Google PlayApp Store
Sampul cerita Kancil dan Jejak di Lumpur

Kancil dan Jejak di Lumpur

10 halaman3 menit 25 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Pagi itu Pak Tani berteriak dari kebunnya. "Aduh! Ubi-ubiku!" Bedeng ubi berantakan. Tanahnya teraduk-aduk, ubi-ubinya hilang. Belang si anjing penjaga menunduk sedih. "Maaf, Pak. Semalam aku tidak mendengar apa-apa."

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Monyet yang lewat langsung menunjuk. "Pasti Kancil! Dulu ia pencuri mentimun, kan?" Hewan-hewan mulai berbisik-bisik. Kancil terkejut sekali. "Bukan aku! Semalam aku tidur di hutan!" Tapi bisik-bisik makin ramai.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Dada Kancil terasa panas. Dituduh itu tidak enak. Tapi marah-marah tidak akan membuktikan apa-apa. "Baik," kata Kancil tenang. "Kita cari tahu kebenarannya. Pencuri selalu meninggalkan jejak. Ayo periksa bersama-sama."

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Semalam hujan, tanah masih basah. Di dekat bedeng ubi ada lumpur, dan di lumpur ada jejak! Kancil mengamatinya dekat-dekat. "Lihat. Jejak kaki kecil, jarinya panjang. Dan ini, ada garis-garis halus seperti bekas terseret."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Kancil menaruh kakinya di sebelah jejak itu. Beda jauh! "Jejakku seperti titik-titik kecil, bukan begini," katanya. Monyet jadi malu. "Maaf, Kancil. Aku menuduh tanpa melihat dulu." Kancil mengangguk. "Sekarang kita ikuti jejaknya."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Jejak itu keluar lewat kolong pagar, masuk ke hutan, menyusuri semak berduri. Belang mengendus-endus di depan. Jejak berakhir di depan sebuah lubang di bawah akar pohon besar. Semua menahan napas. Siapa yang tinggal di sini?

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Dari lubang itu muncul seekor landak, hewan berduri halus di punggungnya. Ia menggendong ubi kecil. Di belakangnya, tiga anak landak mengintip. "Ma-maafkan kami," kata Ibu Landak. "Anak-anakku lapar sekali. Kami tidak tahu itu kebun Pak Tani."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Pak Tani berjongkok melihat anak-anak landak yang kurus. Hatinya luluh. "Kalau lapar, datanglah lewat depan, jangan malam-malam," katanya. "Ubi di bedeng pojok boleh untuk kalian. Gantinya, bantu aku menggemburkan tanah, ya. Kalian pandai menggali."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sejak itu keluarga landak membantu menggali dan menggemburkan tanah di kebun. Pak Tani berbagi ubi setiap panen. Monyet pun belajar: sebelum menuduh, lihat dulu buktinya. "Jejak tidak pernah bohong," kata Kancil tersenyum.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam kembali ke kebun yang damai. Keluarga landak tidur berdempetan di lubangnya yang hangat, kenyang oleh ubi pemberian. Belang berjaga sambil terkantuk-kantuk. Semua tenang. Sekarang tutuplah matamu. Tidur yang lelap, sampai jumpa besok.

Tentang cerita ini

Penutup seri kancil kami berbentuk cerita detektif — dan itu setia pada watak Sang Kancil dalam tradisi: bukan sekadar penipu, ia sering menjadi pencari kebenaran yang membela pihak yang tertuduh. Yang menarik, kali ini justru Kancil sendiri yang dituduh, sebab reputasi pencuri mentimun dari masa lalunya belum dilupakan penghuni hutan.

Landak yang menjadi "tersangka" sebenarnya adalah hewan sungguhan hutan-hutan Indonesia: pemalu, aktif di malam hari, dan gemar umbi-umbian. Membaca jejak di tanah basah juga keterampilan yang nyata — sehabis hujan, ajak anak mencari jejak di tanah atau lumpur: jejak kucing, ayam, burung — lalu tebak bersama siapa pemiliknya.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kalimat kuncinya layak diingat: jejak tidak pernah bohong — dan Monyet belajar untuk tidak menuduh tanpa bukti. Obrolan: bagaimana rasanya dituduh untuk hal yang tidak kita lakukan? Apa yang dilakukan Kancil alih-alih marah? Periksa dulu, baru bicara.

Untuk orang tua

Pesan moral

Jangan menuduh tanpa bukti: periksa dulu, dan kebenaran akan terlihat.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa yang dituduh mencuri ubi Pak Tani? Mengapa?
  2. Bagaimana Kancil membuktikan bahwa ia tidak bersalah?
  3. Mengapa keluarga landak mengambil ubi dari kebun?
  4. Apa yang dilakukan Pak Tani setelah tahu kebenarannya?
  5. Bagaimana perasaanmu kalau dituduh melakukan sesuatu yang tidak kamu lakukan?

Untuk kelas

bedengmenuduhjejaklumpurlandakmenggemburkanmengendus

Cerita lain: Si Kancil

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.