

Halaman 1
Di negeri Pringgandani lahirlah putra Bima yang diberi nama Tetuka. Sejak bayi kekuatannya luar biasa: ayunan tangannya bisa mematahkan dahan, dan tangisnya terdengar sampai ke balik gunung.

Halaman 2
Para dewa di kahyangan melihat bayi istimewa itu. Mereka memandikannya di Kawah Candradimuka yang menyala-nyala. Bukannya terluka, tubuh bayi itu justru menjadi sekuat baja: otot kawat, tulang besi.
Halaman 3
Dari kawah itu ia keluar sebagai pemuda gagah bernama Gatotkaca. Para dewa memberinya rompi Antakusuma, yang membuatnya dapat terbang secepat kilat, membelah awan, dan menembus angin badai.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Gatotkaca pulang dan bertugas menjaga langit Amarta, negeri para Pandawa. Anak-anak suka melambai kalau bayangannya melintas di atas awan. “Itu Gatotkaca!” seru mereka. “Penjaga langit kita!”
Halaman 5
Suatu hari raksasa-raksasa datang hendak mengacau Amarta. “Jangan takut, aku datang!” seru Gatotkaca. Ia menghadang mereka di udara, menangkap para raksasa itu satu per satu, lalu melemparkannya jauh ke tengah laut. Mereka lari tunggang langgang.
Halaman 6
Namun Gatotkaca tak hanya gagah di medan perang. Ia menolong petani mengangkat kerbau yang terperosok. Ia mengambilkan layang-layang yang tersangkut di pohon tinggi. Ia juga mengantar kabar ke desa-desa yang jauh.
Halaman 7
Ada yang bertanya, “Gatotkaca, kau begitu kuat. Mengapa kau mau repot menolong hal-hal kecil?” Ia tersenyum. “Ayahku Bima berpesan: kekuatan itu untuk menjaga, bukan untuk membuat orang lain takut.”
Halaman 8
Bila malam tiba, Gatotkaca berjaga di atas awan. Ia duduk di antara bintang-bintang, memandang ke bawah, memastikan seluruh negeri aman dan semua orang bisa tidur dengan tenang.
Halaman 9
Penduduk Amarta pun tidur nyenyak setiap malam, karena tahu ada penjaga di langit. Sampai kini para dalang memainkan Gatotkaca di layar wayang, dan anak-anak selalu bersorak ketika sang kesatria terbang.
Halaman 10
Malam ini, bayangkan penjaga yang gagah itu melintas pelan di atas awan, menjaga rumahmu dan semua orang yang kamu sayangi. Kamu aman dan hangat. Pejamkan matamu, dan tidurlah dengan tenang.
Gatotkaca adalah pahlawan terbang dari wayang Jawa, putra Bima dari kisah Mahabharata versi Nusantara. Julukannya sudah menjadi ungkapan sehari-hari: otot kawat tulang besi. Bahkan Kawah Candradimuka, tempat sang bayi ditempa, kini dipakai orang Indonesia sebagai kiasan untuk tempat penggemblengan yang berat.
Betapa dicintainya tokoh ini terlihat dari satu fakta yang menyenangkan: pesawat terbang pertama yang dirancang di Indonesia, N-250 buatan tahun 1995, diberi nama Gatotkoco — penjaga langit wayang menjadi nama mesin terbang pertama negerinya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Cerita ini sengaja berhenti pada masa jaya sang penjaga langit — pas untuk pengantar tidur: ada yang berjaga, semua aman. Bahan ngobrol: pesan Bima kepada anaknya, kekuatan itu untuk menjaga, bukan menakuti — dan Gatotkaca membuktikannya lewat hal-hal kecil, dari kerbau terperosok sampai layang-layang tersangkut. Tanyakan pada anak: kalau punya kekuatan super satu hari saja, siapa yang mau ia tolong lebih dulu?
Tubuh yang kuat menjadi mulia bila dipakai untuk menjaga dan menolong orang lain.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.