

Halaman 1
Di sebuah kota kecil tinggal seorang ibu dan anak perempuannya, Mira. Periuk mereka sudah lama kosong. Suatu pagi, Mira pergi ke hutan mencari buah beri. Perutnya berbunyi, kruyuk. "Semoga hari ini kami dapat makan," pikirnya.

Halaman 2
Di bawah pohon tua, seorang nenek sedang beristirahat. "Kau lapar, ya, Nak?" tanyanya lembut. Mira mengangguk malu. Nenek itu mengeluarkan sebuah periuk kecil dari keranjangnya. "Ambillah. Periuk ini tidak biasa."
Halaman 3
"Kalau kau berkata: Periuk kecil, masaklah! ia akan memasak bubur manis," kata nenek. "Kalau sudah cukup, katakan: Periuk kecil, berhentilah! Jangan sampai lupa kata yang kedua." Mira mengucapkan terima kasih dan berlari pulang.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di rumah, Mira meletakkan periuk di meja. "Periuk kecil, masaklah!" Blup, blup! Bubur manis yang harum memenuhi periuk. "Periuk kecil, berhentilah!" Bubur pun berhenti. Ibu dan anak itu makan sampai kenyang, dan mereka tertawa bahagia.
Halaman 5
Keesokan paginya, periuk berbunyi lagi, blup, blup. Mira mengucapkan kata penghentinya tepat waktu. Lalu Bu Rina dari rumah sebelah mengetuk pintu sambil membawa mangkuk kosong. "Masuklah, buburnya masih hangat," kata Mira.
Halaman 6
Suatu hari Mira pergi ke pasar. Ibunya sendirian di rumah dan mulai lapar. "Aku juga bisa mencobanya," katanya. "Periuk kecil, masaklah!" Blup, blup! Bubur manis mengepul dan mengisi periuk sampai penuh. Harumnya memenuhi seluruh dapur.
Halaman 7
"Cukup, cukup!" seru ibu. Tapi periuk terus memasak. "Berhenti! Sudah, ya!" Periuk tidak peduli. Ibu lupa kata yang benar! Bubur meluap dari periuk, mengalir ke meja, lalu turun ke lantai, blup, blup, blup.
Halaman 8
Bubur mengalir keluar pintu. Ia memenuhi halaman, lalu jalan desa. Anak-anak berlari sambil berteriak, "Sungai bubur! Sungai bubur!" Ada yang mengambil sendok besar dan mulai memakannya. Tapi bubur itu terus datang, makin banyak.
Halaman 9
Mira pulang dari pasar dan melihat jalanan penuh bubur. Ia memanjat pagar dan berseru sekuat tenaga, "Periuk kecil, berhentilah!" Seketika bubur berhenti mengalir. Kota itu jadi sunyi, lalu semua orang tertawa terbahak-bahak.
Halaman 10
Sepanjang sore, orang-orang menyendok bubur bersama-sama, dan tak ada yang lapar malam itu. Ibu Mira berjanji akan mengingat kata penghentinya. Perutmu pasti ikut hangat membayangkannya. Sekarang, berhentilah sejenak seperti periuk itu, dan tidurlah.
Bubur Manis Ajaib — Der süße Brei — adalah dongeng pendek Jerman dari kumpulan Grimm, keluarga cerita periuk ajaib yang tak mau berhenti, yang dikenal di banyak negeri Eropa. Resep humornya sederhana: satu keajaiban, ditambah satu kata yang terlupa.
Jangkarnya tak perlu dicari jauh: besok pagi, semangkuk bubur ayam atau bubur kacang hijau bisa jadi "bubur manis ajaib" kalian. Sambil makan, minta anak mengingat dua kata rahasianya — masaklah dan berhentilah — lalu bayangkan bersama jalan kampung yang berubah menjadi sungai bubur.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Tidak banyak yang perlu dilembutkan di sini: dongeng aslinya memang jenaka, dan di versi kami seisi kota malah kenyang bersama-sama. Bahan ngobrol: pentingnya mendengarkan pesan sampai selesai — dan bahwa lupa itu manusiawi, asal berani berseru minta tolong seperti Mira.
Karunia sebesar apa pun harus dipakai dengan hati-hati dan diingat aturannya.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.