

Halaman 1
Di antara lima satria Pandawa, Bima adalah yang paling kuat. Tubuhnya tinggi besar, langkahnya menggetarkan tanah, namun hatinya jujur dan lurus. Suatu hari gurunya memberi tugas yang sangat sulit.

Halaman 2
“Carilah Tirta Perwitasari, air kehidupan,” kata sang guru. “Konon ia berada di hutan yang paling dalam.” Bima segera berangkat. Ia membelah semak, menggeser batu-batu besar, namun air itu tidak ditemukannya.
Halaman 3
Bima tidak menyerah. Ia mencari ke gua-gua gunung, tetap tidak ada. Akhirnya sampailah ia di tepi laut selatan. Ombaknya besar menggulung-gulung. Tanpa ragu, Bima melangkah masuk ke dalam laut.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di tengah samudra, seekor naga laut raksasa melilit tubuhnya. Bima menarik napas, mengerahkan tenaganya yang seperti gunung, dan melepaskan lilitan itu. Naga terkejut akan kekuatannya, lalu berenang menjauh.
Halaman 5
Bima berenang semakin jauh hingga kelelahan. Saat itulah muncul makhluk kecil seukuran telapak tangan, wajahnya mirip sekali dengan Bima. “Aku Dewa Ruci,” katanya. “Apa yang kau cari di tengah samudra ini?”
Halaman 6
“Aku mencari air kehidupan,” jawab Bima. Dewa Ruci tersenyum. “Masuklah ke dalam telingaku.” Bima tertawa. “Tubuhku sebesar gunung!” “Cobalah,” kata Dewa Ruci. Ajaib, Bima masuk dengan mudahnya.
Halaman 7
Di dalamnya Bima menemukan dunia yang luas: langit yang terang, laut yang tenang, dan cahaya yang lembut ke segala arah. Hatinya terasa damai sekali, seperti tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Halaman 8
“Dengarlah, Bima,” kata Dewa Ruci. “Air kehidupan tidak berada di gunung atau di dasar laut. Ia ada di dalam hati yang jernih: hati yang jujur, tenang, dan tidak sombong. Kau sudah memilikinya.”
Halaman 9
Bima kembali ke daratan. Saudara-saudaranya heran: wajah Bima tampak tenang seperti telaga di pagi hari. Sejak itu Bima tetap yang terkuat, namun ia juga menjadi yang paling sabar dan lembut hatinya.
Halaman 10
Seperti Bima, kamu juga punya tempat yang tenang di dalam hatimu. Tarik napas pelan-pelan... embuskan... Rasakan tenangnya seperti laut yang teduh. Pejamkan matamu, dan tidurlah dengan nyenyak.
"Dewa Ruci" adalah kisah yang istimewa: lakon ini tidak ada dalam Mahabharata dari India — ia lahir di Jawa, dari para pujangga dan dalang, dan dianggap salah satu lakon wayang yang paling dalam maknanya. Bima yang perkasa mencari air kehidupan ke ujung dunia, dan menemukannya di tempat yang tak disangka: di dalam hatinya sendiri.
Nama Dewa Ruci akrab juga bagi banyak keluarga Indonesia dari tempat lain: patung Dewa Ruci yang besar berdiri di salah satu simpang jalan paling terkenal di Bali, menggambarkan Bima bertemu sang dewa kecil di tengah samudra.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ini cerita wayang yang paling tenang di antara semuanya — tanpa peperangan, cocok untuk malam yang butuh kedamaian ekstra. Bahan ngobrol: yang paling kuat belum tentu yang paling berisik; Bima pulang bukan membawa air ajaib, melainkan hati yang jernih. Latihan napas di akhir cerita boleh diulang bersama: tarik napas pelan, embuskan — dan rasakan "telaga tenang" di dalam dada.
Ketenangan dan kejernihan hati adalah harta yang paling berharga, dan tempatnya ada di dalam diri kita sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.