

Halaman 1
Dahulu kala di Tanah Sunda berdirilah Kerajaan Galuh yang subur dan damai. Rajanya tua dan bijaksana, dan telah memiliki seorang putra bernama Hariang Banga. Ketika seorang putra kecil lahir lagi di istana, seluruh negeri bersuka cita.

Halaman 2
Namun ada seorang permaisuri yang iri hati. Diam-diam ia menaruh bayi itu di dalam keranjang bersama sebutir telur ayam, lalu menghanyutkannya ke sungai. Keranjang itu terapung pelan mengikuti arus.
Halaman 3
Di tepi sungai tinggal sepasang kakek dan nenek, Aki dan Nini Balangantrang. Mereka menemukan keranjang itu tersangkut di akar pohon. “Lihat, seorang bayi!” Mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan baik hati. Telur dari keranjang menetas menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan setia. Ke mana pun pemuda itu pergi, ayam itu berjalan di sampingnya.
Halaman 5
Suatu hari di hutan ia melihat burung ciung bernyanyi dan seekor wanara — monyet hutan — berayun di dahan. “Aku tahu! Namaku Ciung Wanara!” katanya gembira. Ia pulang dan menceritakan nama barunya kepada Aki dan Nini.
Halaman 6
Aki lalu bercerita tentang keranjang dan kain kerajaan di dalamnya. “Kalau begitu, aku akan ke Galuh mencari keluargaku,” kata Ciung Wanara. Saat itu raja sedang mengadakan lomba ayam jantan, dan ia mendaftar bersama ayam kesayangannya.
Halaman 7
Ayam raja besar dan terkenal kuat. Namun ayam Ciung Wanara gesit sekali. Ia menari, berkelit, dan melompat ringan sampai ayam raja kelelahan lalu menunduk hormat. Penonton bersorak kagum.
Halaman 8
Raja memanggil pemuda itu. “Siapa engkau, anak muda?” Ciung Wanara menunjukkan kain dari keranjangnya. Raja terkejut dan berkaca-kaca. “Kain ini milik istana. Engkau... putraku yang hilang!”
Halaman 9
Permaisuri yang dulu iri mengakui perbuatannya sambil menunduk malu, dan Ciung Wanara memaafkannya. Ia berjumpa kakaknya, Hariang Banga. Kedua bersaudara itu lalu memimpin negeri berdampingan dengan adil.
Halaman 10
Malam turun di Kerajaan Galuh. Ayam jantan yang setia tidur di tenggerannya, sungai mengalir tenang seperti dulu membawa keranjang kecil itu. Sekarang giliranmu memejamkan mata. Tidurlah dengan tenang.
"Ciung Wanara" adalah cerita Tanah Sunda dari lingkaran Kerajaan Galuh, kerajaan yang sungguh pernah berdiri di wilayah Ciamis sekarang. Cerita ini saudara kembar "Cindelaras" dari Jawa Timur — bayi yang disingkirkan karena iri, ayam jantan yang setia, dan lomba di depan raja. Dua daerah, satu keluarga cerita; seru membaca keduanya dan membandingkan.
Jangkar dunia nyatanya ada di Ciamis, Jawa Barat: Situs Karangkamulyan, kawasan purbakala rindang yang sejak dulu dikaitkan warga dengan legenda Ciung Wanara. Orang datang berjalan kaki di antara batu-batu tua sambil mendengar potongan-potongan kisahnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam banyak versi lama, kedua bersaudara justru berperang dan sungai menjadi batas negeri mereka; versi kami memilih akhir ketika mereka memimpin berdampingan. Bahan ngobrol: Aki dan Nini menyayangi bayi yang bukan anak kandungnya — keluarga adalah orang-orang yang merawat kita. Juga soal iri hati sang permaisuri, dan beratnya mengakui kesalahan.
Kebenaran selalu menemukan jalannya, dan hati yang mau memaafkan membuat keluarga menjadi utuh.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.