

Halaman 1
Di Maluku Utara, dua pulau berdiri berhadap-hadapan: Ternate dan Tidore. Di tengah Ternate menjulang Gunung Gamalama. Di tengah Tidore menjulang Gunung Kie Matubu. Lautnya sempit, hingga kedua pulau itu seperti bertetangga dekat.

Halaman 2
Kata orang dahulu, kedua gunung itu bersaudara. Gamalama sang kakak, Matubu sang adik. Sayangnya, mereka suka sekali berlomba. “Aku lebih tinggi!” kata Gamalama. “Awanku lebih tebal!” balas Matubu. Setiap hari ada saja yang dibandingkan.
Halaman 3
Mereka berlomba menanam cengkih. Mereka berlomba memanggil burung. Mereka berlomba menghitung perahu yang singgah. Lama-lama keduanya lelah dan saling diam. Kabut tebal turun di antara mereka, seperti dua saudara yang saling memunggungi.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di tengah laut antara keduanya, ada pulau mungil bernama Maitara. Ialah si adik bungsu. Maitara sedih melihat kakak-kakaknya saling mendiamkan. Para nelayan pun bingung: laut di antara dua gunung terasa sunyi dan kelabu.
Halaman 5
Suatu sore, Maitara memanggil keduanya. “Kak Gamalama, Kak Matubu, lihatlah ke sini,” katanya. “Matahari sedang tenggelam, tetapi kalian menghadap ke lain arah. Tidak ada yang melihat betapa indahnya kita bertiga.”
Halaman 6
Kedua gunung itu perlahan menoleh. Langit senja berwarna emas. Cahayanya menyentuh puncak Gamalama, meluncur ke puncak Matubu, lalu jatuh berkilau di laut kecil di antara mereka. Sungguh indah, karena mereka memandangnya bersama.
Halaman 7
“Selama ini aku sibuk membandingkan,” kata Gamalama pelan. “Aku juga,” jawab Matubu. “Padahal laut ini bukan pemisah. Laut ini yang menyambung kita.” Kabut di antara mereka menipis, lalu hilang.
Halaman 8
Sejak itu kedua pulau hidup berdampingan. Perahu-perahu hilir mudik membawa cengkih dan pala. Nelayan Ternate menjual ikan di Tidore, anak-anak Tidore bermain ke Ternate. Dan Maitara yang mungil tersenyum di tengah-tengah.
Halaman 9
Sampai sekarang, senja di sana terkenal indahnya. Dua gunung berdiri tenang berhadap-hadapan, seperti dua saudara yang saling menyapa, “Selamat malam, saudaraku.” Laut di antara mereka berkilau keemasan.
Halaman 10
Kalau kamu punya saudara atau teman, tidak usah berlomba terus. Lebih indah berdampingan, seperti Gamalama dan Matubu. Sekarang rebahkan badanmu. Selamat malam, saudaraku kecil. Tidurlah yang lelap.
Ternate dan Tidore adalah dua pulau gunung api yang nyata di Maluku Utara, berdiri berhadap-hadapan dipisahkan laut yang sempit. Gunung Gamalama sungguh menjulang di Ternate dan Kie Matubu di Tidore, dan keduanya memang punya sejarah panjang sebagai dua kerajaan tetangga yang lama bersaing — dalam dongeng kami, persaingan itu menjadi kisah dua gunung bersaudara.
Pulau kecil Maitara pun nyata, terselip di laut antara keduanya. Pemandangan Maitara dan Tidore dari pantai Ternate begitu terkenal sampai pernah menghiasi uang kertas seribu rupiah — kalau masih ada lembar lamanya di rumah, tunjukkan pada anak: itulah panorama dalam cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Sejarah dua kerajaan ini penuh persaingan sungguhan; versi kami sengaja damai, tanpa perang. Bahan obrolan yang pas untuk kakak-adik: bagaimana rasanya terus dibanding-bandingkan, dan apa yang berubah ketika Gamalama dan Matubu berhenti berlomba lalu memandang senja bersama-sama.
Saudara tidak perlu saling mengalahkan; kebersamaan lebih indah daripada perlombaan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.