

Halaman 1
Di pesisir Aceh, ada batu karang besar yang bentuknya seperti kapal. Nelayan-nelayan tua suka menunjuknya sambil bercerita tentang Amat Rhang Manyang, seorang anak yang pernah lupa pada ibunya.

Halaman 2
Dahulu, Amat tinggal bersama ibunya di gubuk kecil di tepi laut. Ibunya mencari kerang dan menjemur ikan, bekerja keras agar Amat bisa makan. "Kelak aku akan membahagiakan Ibu," janji Amat kecil.
Halaman 3
Ketika dewasa, Amat ikut kapal saudagar berlayar ke negeri jauh. Ia cerdas dan rajin bekerja, sehingga lama-kelamaan ia menjadi nakhoda kaya dengan kapal sendiri yang besar dan megah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Bertahun-tahun ibunya menunggu di tepi pantai. Setiap ada layar tampak di cakrawala, ia berlari ke dermaga. "Mungkin itu kapal Amat," bisiknya penuh harap. Namun Amat tidak kunjung pulang juga.
Halaman 5
Suatu hari, kapal megah Amat akhirnya berlabuh. Ibunya yang sudah bungkuk datang tertatih-tatih. "Amat, Anakku! Ibu sangat rindu!" Amat memandang baju ibunya yang penuh tambalan, lalu membuang muka.
Halaman 6
"Perempuan tua ini bukan ibuku! Ibuku tidak semiskin ini!" katanya di depan istri dan anak buahnya. Kapal pun diperintahkan berlayar lagi. Sang ibu berdiri sendirian di dermaga, hatinya pedih sekali.
Halaman 7
Air mata ibu jatuh ke pasir pantai. Ketika kapal itu bergerak menjauh, langit tiba-tiba gelap. Angin topan datang, ombak setinggi bukit bergulung-gulung, dan kapal megah itu terdorong kembali ke pantai.
Halaman 8
Ketika badai reda, kapal itu telah berubah menjadi batu karang besar di tepi laut. Amat selamat di pantai dan tersadar. Ia berlari mencari ibunya, memeluk kakinya, dan menangis, "Ampuni Amat, Bu..."
Halaman 9
Ibunya mengusap rambut Amat dengan lembut. "Ibu selalu memaafkanmu, Nak." Amat kehilangan semua hartanya, tetapi ia mendapatkan kembali yang paling berharga: kasih ibunya. Ia menjaga ibunya sampai tua.
Halaman 10
Batu kapal itu masih ada di pesisir Aceh, diterpa ombak yang tenang. Ia mengingatkan semua anak untuk menyayangi orang tuanya. Peluk sayang untukmu malam ini. Pejamkan matamu. Tidurlah yang nyenyak, sampai besok pagi.
"Amat Rhang Manyang" adalah versi Aceh dari keluarga cerita yang sama dengan Malin Kundang: anak pesisir yang merantau, menjadi nakhoda kaya, lalu menyangkal ibunya di dermaga. Nelayan tua di pesisir Aceh menunjuk batu karang besar berbentuk kapal sambil menceritakannya.
Yang membedakan versi kami dari saudara-saudaranya: ini kisah tentang kekuatan maaf seorang ibu. Kapalnya menjadi batu, tetapi Amat selamat, berlari memeluk kaki ibunya — dan ibunya langsung berkata: "Ibu selalu memaafkanmu, Nak."
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Amat sendiri ikut menjadi batu karena doa ibunya yang terluka; dalam versi kami hanya kapal dan hartanya yang hilang, dan Amat sempat menebus kesalahannya — ia menjaga ibunya sampai tua. Bahan ngobrol: meminta maaf selagi masih sempat, dan memeluk orang yang menyayangi kita malam ini juga.
Harta bisa hilang, tetapi kasih orang tua adalah harta yang paling berharga.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.