

Halaman 1
Di kotak jahit tinggal sebuah jarum stopal. Jarum stopal adalah jarum besar untuk menambal kaus kaki. Ia merasa dirinya paling penting. "Aku sehalus jarum sulam," katanya bangga. "Lihat saja, badanku ramping dan berkilau."

Halaman 2
Suatu hari, ia dipakai menambal sandal dapur yang tebal. "Aduh, pekerjaan kasar begini!" keluh jarum stopal. Ia ditekan terlalu kuat, dan krak! Ujungnya patah. "Sudah tidak bisa dipakai," kata juru masak sambil menggeleng.
Halaman 3
Untunglah juru masak punya ide. Ia menempelkan setetes lilin merah di ujung jarum yang patah. Lalu jarum itu disematkannya di kerah baju sebagai bros. "Nah, sekarang aku jadi perhiasan!" seru jarum stopal makin sombong.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sepanjang hari jarum stopal berlagak. "Aku bukan jarum biasa," katanya pada jarum peniti di sebelahnya. "Kepalaku merah seperti permata." Peniti hanya tersenyum. "Kepalamu itu lilin, temanku," jawabnya pelan. Jarum stopal pura-pura tidak dengar.
Halaman 5
Waktu juru masak mencuci piring, jarum stopal terlepas dari kerahnya. Plung! Ia jatuh ke bak cuci dan hanyut bersama air ke selokan. "Aku sedang bepergian jauh," katanya pada dirinya sendiri. "Perjalanan memang cocok untuk jarum penting."
Halaman 6
Di selokan, ia berbaring di antara kerikil dan daun basah. Sepotong beling botol berkilau di dekatnya. "Kau pasti berlian, ya?" tanya jarum stopal. "Bukan, aku hanya beling," jawab beling itu jujur. Jarum stopal tetap menganggapnya berlian.
Halaman 7
Suatu hari air hujan datang deras sekali. Beling terbawa arus, dan jarum stopal tinggal sendirian. "Sunyi juga di sini," gumamnya. Untuk pertama kalinya ia merasa kesepian. Ia berbaring memandang langit sempit di atas selokan.
Halaman 8
Tak lama, beberapa anak datang mencari barang di selokan. "Lihat, ada jarum besar!" seru seorang anak. Mereka menaruhnya di dalam cangkang telur yang pecah. Cangkang itu dilepas ke genangan air seperti perahu kecil.
Halaman 9
Perahu cangkang itu terbalik karena kereta yang lewat. Jarum stopal tersangkut di kayu jembatan. Seorang penjahit desa melihat kilaunya. "Wah, jarum ini masih kuat," katanya. "Kuasah ujungnya sedikit, pasti berguna lagi."
Halaman 10
Sejak itu jarum stopal bekerja menambal baju bersama benang. Ia tidak lagi menyombongkan diri, dan justru lebih bahagia. Berguna ternyata lebih menyenangkan daripada terlihat hebat. Nah, letakkan kepalamu di bantal. Selamat tidur, sayangku.
Jarum Stopal yang Sombong memperlihatkan keahlian khas Hans Christian Andersen: menghidupkan benda-benda rumah. Di tangannya, jarum penambal kaus kaki pun punya harga diri, mimpi, dan pelajaran hidup — banyak dongengnya yang bertokoh benda sehari-hari, dan inilah salah satu yang paling jenaka.
Jarum stopal sungguhan dipakai untuk menambal: merapatkan lubang di kaus kaki atau baju dengan benang. Di Indonesia keahlian itu masih hidup — tukang permak dan penjahit keliling menghidupkan kembali baju yang robek. Tunjukkan pada anak sebuah jahitan tambalan: bekas kecil yang justru membuat barang berumur panjang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam buku tua jarum berakhir tergilas di selokan; versi kami memberinya kesempatan kedua lewat tangan penjahit desa — dan justru di situ ia bahagia. Bahan ngobrol: berguna ternyata lebih menyenangkan daripada terlihat hebat. Tanyakan: pekerjaan kecil apa yang membuatmu bangga diam-diam?
Menyombongkan diri tidak membuat kita berharga. Nilai kita datang dari pekerjaan yang kita lakukan dengan baik, sekecil apa pun itu.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.