

Halaman 1
Di tengah hutan tumbuh pohon mangga yang besar. Buahnya lebat dan harum. Suatu pagi terdengar suara ribut. "Ini manggaku!" teriak Monyet. "Bukan, ini manggaku!" balas Tupai. Hewan-hewan pun datang menonton.

Halaman 2
Monyet berkacak pinggang di atas dahan. "Aku yang tinggal di pohon ini. Jadi semua buahnya milikku!" Tupai tidak mau kalah. "Tapi mangga ini jatuh di depan sarangku. Yang jatuh ke tanah milikku!" Mereka bertengkar makin keras.
Halaman 3
"Panggil saja Kancil," kata Kerbau. "Ia cerdik dan adil." Maka datanglah Kancil, pelanduk kecil yang cerdik. Ia mendengarkan Monyet. Ia mendengarkan Tupai. Lalu ia berjalan mengelilingi pohon mangga sambil berpikir.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Aku mau bertanya," kata Kancil. "Monyet, siapa yang menanam pohon ini?" Monyet menggaruk kepala. "Ti... tidak tahu. Pohon ini sudah ada sejak aku kecil." "Tupai, siapa yang menyiramnya setiap hari?" Tupai menunduk. "Hujan..."
Halaman 5
Kancil mengangguk. "Jadi pohon ini tumbuh dari tanah hutan, disiram hujan, dan disinari matahari. Pohon ini bukan milik Monyet, bukan milik Tupai. Pohon ini milik hutan, artinya milik kita semua."
Halaman 6
Monyet dan Tupai saling pandang, malu. Kancil melanjutkan, "Mangga di dahan boleh dipetik Monyet, karena ia pandai memanjat. Mangga yang jatuh boleh diambil Tupai dan siapa saja. Tapi petiklah secukupnya, sisakan untuk yang lain."
Halaman 7
"Satu lagi," kata Kancil sambil tersenyum. "Setiap habis makan mangga, tanamlah bijinya. Supaya hutan punya pohon mangga baru, dan semua tetap kebagian sampai nanti." "Setuju!" seru hewan-hewan bersama-sama.
Halaman 8
Monyet memetik mangga yang paling matang dan memberikannya kepada Tupai. "Maafkan aku, sahabat. Kita berbagi, ya." Tupai tersenyum lebar. "Maafkan aku juga. Bertengkar itu melelahkan, berbagi jauh lebih enak."
Halaman 9
Siang itu semua hewan makan mangga bersama di bawah pohon. Manis dan segar! Kancil menanam biji yang pertama. Tupai menggali lubang kecil, Monyet menimbunnya dengan tanah. "Tumbuhlah yang tinggi, ya," bisik mereka.
Halaman 10
Malam tiba di hutan. Kenyang dan rukun, hewan-hewan pulang ke rumah masing-masing. Di bawah pohon mangga, biji kecil tidur di dalam tanah yang hangat. Kamu juga, ya. Berbaringlah yang nyaman, dan biarkan mimpi datang menjemputmu.
Dalam banyak cerita Melayu, Sang Kancil bukan hanya penipu yang lincah — ia juga sering diminta menjadi hakim yang mendamaikan sengketa penghuni hutan. Dari peran inilah lahir julukan "si kancil" yang sampai sekarang dipakai untuk menyebut orang yang cerdik dan banyak akal. Sengketa pohon mangga dalam versi kami ditulis khusus untuk seri ini, mengikuti pola pengadilan Kancil yang klasik.
Jangkar nyatanya: mangga! Saat musim mangga tiba dan buah bergelantungan di pohon-pohon halaman, mudah sekali menghidupkan cerita ini. Dan keputusan sang hakim bisa langsung dipraktikkan: sehabis makan mangga, tanam bijinya bersama anak di pot atau halaman, lalu rawat tunasnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Keputusan hakim Kancil menarik dibicarakan: pohon itu bukan milik Monyet atau Tupai, tapi milik bersama, dan pembagian mengikuti kemampuan masing-masing. Obrolan: apa saja di rumah kita yang "milik bersama"? Bagaimana membaginya dengan adil?
Hakim yang baik itu adil: alam adalah milik bersama, dan berbagi lebih baik daripada bertengkar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.