Google PlayApp Store
Sampul cerita Gembala Angsa

Gembala Angsa

10 halaman3 menit 24 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Ada seorang pangeran dari kerajaan kecil. Kerajaannya sederhana, tapi ia punya dua harta istimewa. Yang pertama sebatang pohon mawar yang hanya berbunga lima tahun sekali. Yang kedua seekor burung bulbul yang suaranya paling merdu.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Pangeran ingin melamar putri kaisar. Ia mengirim mawar dan burung bulbul itu sebagai hadiah. "Semoga ia menyukainya," harapnya. Namun putri mencium mawar itu dan berkata, "Ih, ini bunga sungguhan! Aku maunya bunga buatan yang berkilau."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Burung bulbul pun mulai bernyanyi merdu. "Ini burung asli!" keluh putri. "Aku maunya mainan yang bisa diputar." Ia menyuruh keduanya dibawa pergi. Mendengar itu, pangeran berpikir, "Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya ia hargai."

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Pangeran menyamar menjadi anak desa. Ia melamar kerja di istana. "Kami butuh gembala angsa," kata pengurus istana. Maka setiap pagi pangeran menggiring angsa-angsa putih ke kolam. Ia tinggal di gubuk kecil dekat pagar taman.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Di gubuknya, pangeran membuat panci ajaib. Kalau uapnya mengepul, panci itu bernyanyi lagu merdu. Uapnya juga bisa memperlihatkan apa yang sedang dimasak di setiap dapur kota. Berita tentang panci itu cepat sampai ke telinga putri.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Putri datang ke pagar taman bersama dayang-dayangnya. "Aku mau panci itu!" katanya. "Boleh," jawab gembala angsa, "tapi harganya sepuluh keping emas." Putri menyuruh dayangnya membayar, lalu membawa panci ajaib itu ke kamarnya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Beberapa hari kemudian, gembala angsa membuat kerincingan ajaib. Kalau diputar, alat itu memainkan semua lagu di dunia. Putri mendengarnya dan berseru, "Indah sekali! Aku harus punya!" "Harganya seratus keping emas," jawab gembala angsa tenang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Putri membayar diam-diam di balik pagar. Sayang, kaisar melihat semuanya dari jendela menara. Ia turun dengan wajah masam. "Anakku menukar seratus keping emas untuk mainan?" serunya. "Kalian berdua keluar dari istana ini!"

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Di luar gerbang, hujan mulai turun. Gembala angsa membuka topi desanya, dan tampaklah wajah pangeran. "Aku pernah mengirimmu mawar hidup dan burung bulbul," katanya lembut. "Kau menolaknya, tapi mainan berdenting kau beli mahal-mahal."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Putri terdiam lama. "Aku salah," akhirnya ia berkata pelan. Ia pulang dan menanam mawar sungguhan di taman. Setiap sore ia menyiramnya sambil mendengar burung bernyanyi. Sekarang tutup matamu, dengarlah malam yang tenang di luar jendela.

Tentang cerita ini

Gembala Angsa kami adaptasi dari dongeng satir Hans Christian Andersen tentang pangeran yang menyamar menjadi gembala demi mengenal hati seorang putri. Andersen menulisnya sebagai sindiran halus untuk orang yang menghargai barang berkilau melebihi yang hidup dan tulus.

Dua hadiah pembuka kisah ini bisa diulang di rumah: cium setangkai mawar sungguhan, lalu bandingkan dengan bunga plastik. Yang satu harum tetapi akan layu, yang satu awet tetapi tidak pernah hidup — persis pilihan yang keliru diambil sang putri di awal cerita.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Adaptasi kami lebih lembut dari aslinya: dalam buku tua sang pangeran menggembalakan babi dan akhirnya pergi meninggalkan putri yang menyesal di depan pintu tertutup; di versi kami ia menggembalakan angsa putih, dan sang putri diberi kesempatan berubah — ia menanam mawar sungguhan di tamannya. Bahan ngobrol: mana yang lebih berharga, hadiah yang mahal atau hadiah yang hidup?

Untuk orang tua

Pesan moral

Barang berkilau yang dibeli mahal belum tentu berharga. Hal-hal sungguhan — bunga yang hidup, suara burung, teman yang tulus — jauh lebih berharga daripada mainan yang berdenting.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Hadiah apa yang dikirim pangeran untuk putri kaisar?
  2. Kenapa putri lebih suka mainan daripada mawar hidup dan burung bulbul?
  3. Bagaimana perasaan putri setelah tahu siapa gembala angsa itu?
  4. Menurutmu, apa yang paling berharga: mainan baru atau teman baru?
  5. Barang apa yang paling kamu sayangi, dan kenapa?
menghargai yang aslikesederhanaanbelajar dari kesalahan

Untuk kelas

merdumenyamargembalagubukmengepulkerincingandayang

Cerita lain: Andersen

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.