

Halaman 1
Hans sudah tujuh tahun bekerja pada seorang tuan. Kini ia ingin pulang menemui ibunya. "Kerjamu bagus," kata tuannya. Ia memberi Hans sebongkah emas sebesar kepala. Hans membungkusnya dengan kain dan berangkat dengan gembira.

Halaman 2
Emas itu berat sekali di pundaknya. Seorang penunggang kuda lewat, berderap santai. "Enak sekali naik kuda," pikir Hans. "Mau tukar?" tanya penunggang itu. "Mau!" seru Hans. Emas berpindah tangan, dan Hans naik ke pelana.
Halaman 3
"Hop!" seru Hans. Kuda itu melompat, dan Hans terguling ke rumput. Untung rumputnya tebal. Seorang penggembala membantunya berdiri. "Sapiku tidak pernah melempar siapa pun," katanya, "dan setiap pagi memberi susu." "Ayo tukar!" kata Hans senang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Hans menuntun sapinya di jalan berdebu. Siang itu panas sekali. "Aku akan minum susu segar," pikirnya. Tapi sapi tua itu tak mengeluarkan setetes pun. Hans hanya menghela napas. "Mungkin dia juga kepanasan seperti aku."
Halaman 5
Seorang tukang daging lewat membawa seekor kambing gemuk. "Sapimu sudah tua," katanya. "Kambing ini lebih ringan dan susunya banyak." "Wah, tukar saja!" jawab Hans. Ia berjalan lagi sambil menggandeng tali kambing, bersiul-siul riang.
Halaman 6
Di desa berikutnya, ia bertemu pemuda yang menggendong angsa gemuk. "Angsaku punya bulu yang hangat untuk bantal," katanya. Hans membayangkan tidur di bantal empuk. "Baiklah, kambingku untuk angsamu!" Angsa itu berbunyi, kwek, kwek.
Halaman 7
Menjelang kampung halamannya, Hans melihat tukang asah pisau bekerja. "Pekerjaanku paling menguntungkan," kata tukang asah. "Kau hanya perlu batu asah ini." Hans menukar angsanya dengan dua batu berat. "Sekarang aku bisa kaya!" pikirnya.
Halaman 8
Batu-batu itu makin lama makin berat. Hans berhenti di tepi sumur untuk minum. Ia meletakkan batu di bibir sumur. Kreset! Batu-batu itu tergelincir, byur, dan tenggelam ke dasar sumur. Hans terdiam menatap air yang beriak.
Halaman 9
Lalu ia tertawa. "Pundakku jadi ringan!" serunya. "Aku tidak perlu menyeret apa-apa lagi." Dengan tangan kosong dan hati lapang, Hans berlari pulang. Ibunya membuka pintu dan memeluknya erat. "Akhirnya kau pulang, Nak!"
Halaman 10
Malam itu, mereka makan sup hangat berdua. Hans bercerita panjang lebar, dan ibunya tertawa sampai terbatuk. Ada yang lebih berharga daripada emas, yaitu pulang ke rumah. Tarik selimutmu, dan tidurlah seringan pundak Hans.
Hans yang Beruntung adalah dongeng jenaka Jerman dari kumpulan Grimm, keluarga cerita tukar-menukar yang makin lama makin rugi. Kelucuannya ada pada sudut pandang: setiap kali rugi, Hans justru merasa makin beruntung — dan pulang dengan hati paling ringan.
Rantai tukarnya mudah diingat anak: emas jadi kuda, kuda jadi sapi, sapi jadi kambing, kambing jadi angsa, angsa jadi batu asah — lalu batu pun tenggelam di sumur. Mainkan berantainya sambil mengingat urutan, atau ajak anak menilai: di tukar yang mana Hans paling rugi? Dan kenapa ia tetap tertawa?
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini salah satu dongeng yang hampir tidak kami ubah — akhirnya memang ringan sejak dulu: Hans tiba di rumah dengan tangan kosong dan hati gembira. Bahan ngobrol: kaya itu apa? Bagi Hans, pundak yang ringan dan pelukan ibu lebih berharga daripada bongkahan emas sebesar kepala.
Kebahagiaan bukan pada banyaknya barang, melainkan pada hati yang ringan dan bersyukur.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.