

Halaman 1
Seorang raja punya kebun apel emas. Setiap malam, satu apel hilang. Raja menyuruh ketiga putranya berjaga. Dua kakak tertidur di bawah pohon. Si bungsu bertahan sampai tengah malam, dan ia melihat seekor burung emas terbang membawa apel.

Halaman 2
"Aku akan mencari burung itu," kata si bungsu. Di hutan, seekor rubah menghampirinya. "Aku bisa menunjukkan jalannya," kata rubah. "Tapi dengarkan nasihatku baik-baik." Si bungsu mengangguk. "Baiklah, Rubah, aku akan mendengarkan."
Halaman 3
Rubah membawanya ke sebuah istana. "Burung emas ada di dalam sangkar kayu. Jangan pindahkan ke sangkar emas," pesannya. Di dalam, si bungsu melihat sangkar emas yang berkilau. "Sayang sekali burung seindah ini berada di sangkar kayu," pikirnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Begitu ia memindahkan burung itu, sangkar emas berdenting nyaring. Para penjaga datang berlari. "Ampun," kata si bungsu jujur. Raja istana itu berkata, "Kau boleh membawa burung ini, asal kau bawakan aku kuda emas dari kerajaan sebelah."
Halaman 5
Rubah menunggunya di luar. "Sudah kubilang, kan?" katanya sambil menggeleng. "Ayo, naik ke punggungku." Mereka melesat secepat angin. "Di kandang nanti," pesan rubah, "pakailah pelana kulit, jangan pelana emas." Si bungsu berjanji akan ingat.
Halaman 6
Kuda emas itu sungguh megah. Tapi pelana emas di dinding terlalu indah untuk dilewatkan. Begitu ia menyentuhnya, lonceng berbunyi lagi! Raja kedua berkata, "Bawakan aku sang putri dari istana seberang, baru kuda ini jadi milikmu."
Halaman 7
Rubah membantunya sekali lagi. Tapi gerbang istana putri dijaga ketat siang dan malam. Si bungsu menunggu sampai pagi, lalu menemui sang putri di taman dan berbicara dengan sopan. Putri itu setuju ikut. "Kau anak yang jujur," katanya.
Halaman 8
Dengan bantuan rubah yang cerdik, si bungsu berhasil membawa pulang ketiganya: burung emas, kuda emas, dan sang putri. Tapi di jalan pulang, kedua kakaknya melihatnya. "Adik kita akan mendapat semua pujian," bisik mereka dengan iri.
Halaman 9
Di lembah berbatu, kedua kakak merebut burung dan kuda emas itu, lalu menuntun sang putri pergi bersama mereka. "Diamlah di sini," kata mereka pada adiknya. Si bungsu tertinggal sendirian di antara batu-batu.
Halaman 10
Keesokan pagi rubah menemukannya. "Naiklah," katanya tenang. Di istana raja, burung emas tidak mau bernyanyi, kuda emas tidak mau melangkah, dan sang putri duduk diam tanpa sepatah kata pun.
Halaman 11
Begitu si bungsu masuk, burung bernyanyi dan kuda melangkah. "Dialah yang menolongku!" seru sang putri, dan ia tak mau berpisah lagi. Kedua kakak meminta maaf, dan rubah menghilang di tepi hutan. Burung emas bersiul pelan di jendela. Tidurlah.
Burung Emas adalah dongeng pengembaraan dari Jerman. Grimm bersaudara — Jacob dan Wilhelm — adalah ilmuwan sungguhan: mereka mencatat dongeng dari para pencerita rakyat, lalu menerbitkan kumpulan Kinder- und Hausmärchen pada 1812. Berkat kerja mereka, kisah seperti ini sampai kepada kita.
Warisan itu diakui dunia: naskah dongeng Grimm tercatat dalam daftar Memory of the World UNESCO — "ingatan dunia". Di kisah ini penunjuk jalannya seekor rubah bijak; ajak anak menghitung berapa kali si bungsu mengabaikan nasihatnya, dan apa akibat dari setiap godaan barang berkilau.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua kedua kakak dihukum berat dan rubah menyimpan rahasia sihirnya sendiri; versi kami menutup kisah dengan permintaan maaf. Bahan ngobrol: nasihat baik kadang terdengar aneh — tapi rubah selalu benar. Tanyakan: kenapa sulit sekali memilih sangkar kayu daripada sangkar emas?
Dengarkan nasihat orang yang menolongmu, dan kejujuran akan membawamu pulang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.