

Halaman 1
Di pesisir Pariaman, Sumatra Barat, hiduplah pemuda gagah bernama Anggun Nan Tongga. Ia pandai berpantun, tangkas berlayar, dan disayangi orang sekampung karena ringan tangan menolong siapa saja.

Halaman 2
Sejak kecil, Anggun diasuh keluarganya karena tiga pamannya hilang di lautan saat berlayar berdagang. Ada yang berkata mereka terdampar di pulau-pulau yang jauh. "Kelak aku akan mencari mereka," janji Anggun.
Halaman 3
Sahabat Anggun, gadis lembut bernama Gondoriah, berkata, "Pergilah mencari paman-pamanmu, Kak. Aku titip satu oleh-oleh saja: burung nuri yang pandai berbicara, untuk teman bercerita di rumah."
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Anggun berlayar dengan kapalnya bersama awak yang setia. Ombak besar dan angin kencang dilaluinya dengan tenang. "Laut yang luas bukan untuk ditakuti," katanya, "tetapi untuk dipahami dengan sabar."
Halaman 5
Di pulau pertama, ia menemukan paman tertuanya hidup sebagai tukang perahu. "Anggun? Kaukah itu?" seru pamannya dengan mata berkaca-kaca. Mereka berpelukan haru, lalu semalaman bercerita tentang kampung halaman di Pariaman.
Halaman 6
Di pulau kedua, paman keduanya ditemukan berkebun kelapa. Paman ketiga ditahan di kapal bajak laut. Anggun tidak mengajak berkelahi. Ia menantang kepala bajak laut, "Mari berlomba layar ke karang itu. Jika aku menang, pamanku ikut pulang."
Halaman 7
Lomba pun dimulai! Kapal bajak laut besar dan cepat, tetapi Anggun membaca arah angin dengan cermat. Layarnya menangkap angin yang tepat, dan kapalnya melesat menyentuh karang lebih dulu!
Halaman 8
Kepala bajak laut menepati janjinya. "Kau pelaut sejati, anak muda." Paman ketiga pun bebas. Dalam pelayaran pulang, Anggun singgah di pulau burung dan mendapatkan seekor nuri hijau yang pandai berbicara.
Halaman 9
Kampung Pariaman menyambut mereka dengan tabuhan gendang. Gondoriah tertawa senang mendengar si nuri berpantun. "Kau menepati janjimu, Kak," katanya. Anggun tersenyum, "Janji adalah layar kehidupan kita."
Halaman 10
Malam tiba di pesisir Pariaman. Kapal-kapal tertidur di dermaga, dan si nuri terlelap dalam sangkarnya. Petualangan hari ini sudah selesai, pelaut kecil. Pejamkan matamu. Selamat tidur, mimpi indah.
Anggun Nan Tongga adalah pahlawan kaba — kisah panjang Minangkabau yang dituturkan sambil berdendang, turun-temurun di pesisir Pariaman, Sumatera Barat. Ini salah satu kaba yang paling dikenal, lahir dari budaya pelaut dan perantau pantai barat Sumatera.
Pariaman nyata: kota pesisir di Sumatera Barat, dan kaba seperti ini masih dibawakan dalam pertunjukan tradisi Minang. Kisah Anggun penuh hal yang bisa diobrolkan pelaut kecil: membaca arah angin, berlomba layar, dan burung nuri yang pandai berbicara.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Kaba aslinya panjang dan berliku, dengan bagian-bagian yang rumit untuk anak; versi kami mengambil satu pelayaran — mencari tiga paman yang hilang — dan menutupnya dengan pulang yang gembira. Bahan ngobrol: Anggun membebaskan pamannya lewat lomba, bukan perkelahian, dan kalimatnya bagus diingat: janji adalah layar kehidupan kita.
Janji harus ditepati; keberanian dan kecerdikan menuntun kita pulang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.