

Halaman 1
Seorang raja punya enam putra dan seorang putri bernama Klara. Untuk menjaga mereka, raja menyembunyikan anak-anaknya di rumah kecil di tengah hutan. Setiap pekan ia datang membawa roti dan cerita. Anak-anak itu hidup rukun dan gembira.

Halaman 2
Tapi ratu baru istana adalah seorang penyihir. Ia mengikuti jejak raja diam-diam. Saat raja pergi, ia melemparkan enam kemeja putih ke arah anak-anak lelaki itu. Wusss! Keenamnya berubah menjadi angsa dan terbang ke langit.
Halaman 3
Klara melihat semuanya dari balik jendela. "Kakak-kakakku!" serunya. Ia berlari mengejar bayangan enam angsa itu sampai jauh ke dalam hutan. Malam tiba, dan ia tidur di sebuah gubuk kosong, memeluk lututnya sendiri.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Menjelang senja berikutnya, enam angsa turun di depan gubuk. Bulu mereka rontok sebentar, dan keenam kakaknya muncul! "Kami hanya bisa jadi manusia selama satu putaran jam," kata si sulung. "Setelah itu, kami terbang lagi."
Halaman 5
"Bagaimana caraku menolong kalian?" tanya Klara. "Sulit sekali," jawab kakaknya. "Kau harus menjahit enam kemeja dari bunga aster hutan. Selama enam tahun kau tak boleh bicara, tak boleh tertawa." Klara mengangguk mantap. "Aku akan melakukannya."
Halaman 6
Setiap hari Klara memetik aster, lalu memanjat pohon besar untuk menjahit dengan aman. Suatu hari, seorang raja muda berburu di hutan itu dan menemukan gadis pendiam di atas pohon. Klara hanya tersenyum. Raja membawanya ke istana, dan mereka menikah.
Halaman 7
Di istana, Klara menjahit tanpa suara. Ibu suri tidak menyukainya. Suatu pagi, kalung ratu hilang dari lemari. "Pasti gadis bisu ini yang mengambilnya!" seru ibu suri kepada raja. Klara menggeleng pelan, lalu menunduk dan menjahit terus.
Halaman 8
Sudah hampir enam tahun. Kemeja kelima selesai, kemeja keenam tinggal satu lengan. Karena kalung itu, Klara dibawa ke halaman istana untuk diusir. "Katakan satu kata saja, dan kau boleh tinggal," pinta raja. Klara hanya memeluk keranjang jahitannya.
Halaman 9
Tiba-tiba langit berdesir. Enam angsa turun berputar di halaman! Klara melemparkan kemeja aster ke tiap angsa. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam! "Kau berhasil, Adik!" seru si sulung. Hanya si bungsu bersayap satu, sebab satu lengan belum selesai.
Halaman 10
"Sekarang aku boleh bicara!" seru Klara. "Kalung itu tidak pernah kusentuh." Ternyata kalung ratu ada di laci ibu suri sendiri. Ia pergi dari istana dengan malu. Malam itu tujuh bersaudara bercerita sampai larut. Sekarang giliranmu memejamkan mata.
Enam Angsa berasal dari Jerman, dari kumpulan Grimm, dan mewakili keluarga dongeng Eropa tentang saudara-saudara yang disihir menjadi burung — kerabat dekat Angsa Liar karya Andersen. Pahlawannya bukan ksatria, melainkan seorang adik perempuan yang setia.
Yang bisa ditunjukkan pada anak: bunga aster, bahan enam kemeja penyelamat dalam versi kami — bunga kecil berbentuk bintang yang mudah ditemukan di kios bunga. Coba juga permainan sunyi ala Klara: siapa sanggup diam paling lama? Enam tahun tanpa bicara dan tanpa tertawa demi kakak-kakaknya — kesetiaan yang luar biasa.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tua dongeng ini jauh lebih kelam: tuduhan pada ratu muda sangat berat dan hukumannya api. Kami menggantinya dengan kalung hilang yang lalu ditemukan di laci — cukup untuk merasakan sulitnya difitnah saat tak boleh bicara. Bahan ngobrol: membela orang yang tidak bisa membela dirinya sendiri.
Kesetiaan dan kesabaran yang tak bersuara pun bisa menyelamatkan orang-orang yang kita sayangi.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.