

Halaman 1
Di hutan Sulawesi, hiduplah sepasang burung maleo. Jambulnya hitam, dadanya putih bersih. Hari itu keduanya kebingungan. Telur pertama mereka akan segera lahir, dan telur maleo besarnya luar biasa!

Halaman 2
“Telur sebesar itu, bagaimana mengeraminya?” keluh Ibu Maleo. Mereka mencoba duduk bergantian di sarang. Tapi angin gunung terlalu dingin, dan badan mereka terlalu kecil untuk telur sebesar itu.
Halaman 3
Mereka bertanya kepada Anoa, kerbau kecil penunggu hutan. Anoa mengunyah daun sambil berpikir. “Hmm. Di kaki gunung berapi ada padang pasir yang selalu hangat. Cobalah ke sana,” katanya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Sepasang maleo terbang ke kaki gunung. Benar saja! Pasirnya hangat seperti pelukan. “Aduh, hangatnya pas sekali!” seru Ayah Maleo sambil menghentak-hentakkan kakinya di pasir.
Halaman 5
Dengan sopan mereka bertanya kepada bukit pasir itu. “Bukit yang baik, bolehkah kami menitipkan telur kami padamu?” Angin hangat berembus lembut, seperti jawaban: “Titipkanlah. Akan kujaga ia tetap hangat.”
Halaman 6
Mereka menggali lubang yang dalam, meletakkan telur, lalu menutupnya rapi-rapi. Ayah Maleo yang cerdik membuat banyak lubang kosong di sekitarnya. “Supaya pencuri telur bingung!” katanya sambil terkekeh.
Halaman 7
Benar saja, datanglah biawak mengendus-endus. Ia menggali satu lubang: kosong. Lubang lain: kosong juga! “Uh, di mana telurnya?!” gerutunya. Akhirnya ia pergi dengan perut lapar dan hidung penuh pasir.
Halaman 8
Berminggu-minggu kemudian, pasir bergerak-gerak. Seekor anak maleo menyembul, mengibaskan sayapnya, dan langsung bisa terbang! “Ibu! Ayah! Lihat aku!” serunya dari dahan. Itulah hadiah dari pasir yang hangat.
Halaman 9
Sejak saat itu, semua burung maleo menitipkan telurnya pada pasir hangat di kaki gunung. Sebagai terima kasih, mereka menjaga hutan di sekelilingnya dan bernyanyi untuk bukit pasir setiap pagi.
Halaman 10
Malam ini, di bawah pasir yang hangat, telur-telur maleo tidur dengan nyaman. Selimutmu adalah pasir hangatmu sendiri. Berbaringlah yang nyaman, dan tidurlah senyenyak telur maleo.
Burung maleo hanya ada di Sulawesi, dan dongeng ini termasuk keluarga cerita asal-usul satwa: menjelaskan dengan cara ajaib kebiasaan nyata seekor burung. Tokoh penolongnya pun istimewa — anoa, kerbau kecil yang juga hanya hidup di Sulawesi.
Hampir semua keajaiban dalam cerita ini sungguhan: maleo benar-benar menanam telurnya di pasir yang dihangatkan panas bumi atau matahari, telurnya jauh lebih besar daripada telur ayam, dan anak maleo yang baru menetas langsung bisa terbang tanpa diajari. Maleo kini burung yang dilindungi, jadi ceritanya sekaligus pintu untuk bicara soal menjaga satwa langka.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: meminta tolong dengan sopan — sepasang maleo bertanya dulu kepada Anoa dan "berpamitan" kepada bukit pasir; dan menitipkan sesuatu yang berharga kepada yang bisa dipercaya. Sebelum tidur, biarkan anak menirukan telur maleo: bergelung hangat di bawah selimut sampai pagi.
Bila ada kesulitan, jangan malu bertanya dan meminta tolong dengan sopan.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.