

Halaman 1
Di tanah Papua, orang suka makan papeda, bubur sagu yang kenyal dan hangat. Sagu diambil dari batang pohon sagu yang tumbuh di rawa-rawa. Tahukah kamu? Konon, pohon sagu yang pertama berasal dari seorang kakek yang baik hati.

Halaman 2
Dahulu, di sebuah kampung di tepi rawa, hiduplah seorang kakek yang dermawan. Namanya Kakek Sagu. Ladangnya kecil, tetapi ia selalu berbagi. “Perut kenyang lebih enak kalau kenyangnya ramai-ramai,” katanya sambil tertawa.
Halaman 3
Pada suatu masa, musim hujan datang terlalu lama. Ladang-ladang terendam air. Persediaan makanan kampung menipis. Anak-anak mulai lapar. Kakek Sagu membagikan semua isi lumbungnya sampai tidak tersisa sedikit pun.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malam itu Kakek Sagu duduk memandang rawa. Ia sudah sangat tua. “Seandainya aku bisa memberi lebih banyak lagi,” bisiknya. Bintang-bintang berkedip di atas rawa, seakan-akan mendengarkan harapan hatinya.
Halaman 5
Esoknya, kakek memanggil cucu-cucunya. “Jangan bersedih kalau besok aku tidak ada,” katanya lembut. “Aku tidak pergi jauh. Aku hanya berpindah ke rawa. Bila kalian lapar, datanglah ke sana. Aku akan tetap memberi kalian makan.”
Halaman 6
Pagi-pagi benar, pondok kakek sudah kosong. Di tengah rawa berdiri sebatang pohon baru yang tinggi dan gagah. Daunnya melambai-lambai seperti tangan kakek yang sedang menyapa cucu-cucunya dari kejauhan.
Halaman 7
Malamnya, cucu tertua bermimpi mendengar suara kakek: “Tebanglah batangku yang sudah tua, tumbuk isinya, lalu cuci dengan air. Kalian akan mendapat tepung yang mengenyangkan.” Cucu-cucu itu melakukannya dengan hati-hati.
Halaman 8
Benar saja! Dari dalam batang itu keluar tepung putih yang lembut: tepung sagu. Dimasak dengan air panas, jadilah papeda yang hangat. Seluruh kampung makan sampai kenyang. “Terima kasih, Kakek,” bisik para cucu.
Halaman 9
Ajaibnya, di sekeliling pohon pertama itu tumbuh tunas-tunas baru. Makin lama makin banyak, memenuhi rawa-rawa Papua. Sejak itu tak ada lagi yang kelaparan. Pohon itu dinamai pohon sagu, seperti nama kakek yang dermawan.
Halaman 10
Sekarang perutmu kenyang dan badanmu hangat, seperti habis makan papeda buatan kakek. Orang yang baik hati memang tidak pernah benar-benar pergi. Peluklah rasa hangat itu, pejamkan matamu, dan tidurlah dengan tenang.
Sagu adalah makanan pokok tua di Papua dan Maluku, dan cerita tentang pohon sagu pertama yang berasal dari seorang tua dermawan adalah motif yang dituturkan di kedua wilayah itu. Versi kami berlatar rawa-rawa Papua — tempat pohon sagu memang tumbuh, di tanah basah yang tidak cocok untuk banyak tanaman ladang lain.
Jangkar yang lezat: papeda, bubur sagu yang kenyal dan hangat, biasanya disantap dengan kuah ikan. Kalau ada kesempatan, ajak anak mencicipinya atau menonton cara papeda digulung dari piring ke piring — makanan dalam dongeng ini bisa benar-benar hadir di meja makan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi tua, sang kakek wafat dan dari tempat peristirahatannya tumbuh pohon sagu; versi kami memilih bahasa yang lembut — kakek "berpindah ke rawa" dan tetap menyapa lewat daun-daunnya. Bahan obrolan: orang yang murah hati terus hadir lewat kebaikannya. Ajak anak mengingat orang yang kebaikannya masih terasa sampai sekarang.
Kebaikan orang yang dermawan terus hidup dan memberi manfaat, bahkan setelah ia tiada.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.