

Halaman 1
Ada seorang anak bungsu bernama Fritz. Kedua kakaknya sering mengejeknya bodoh. Suatu pagi ia pergi menebang kayu ke hutan. Bekalnya hanya kue kering dan sebotol air. Di bawah pohon besar, ia bertemu kakek kecil berjanggut putih.

Halaman 2
"Aku lapar sekali, Nak," kata kakek itu. Fritz tersenyum. "Bekalku sedikit, tapi mari kita bagi dua." Ternyata kue itu berubah menjadi kue besar yang hangat! Kakek berkata, "Karena hatimu baik, tebanglah pohon tua di sana."
Halaman 3
Fritz menebang pohon itu. Di antara akarnya, sesuatu berkilau. Seekor angsa dengan bulu emas! "Cantik sekali kau," bisik Fritz. Ia membawa angsa itu dan bermalam di sebuah penginapan kecil di tepi jalan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Tiga anak pemilik penginapan mengintip angsa emas itu. "Aku mau satu bulu saja," bisik yang tertua. Begitu jarinya menyentuh angsa, tangannya menempel! Adiknya menariknya, dan ikut menempel. Yang bungsu menarik keduanya, lalu menempel juga.
Halaman 5
Pagi-pagi Fritz berjalan lagi sambil menggendong angsanya. Tiga anak itu terpaksa berlari-lari di belakangnya. Di jalan, pak guru desa berseru, "Anak-anak, jangan mengejar orang!" Ia memegang bahu si bungsu, dan ikut menempel juga.
Halaman 6
Penjaga gerbang mencoba menolong pak guru, dan ia pun menempel. Kedua kakak Fritz lewat membawa cangkul. "Berhenti, adik bodoh!" seru mereka. Tapi begitu tangan mereka menyentuh, mereka menempel juga. Kini tujuh orang berbaris di belakang Fritz!
Halaman 7
Rombongan lucu itu masuk ke kota. Di istana kota tinggal seorang putri yang tak pernah tertawa sejak kecil. Raja berjanji, "Siapa bisa membuat putriku tertawa, akan menjadi sahabat istana dan menerima hadiah besar."
Halaman 8
Fritz lewat di bawah jendela putri. Tujuh orang di belakangnya jatuh bertumpuk, saling tarik, dan berteriak-teriak. Putri melihat barisan aneh itu. Mulutnya bergetar, lalu, "Ha ha ha!" Ia tertawa sampai air matanya keluar.
Halaman 9
Seketika sihir menempel itu lepas, dan semua orang bebas. Putri turun menemui Fritz. "Sudah lama sekali aku tidak tertawa," katanya. "Bagaimana kau bisa punya angsa emas?" Fritz bercerita tentang kakek kecil dan kue yang dibagi dua.
Halaman 10
Raja memberi Fritz hadiah, dan kedua kakaknya berjanji tidak akan mengejeknya lagi. Angsa emas itu kembali ke hutan, ke tempat asalnya. Malam ini bulan berkilau seperti bulu angsa. Peluk gulingmu, dan bawalah tawa hari ini ke dalam mimpimu.
Angsa Emas adalah dongeng Jerman dari kumpulan Grimm, bagian dari keluarga cerita "membuat putri tertawa". Seperti banyak dongeng Eropa, anak bungsu yang diremehkan justru yang berhati paling lapang — dan keajaibannya dimulai dari bekal yang dibagi dua.
Barisan orang yang saling menempel itu bisa langsung dimainkan di rumah: satu anak jadi angsa, yang lain "menempel" di pundaknya, lalu berbaris keliling ruangan sampai semua tertawa seperti sang putri. Tawa memang menular — itulah inti dongeng ini, dan alasan ia paling enak dibacakan keras-keras.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Di buku tua hadiah bagi yang membuat putri tertawa adalah menikahinya; versi kami memilih persahabatan, dan angsa emas pulang ke hutan asalnya. Bahan ngobrol: keajaiban Fritz dimulai saat ia membagi bekalnya yang sedikit. Tanyakan juga: kenapa mengejek "si bodoh" akhirnya membuat malu para pengejeknya?
Hati yang mau berbagi membuka pintu keberuntungan, dan tawa bersama adalah hadiah terbaik.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.