

Halaman 1
Dahulu kala, hiduplah Putri Florin yang ramah dan pandai bernyanyi. Ibunya sudah lama tiada. Ayahnya menikah lagi, dan datanglah ibu tiri bersama putrinya, Truton. Truton suka cemberut dan iri pada Florin.

Halaman 2
Suatu hari, Pangeran Lusien datang berkunjung ke istana. Ibu tiri mendandani Truton dengan gaun terindah. Tetapi Pangeran malah mengobrol lama dengan Florin di taman. "Suaramu merdu sekali," katanya. Ibu tiri melihat itu dan menjadi marah.
Halaman 3
Ibu tiri mengurung Florin di menara tinggi. "Biar dia diam di sana!" katanya. Lalu ia memanggil Peri Masila, peri tua yang keras kepala. "Buat Pangeran melupakan Florin!" pintanya. Peri Masila mengetukkan tongkatnya di lantai batu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Plop! Pangeran Lusien berubah menjadi seekor burung biru! Bulunya berkilau seperti langit malam. "Selama tujuh tahun kamu akan bersayap," kata Peri Masila. Burung biru itu mengepakkan sayapnya dan terbang lewat jendela, mencari menara Florin.
Halaman 5
Malam itu, Florin duduk sedih di jendela menara. Tiba-tiba terdengar suara lembut, "Florin, ini aku, Lusien." Ia melihat burung biru bertengger di kusen jendela. "Lusien! Apa yang terjadi padamu?" Florin mengulurkan tangannya pelan-pelan.
Halaman 6
Setiap malam burung biru itu datang. Ia membawakan Florin bunga, buah ceri, dan cerita tentang negeri jauh. Mereka mengobrol sampai bintang pudar. "Jangan menyerah," bisik burung biru. "Sihir ini pasti akan berakhir." Florin pun tersenyum lagi.
Halaman 7
Truton mendengar suara mereka. "Ibu, ada burung yang menemani Florin!" Ibu tiri memasang jaring di depan jendela menara. Malam itu, burung biru terperangkap jaring, dan bulunya kusut. Ia meronta, lalu lolos dan terbang jauh dengan sayap lelah.
Halaman 8
Berhari-hari Florin menunggu, tetapi jendela tetap sepi. "Aku tidak boleh diam saja," katanya. Dengan seutas tali, ia turun dari menara dan pergi mencari Lusien. Ia berjalan melewati desa, sungai, dan bukit sambil bertanya pada setiap orang.
Halaman 9
Florin sampai di rumah Peri Masila. "Tolong kembalikan Lusien," pintanya. Peri menunjuk semak berduri. "Petik tujuh bunga di sana tanpa mengeluh." Florin memetiknya tanpa mengaduh. "Baiklah," kata Peri, dan burung biru itu kembali menjadi Lusien.
Halaman 10
Mereka pulang bersama, dan istana kembali penuh nyanyian. Malam itu, sebuah bulu biru kecil tergeletak di meja sebagai kenang-kenangan. Bawalah satu bulu biru ke dalam tidurmu, sayang, lalu terbanglah pelan-pelan ke dalam mimpi.
Burung Biru ditulis Madame d'Aulnoy, pengarang Prancis semasa Perrault — dan justru dari penanyalah dunia mendapat sebutan "dongeng peri": istilah conte de fées yang ia pakai untuk kumpulan kisahnya kelak menjadi "fairy tale" dalam bahasa Inggris. Di ruang tamu Paris masa itu, pengarang-pengarang perempuan seperti dia memukau pendengarnya dengan kisah panjang penuh keajaiban.
Burung berkilau biru "seperti langit malam" tidak sulit dicari padanannya: Indonesia kaya burung berbulu biru cerah — raja-udang dan cekakak sering melintas bagai kilat biru di dekat sungai dan sawah. Sekali melihatnya, anak akan ingat pangeran bersayap yang setia datang tiap malam ke jendela menara.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dongeng aslinya panjang dan penuh cobaan berat; versi kami meringkasnya dan tidak menghukum siapa pun. Bahan ngobrol: Florin tidak menunggu diselamatkan — ia turun dari menara dan berangkat mencari sahabatnya. Tanyakan: kapan kita perlu berani mencari jalan sendiri?
Kesetiaan dan kesabaran menembus sihir yang paling kuat sekalipun.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.