teringat wajah sedih Pak Tani. "Pak Tani bekerja keras menanam mentimun. Aku mengambilnya begitu saja. Aku salah," bisiknya. Ia ingin sekali minta maaf.
Halaman 7
Pagi harinya Kancil memanggil Pak Tani. "Pak, maafkan aku. Aku lapar, tapi mencuri itu tetap salah. Aku mau mengganti mentimun Bapak dengan bekerja." Pak Tani menatap Kancil lama sekali. Lalu ia membuka pintu kandang.
Halaman 8
"Baiklah, Kancil. Semua bisa keliru. Yang penting mau memperbaiki," kata Pak Tani. Sejak itu Kancil bekerja di kebun. Ia mengusir burung yang mematuk bibit. Ia menunjukkan celah pagar yang bolong supaya ditutup.
Halaman 9
Saat panen tiba, kebun Pak Tani penuh mentimun. "Ini untukmu, Kancil. Ini pemberian, bukan curian," kata Pak Tani sambil tersenyum. "Terima kasih, Pak!" seru Kancil. Mentimun pemberian ternyata terasa jauh lebih manis.
Halaman 10
Sore itu Kancil pulang ke hutan dengan hati ringan. Ia berbaring di bawah pohon, kenyang dan senang. Angin bertiup pelan, daun-daun berbisik. Seperti Kancil, tidurlah dengan hati yang tenang. Selamat tidur, mimpi indah ya.
Kancil Mencuri Timun adalah kisah kancil yang paling dikenal di Indonesia — hampir setiap orang dewasa mengenalnya sejak kecil, dari dongeng sebelum tidur, buku sekolah, sampai lagu anak "Si Kancil Anak Nakal" yang menyebut kancil suka mencuri ketimun. Kebun Pak Tani dan orang-orangan sawah yang lengket adalah pintu masuk klasik ke seluruh dunia Sang Kancil.
Jangkar dunia nyata mudah dicari: mentimun ada di pasar dan dapur mana saja. Ajak anak melihat orang-orangan sawah bila lewat area persawahan, atau nyanyikan lagu Si Kancil bersama — lalu bandingkan dengan kelanjutan cerita versi kita.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi lama, Kancil biasanya lolos dengan menipu anjing penjaga. Versi kami memilih jalan lain: Kancil menyesal, minta maaf, dan mengganti mentimun dengan bekerja, sampai Pak Tani berkata "ini pemberian, bukan curian". Obrolan yang pas: mengaku salah itu berat, tapi memperbaiki kesalahan membuat hati ringan.
Mengambil milik orang lain itu salah, dan kesalahan bisa diperbaiki dengan kejujuran serta kerja keras.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.