

Halaman 1
Pagi itu Kancil minum di tepi sungai. Ia melihat seekor siput merayap pelan. "Hai, Siput. Jalanmu lambat sekali!" kata Kancil sambil tertawa. "Aku bisa lari ke hilir dan kembali sebelum kamu sampai ke batu itu."

Halaman 2
Siput kecil itu tersenyum. "Jangan sombong, Kancil. Lambat bukan berarti kalah," katanya. "Bagaimana kalau kita berlomba lari sampai muara, tempat sungai berakhir?" Kancil terbahak. "Baik! Besok pagi kita berlomba. Kamu pasti kalah!"
Halaman 3
Malamnya Siput mengumpulkan semua saudaranya. "Kancil perlu belajar rendah hati," katanya. "Berbarislah di sepanjang tepi sungai. Kalau ia memanggil, yang paling depan harus menjawab." Siput-siput mengangguk setuju.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Pagi harinya lomba dimulai. "Satu, dua, tiga!" Kancil melesat seperti angin. Setelah berlari jauh, ia berseru, "Siput, kamu di mana?" Dari depan terdengar suara kecil, "Aku di sini, Kancil! Di depanmu!"
Halaman 5
Kancil terkejut. Ia berlari makin kencang. "Siput, di mana kamu?" "Di sini, di depanmu lagi!" Begitu terus sepanjang sungai. Kaki Kancil mulai lelah. Napasnya tersengal-sengal. Kok bisa siput selalu di depan?
Halaman 6
Sampai di muara, Kancil terkulai lemas. Di atas batu, seekor siput sudah menunggu. "Selamat datang, Kancil," katanya ramah. "Kamu... menang?" Kancil hampir tidak percaya. Ia menunduk. "Aku kalah. Padahal aku yang paling cepat."
Halaman 7
Siput-siput lalu keluar dari balik batu dan daun. Banyak sekali! "Maafkan kami. Kami menjawab bergantian," kata Siput. "Kami hanya ingin menunjukkan sesuatu: yang kecil bisa menang kalau bersatu, dan yang cepat bisa kalah kalau sombong."
Halaman 8
Kancil tertawa. Ia tidak marah sama sekali. "Kalian hebat! Aku yang salah karena mengejek," katanya. "Terima kasih atas pelajarannya." Sejak hari itu Kancil tidak pernah lagi menghina hewan yang kecil dan lambat.
Halaman 9
Sore turun di tepi sungai. Kancil dan para siput duduk bersama memandang air yang tenang. Semua lelah, semua senang. Matamu pasti sudah berat seperti mata Kancil. Selamat tidur, sampai jumpa besok pagi.
Perlombaan Kancil dan siput masih satu keluarga dengan "Kura-kura dan Kelinci" dari fabel Aesop — tetapi versi Nusantara punya bumbunya sendiri: siput menang bukan sendirian, melainkan lewat kerja sama, berbaris di sepanjang sungai dan menjawab bergantian. Dongeng tentang hewan lambat yang mengalahkan pelari sombong ternyata tumbuh di banyak budaya dunia.
Cerita ini juga memperlihatkan sisi lain siklus Kancil: si cerdik tidak selalu menang — kali ini ia sendiri yang kena pelajaran karena mengejek. Jangkar dunia nyatanya gampang: cari siput sungguhan di halaman atau sawah sehabis hujan, amati bersama betapa pelannya ia berjalan, lalu ingat bahwa di cerita justru dialah pemenangnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Enaknya, Kancil menerima kekalahan sambil tertawa dan berterima kasih — contoh sportif yang jarang ada di dongeng. Obrolan: pernahkah kamu mengejek yang lebih lambat? Dan apa yang bisa dilakukan makhluk-makhluk kecil kalau mereka bersatu?
Jangan sombong dan jangan mengejek: kerja sama membuat yang kecil menjadi kuat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.