

Halaman 1
Suku Kamoro tinggal di pesisir Mimika, Papua, di antara sungai-sungai besar dan hutan bakau. Orang Kamoro terkenal pandai mengukir kayu. Ukiran mereka penuh cerita. Bagaimana asal mulanya? Begini kisahnya.

Halaman 2
Dahulu, hiduplah seorang pemuda Kamoro yang pendiam. Ia paling suka memandang: riak air, akar bakau yang berkelok, sisik ikan, jejak burung di lumpur. “Sayang sekali,” pikirnya, “semua yang indah ini cepat hilang dan terlupa.”
Halaman 3
Pada suatu hari ia menyelam mencari kerang di sungai. Di dasar sungai yang dalam, matanya menangkap kilau yang aneh. Sebatang kayu tua terbaring di sana. Dan lihatlah: kayu itu penuh ukiran halus yang belum pernah ia lihat!
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ia mengangkat kayu itu ke atas perahunya. Ukirannya berkelok-kelok seperti riak air, seperti akar bakau, seperti jalur ikan di lumpur. “Siapa yang membuat ini?” bisiknya kagum. “Seakan-akan sungai sendiri yang mengukirnya.”
Halaman 5
Para tetua kampung berkumpul mengamati kayu itu. “Ini hadiah dari sungai,” kata tetua yang paling tua. “Sungai menitipkan cerita kepada kita. Siapa yang mau tekun, ia bisa belajar menuliskan cerita pada kayu seperti ini.”
Halaman 6
Pemuda itu mulai belajar. Ia mengambil kayu bakau dan pahat. Mula-mula ukirannya miring, patah, tidak rapi. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Setiap hari jari-jarinya semakin luwes, matanya semakin awas, hatinya semakin tenang.
Halaman 7
Akhirnya jadilah ukiran pertamanya: perahu, ikan, dan burung, berjalin dengan riak air. Seluruh kampung datang melihat. “Ini cerita kampung kita!” seru anak-anak. “Ada perahu ayah! Ada ikan! Ada burung di atas bakau!”
Halaman 8
Sejak itu pemuda pendiam itu tidak pernah kehabisan cerita. Ia mengukir tiang-tiang tinggi untuk pesta kampung, dayung, perisai, dan tifa. “Ajari kami, ya!” pinta anak-anak, dan ia pun mengajari mereka. Para pengukir Kamoro itu disebut maramowe.
Halaman 9
Sampai sekarang, ukiran Kamoro dikenal sampai jauh. Setiap garisnya menyimpan kisah: tentang sungai, perahu, ikan, dan orang-orang yang saling menyayangi. Kayu boleh menua, tetapi cerita di dalamnya tetap hidup.
Halaman 10
Hari ini kamu juga punya cerita: tentang bermain, belajar, dan orang-orang yang menyayangimu. Simpan baik-baik dalam hatimu, seperti ukiran pada kayu. Besok kita ukir cerita baru lagi. Sekarang, tidurlah yang nyenyak.
Suku Kamoro sungguh tinggal di pesisir Mimika, Papua, di antara sungai besar dan hutan bakau, dan para pengukir mereka memang disebut maramowe. Cerita kami mengikuti salah satu tuturan Kamoro: ukiran pertama bukan diciptakan, melainkan ditemukan — hadiah dari sungai, sebatang kayu yang sudah berpola indah di dasarnya.
Ukiran Kamoro adalah jangkar yang bisa dilihat langsung: tiang tinggi, perisai, dayung, dan tifa berukir kini tampil di festival dan pameran seni, dan garis-garisnya berkelok seperti riak air atau akar bakau — persis yang dipandangi si pemuda dalam cerita. Kalau bertemu ukiran Papua di museum, ajak anak mencari "cerita" di dalam garisnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Ada tuturan lain tentang asal ukiran Kamoro yang jauh lebih seram; kami memilih motif sungai yang tenang ini. Bahan obrolan: ukiran pertama si pemuda miring dan patah, lalu membaik karena diulang terus — persis cara anak belajar menggambar, menulis, atau naik sepeda.
Ketekunan mengubah kekaguman menjadi keahlian.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.