

Halaman 1
Musim kemarau datang terlalu lama. Hujan tidak turun berbulan-bulan. Rumput menguning. Tanah retak-retak. Sungai yang dulu deras kini tinggal genangan kecil. Hewan-hewan hutan mulai kehausan.

Halaman 2
Di genangan terakhir itu, hewan-hewan mulai berebut. "Aku dulu!" "Tidak, aku!" Buaya menjaga air dengan galak. "Ini rumahku, berarti ini airku!" Suasana panas seperti udaranya. Kancil tahu, bertengkar tidak akan menurunkan hujan.
Halaman 3
"Teman-teman!" seru Kancil. "Air ini akan habis kalau terus diperebutkan. Kita harus mencari mata air baru. Sekarang!" "Mencari di mana? Semua kering!" keluh Monyet. Kancil menunjuk ke arah lembah. "Alam selalu memberi petunjuk. Ikut aku."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kancil berjalan paling depan, matanya awas. "Lihat! Capung-capung terbang ke sana. Capung selalu tinggal dekat air," katanya. Mereka mengikuti capung. Di kaki bukit, pepohonan terlihat lebih hijau. "Daun yang hijau berarti tanahnya basah!"
Halaman 5
Kancil mengendus tanah di antara batu. Lembap! "Di sini! Ayo menggali!" Gajah menggali dengan kaki depannya. Kerbau mendorong batu dengan tanduknya. Monyet dan tupai menyingkirkan kerikil. Kancil memberi aba-aba. Semua ikut bekerja.
Halaman 6
Lama-lama pasir menjadi basah. Lalu... blup! Air jernih menyembur dari sela batu! "Mata air! Kita menemukan mata air!" Hewan-hewan bersorak dan menari-nari. Air dingin mengalir pelan, mengisi cekungan batu menjadi telaga kecil.
Halaman 7
Kancil naik ke atas batu. "Dengar, teman-teman. Air ini milik bersama. Aturannya satu: minum secukupnya, dan yang kecil dapat giliran lebih dulu." Semua setuju. Bahkan Buaya datang dan mengangguk malu-malu. "Boleh aku ikut aturan itu?" "Tentu!"
Halaman 8
Sejak itu setiap pagi hewan-hewan antre dengan tertib. Semut dan siput minum lebih dulu, lalu burung-burung, lalu yang besar-besar. Tidak ada yang berebut lagi. Musim kemarau masih panjang, tapi hutan tidak lagi bertengkar.
Halaman 9
Akhirnya, pada suatu sore, langit menghitam. Angin membawa bau tanah basah. Tes, tes, tes... hujan! Hujan deras yang ditunggu-tunggu! Hewan-hewan berlarian keluar, mandi hujan sambil tertawa-tawa. Sungai pun mengalir kembali.
Halaman 10
Malam itu hujan berubah menjadi gerimis yang lembut. Tik, tik, tik di atas dedaunan, seperti lagu pengantar tidur. Semua hewan terlelap dengan hati sejuk. Dengarkan gerimisnya... pelan-pelan pejamkan matamu. Selamat tidur, ya.
Ini dongeng kancil yang paling dekat dengan kehidupan nyata: Indonesia memang hanya mengenal dua musim, hujan dan kemarau, dan kemarau panjang yang membuat sungai surut serta tanah retak-retak adalah pengalaman yang dikenal banyak kampung. Cerita ini lahir dari keseharian itu — jalan keluarnya bukan sihir, melainkan kecerdikan membaca alam.
Petunjuk yang dipakai Kancil bisa dibicarakan sebagai pengetahuan alam sungguhan: capung memang hidup di dekat air, dan pepohonan yang tetap hijau di musim kering menandakan tanah yang basah. Aturan telaga kecil itu — minum secukupnya, yang kecil lebih dulu — juga bagus dipraktikkan di rumah: hemat air, dahulukan yang lebih membutuhkan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tidak ada tokoh jahat di sini; kesulitan datang dari alam, dan jalan keluarnya kerja sama, bukan berebut. Obrolan: kenapa bertengkar tidak bisa menurunkan hujan? Dan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama saat sesuatu mulai langka?
Dalam masa sulit, bekerja sama dan berbagi lebih menyelamatkan daripada berebut.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.