

Halaman 1
Ida kecil duduk sedih di dekat meja. Bunga-bunganya layu semua. Kelopaknya menunduk lemas. "Kemarin mereka masih cantik," katanya. "Kenapa sekarang begini?" Ia bertanya pada temannya, seorang pemuda pencerita.

Halaman 2
"Aku tahu rahasianya," jawab pemuda itu. "Semalam bunga-bungamu pergi menari di pesta istana sampai pagi. Itu sebabnya mereka lelah. Tulip dan bunga lili adalah raja dan ratunya." Mata Ida membulat. "Bunga bisa menari?"
Halaman 3
Pemuda itu mengajak Ida keluar ke kebun. Dari pagar, sebuah jalan kecil membentang ke taman istana di kejauhan. "Lewat jalan itulah bunga-bunga pulang menjelang pagi," katanya. Ida memandang lama sekali, membayangkan pesta itu.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malamnya, Ida menaruh bunga-bunga layu itu di ranjang bonekanya. "Tidurlah yang nyenyak," bisiknya sambil menyelimuti mereka. "Besok pagi kalian pasti segar lagi." Lalu Ida naik ke tempat tidurnya sendiri dan memejamkan mata.
Halaman 5
Tengah malam, Ida terbangun oleh suara musik pelan. Ia mengintip ke ruang tamu lewat celah pintu. Wah! Semua bunga sedang berdansa berpasangan di lantai. Lilin-lilin kecil menyala di jendela, dan bulan mengintip dari luar.
Halaman 6
Di sudut ruangan, bunga lili kuning memainkan piano kecil. Bunga-bunga dari pot berbaris masuk mengikuti iramanya. Bahkan bunga-bunga layu Ida bangkit dan ikut menari! "Lihat, mereka sembuh!" bisik Ida senang.
Halaman 7
Di rak mainan, boneka-boneka bertepuk tangan gembira. Hanya boneka Sophie yang duduk cemberut. "Kenapa aku tidak diajak?" gerutunya. Sekuntum tulip merah naik ke rak dan mengulurkan tangan. "Maafkan kami, mari menari." Sophie pun tersenyum.
Halaman 8
Ida melangkah masuk pelan-pelan. Bunga-bunga menyambutnya di dekat jendela yang terbuka. "Selamat datang!" seru mereka. Ida berputar bersama mawar dan melati di bawah cahaya bulan. "Ini malam paling indah dalam hidupku," bisiknya.
Halaman 9
Menjelang pagi, musik melembut dan bunga-bunga kembali ke tempatnya. Ida mengantuk sekali dan pulang ke tempat tidurnya. Paginya, bunga-bunga di ranjang boneka itu masih layu, tapi Ida sudah tidak sedih lagi.
Halaman 10
"Kalian sudah menari sepuasnya," katanya. Ia menanam bijinya di kebun agar bunga baru tumbuh musim depan. Malam ini bunga-bunga akan berdansa lagi entah di mana. Tutup matamu pelan-pelan, dan ikutlah menari di dalam mimpimu.
Bunga-Bunga Ida Kecil termasuk dongeng-dongeng pertama yang diterbitkan Hans Christian Andersen — ia hadir dalam kumpulan dongeng perdananya pada 1835. Dari kisah-kisah awal inilah dunia mengenalnya, dan kini penghargaan tertinggi untuk penulis buku anak sedunia menyandang namanya — sering dijuluki "Nobel kecil" sastra anak.
Rahasia bunga yang "lelah sehabis menari" bisa diintip di halaman rumah: banyak bunga sungguhan memang menguncup saat gelap — bunga pukul empat, misalnya, mekar sore dan menutup pagi hari. Ajak anak menengok bunga yang sama di sore dan pagi, lalu biarkan ia menebak: semalam mereka menari di mana?
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol: Ida tidak lagi sedih melihat bunganya layu setelah tahu mereka "sudah menari sepuasnya" — cara lembut untuk bicara tentang segala yang berakhir: liburan, pesta, bahkan hari ini. Yang selesai dengan gembira layak dilepas dengan tersenyum.
Setiap hal yang hidup punya waktunya sendiri untuk mekar dan beristirahat. Imajinasi membantu kita menerima perpisahan kecil dengan hati yang ringan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.