Google PlayApp Store
Sampul cerita Asal Usul Lompat Batu Nias

Asal Usul Lompat Batu Nias

10 halaman3 menit 10 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di Pulau Nias, di sebelah barat Sumatra, ada tradisi yang terkenal ke mana-mana: lompat batu, atau hombo batu. Pemuda-pemuda melompati batu setinggi dua meter! Tradisi ini punya cerita yang panjang.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Dahulu, kampung-kampung di Nias dikelilingi pagar batu tinggi yang menjaga kampung tetap aman. Para tetua membuat aturan: pemuda yang bisa melompati batu tinggi dianggap sudah dewasa, kuat, dan siap menjaga kampung.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Maka anak-anak Nias pun berlatih melompat sejak kecil. Alkisah, ada anak bernama Gari. Badannya kecil dan lompatannya selalu kurang tinggi. Teman-temannya sudah bisa melompati batu latihan, tetapi Gari selalu jatuh di pasir. Ia sedih sekali.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Kakeknya menghiburnya. "Gari, pohon kelapa tidak menjadi tinggi dalam semalam. Berlatihlah sedikit demi sedikit, setiap hari." Gari mengangguk, mengusap air matanya, dan berjanji akan berlatih sungguh-sungguh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Sejak itu Gari berlatih tiap pagi: berlari di pasir, melompati batang pisang, lalu batu kecil. "Satu lompatan lagi!" katanya menyemangati dirinya setiap kali jatuh. Latihannya tidak pernah putus, walau gerimis turun.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Musim berganti musim. Batu latihan Gari makin lama makin tinggi. Kakinya menjadi kuat seperti pegas, tubuhnya ringan seperti burung camar. Teman-temannya mulai kagum melihat lompatannya yang tinggi.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Tibalah hari besar di kampung. Satu per satu pemuda mencoba melompati batu besar. Kini giliran Gari. Semua orang menahan napas. "Ayo, Gari!" bisik kakeknya. Gari berlari kencang, menjejak batu tumpuan, dan melayang tinggi di udara!

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Hup! Gari mendarat dengan mulus di seberang batu. "Gari! Gari!" sorak seluruh kampung. Kakeknya tersenyum bangga. "Lihatlah, kesabaran dan latihanmu tidak pernah sia-sia, Cucuku."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sampai sekarang, lompat batu masih dilakukan di Nias. Orang-orang datang dari jauh untuk melihatnya. Setiap lompatan mengingatkan semua orang pada semangat pantang menyerah anak-anak Nias.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Malam tiba di Pulau Nias. Ombak berdebur pelan dan batu-batu kampung beristirahat dalam sunyi. Seperti Gari, kamu boleh tumbuh pelan-pelan. Biarkan malam yang tenang menjagamu. Tidurlah.

Tentang cerita ini

Lompat batu atau hombo batu adalah tradisi nyata Pulau Nias di barat Sumatera: pemuda melompati tumpukan batu setinggi sekitar dua meter sebagai tanda kedewasaan. Dahulu lompatan ini menjadi ujian kesiapan menjaga kampung yang berpagar batu. Kisah Gari dalam cerita kami adalah dongeng latihan dan kesabaran di sekitar tradisi itu.

Tradisinya masih hidup: di desa-desa adat Nias Selatan, lompat batu masih dipertunjukkan dan ditonton orang dari jauh. Gambar pelompat batu Nias bahkan pernah menghiasi uang kertas seribu rupiah lama — coba cari fotonya bersama anak.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan ngobrol yang bagus untuk anak yang sedang belajar hal sulit — naik sepeda, berenang, membaca: Gari tidak menang dalam semalam, ia jatuh berkali-kali dan menambah sedikit demi sedikit. Kalimat kakeknya enak diingat: pohon kelapa tidak menjadi tinggi dalam semalam.

Untuk orang tua

Pesan moral

Latihan tekun dan kesabaran membuat kita mampu melakukan hal yang tampak mustahil.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Mengapa pemuda Nias berlatih melompati batu?
  2. Apa nasihat kakek Gari tentang pohon kelapa?
  3. Bagaimana Gari akhirnya berhasil melompat?
  4. Hal apa yang ingin kamu kuasai dengan berlatih pelan-pelan?

Untuk kelas

tradisitetuagerimispegastumpuanmuluspantang menyerah

Cerita lain: Sumatra

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.