

Halaman 1
Hari masih pagi. Kancil berjalan-jalan di lereng bukit. Di antara daun-daun lebar, ia melihat sesuatu yang bulat dan besar. Sebuah labu raksasa! Warnanya jingga keemasan. Besarnya melebihi tubuh Kancil sendiri. "Wah! Labu sebesar ini?"

Halaman 2
Monyet turun dari pohon. "Labu emas! Itu pasti labu ajaib!" serunya. "Sembunyikan, Kancil! Kalau hewan lain tahu, kamu harus berbagi." Kancil memandang labu itu lama-lama. Labu sebesar ini... untuk dimakan sendirian?
Halaman 3
Kancil menggeleng. "Justru karena besar, labu ini cukup untuk semua," katanya. "Kalau kumakan sendiri, aku kenyang sehari. Kalau kubagi, seluruh hutan senang sehari. Mana yang lebih ajaib?" Monyet garuk-garuk kepala, bingung.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kancil memanggil teman-temannya. Gajah menggelindingkan labu itu pelan-pelan ke tepi sungai. Kerbau menahannya dengan tanduk. Bruk! Labu raksasa itu terbelah dua tepat di atas daun pisang yang lebar. Harum manis langsung tercium.
Halaman 5
"Silakan, semuanya!" seru Kancil. Hewan-hewan berdatangan. Monyet dapat sepotong, tupai dapat sepotong, para siput mendapat bagian yang lembut, burung-burung mematuk yang manis. Semua kebagian, dan labu itu masih juga bersisa!
Halaman 6
Monyet mengunyah sambil keheranan. "Aneh. Kok makin dibagi, rasanya makin enak, ya?" Kancil tertawa. "Itulah ajaibnya. Makanan yang dibagi rasanya dua kali lebih manis." Tepi sungai riuh oleh tawa dan cerita sampai sore.
Halaman 7
Sebelum pulang, Kancil mengumpulkan biji-biji labu. "Jangan dibuang! Ini bagian paling ajaib," katanya. Ia mengajak teman-temannya menanam biji di sepanjang lereng bukit. Satu lubang kecil untuk satu biji. Hujan pun datang menyirami.
Halaman 8
Musim berganti. Dan lihatlah lereng bukit itu sekarang: penuh daun lebar dan puluhan labu jingga keemasan! "Labu ajaib!" seru Monyet girang. "Bukan labunya yang ajaib," kata Kancil tersenyum. "Berbagi dan menanam, itulah ajaibnya."
Halaman 9
Malam turun di atas bukit labu. Perut kenyang, hati senang, semua hewan pulang ke sarangnya. Bulan bundar menggantung seperti labu emas di langit. Sudah waktunya tidur. Biarkan matamu terpejam perlahan, dan mimpi indah ya.
Cerita labu ini ditulis untuk seri kami dengan resep dongeng rakyat yang tua: ada "benda ajaib", ada rahasia — tetapi seperti dalam banyak dongeng petani Nusantara, keajaibannya ternyata sederhana dan bisa ditiru siapa saja: berbagi, dan menanam kembali bijinya. Tidak ada sihir dalam cerita ini; justru itulah intinya, dan Kancil mengatakannya sendiri di akhir.
Labu kuning mudah ditemukan di pasar Indonesia dan akrab di dapur — dari kolak labu sampai sup. Setelah membaca, praktikkan "keajaibannya" secara nyata: sisihkan biji labu atau biji buah lain, keringkan, tanam di pot bersama anak, lalu rawat sampai daun pertamanya muncul.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kalimat Monyet enak dibongkar bersama: kok makin dibagi rasanya makin enak? Obrolan: apa jadinya kalau labu itu dimakan sendirian? Lalu hitung bersama akhir ceritanya — dari satu labu yang dibagi dan ditanam, lahir puluhan labu baru di lereng bukit.
Berbagi tidak membuat kita kekurangan, justru melipatgandakan kebahagiaan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.