

Halaman 1
Di rumput tinggi dekat ladang tinggal Ibu Puyuh, burung kecil yang bersarang di tanah. Di sarangnya ada lima butir telur. "Sebentar lagi kalian menetas," bisiknya bahagia. Ia menjaga telur-telurnya siang dan malam.

Halaman 2
Suatu siang tanah bergetar. Serombongan kerbau berjalan lurus ke arah sarang! Ibu Puyuh panik. Kancil melihatnya dan langsung berlari memotong jalan rombongan. "Berhenti! Tolong lewat sebelah sana. Ada sarang telur di rumput ini!"
Halaman 3
Kerbau-kerbau berbelok dengan hati-hati. Sarang itu selamat! "Terima kasih, Kancil," kata Ibu Puyuh terharu. "Kamu penyelamat anak-anakku." Kancil tersenyum. "Sarangmu memang tersembunyi, tapi sahabat harus saling menjaga."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Beberapa hari kemudian, telur-telur menetas. Lima anak puyuh yang lucu! Tepat saat itu, seorang pemburu masuk ke ladang membawa jaring. Dan siapa yang dilihatnya lebih dulu? Kancil, yang sedang tidur siang di bawah semak!
Halaman 5
Pemburu mengendap-endap mendekati Kancil. Jaringnya sudah terangkat tinggi. Ibu Puyuh melihat bahaya itu dari sarangnya. "Kancil pernah menolongku. Sekarang giliranku!" Ia terbang keluar dan hinggap tepat di depan kaki pemburu.
Halaman 6
Ibu Puyuh berpura-pura sayapnya lemas. Ia berjalan terseok-seok di tanah. "Wah, burung puyuh gemuk! Yang ini saja, lebih mudah ditangkap," kata pemburu. Ia meninggalkan Kancil dan mengejar Ibu Puyuh yang berjalan pelan.
Halaman 7
Ibu Puyuh terseok-seok makin jauh dari Kancil, makin jauh juga dari sarangnya. Pemburu terus mengejar. Ketika sudah sangat jauh, Ibu Puyuh mengepakkan sayapnya. Wusss! Ia terbang tinggi ke langit! Pemburu bengong. Jaringnya hanya menangkap angin.
Halaman 8
Suara ribut itu membangunkan Kancil. Ia melihat semuanya dari kejauhan. "Ibu Puyuh menyelamatkanku!" Ia berlari menyambutnya. "Terima kasih, sahabatku. Kamu kecil, tapi keberanianmu besar sekali." Ibu Puyuh tersipu. "Kita kan saling menjaga."
Halaman 9
Sore hari, anak-anak puyuh meringkuk hangat di bawah sayap ibunya. Kancil berbaring tak jauh dari sana, menjaga sahabat kecilnya. Ladang menjadi tenang. Seperti anak puyuh dalam pelukan ibu, tidurlah hangat dan nyenyak dalam selimutmu.
Persahabatan pelanduk dan burung puyuh adalah salah satu kisah saling balas budi yang dikenal dalam tradisi Melayu: dua hewan kecil bergantian menyelamatkan satu sama lain dari bahaya besar. Versi kami setia pada kerangka itu — Kancil menyelamatkan sarang dari rombongan kerbau, lalu Ibu Puyuh menyelamatkan Kancil dari jaring pemburu.
Trik Ibu Puyuh bukan karangan: burung-burung yang bersarang di tanah sungguh punya siasat pura-pura terluka — berjalan terseok seolah sayapnya patah — untuk memancing pemangsa menjauh dari sarang, lalu terbang begitu jaraknya aman. Alam sendiri yang mengajarkan tipuan penuh kasih ini, dan anak akan senang tahu bahwa itu sungguhan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tenangkan pembaca kecil: Ibu Puyuh hanya berpura-pura, ia terbang pergi tanpa terluka, dan pemburu pulang dengan jaring kosong. Obrolan: keberanian tidak diukur dari besar badan — "keberanian kecil" apa yang pernah kamu lakukan untuk temanmu?
Persahabatan sejati adalah saling menjaga; tubuh kecil bukan halangan untuk keberanian besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.