

Halaman 1
Di Sumatra bagian selatan, banyak batu besar berbentuk aneh. Ada yang seperti kerbau sedang berbaring di padang. Konon, batu-batu itu berasal dari kisah seorang lelaki bernama Serunting.

Halaman 2
Serunting adalah orang sakti. Setelah lama menyendiri di bukit yang sunyi, ia mendapat kesaktian yang aneh. Apa pun yang diucapkan lidahnya bisa menjadi kenyataan — kata yang manis maupun yang pahit.
Halaman 3
Mulanya Serunting tidak berhati-hati. Saat kesal melihat rumpun pisang di jalannya, ia berkata, "Jadi batu kau!" Seketika pohon itu menjadi batu. Orang-orang pun takut dan menjulukinya Si Pahit Lidah.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ke mana pun ia pergi, orang-orang lari bersembunyi. Suatu hari, seorang anak kecil bertanya dengan polos, "Pak Serunting, kenapa kata-katamu hanya membuat batu? Kenapa tidak membuat yang indah-indah?"
Halaman 5
Serunting termenung lama sekali. Benar juga kata anak itu. Lidahnya sakti, tetapi selama ini hanya dipakai saat marah. "Mulai hari ini," katanya dalam hati, "kata-kataku harus membawa kebaikan."
Halaman 6
Ia pergi ke sebuah dusun yang tanahnya kering dan keras. Ia berdiri di tengah ladang dan berkata, "Jadilah subur, tumbuhlah padi yang kuning emas." Ajaib! Ladang itu menghijau dan padi tumbuh lebat.
Halaman 7
Di dusun lain, ia berkata kepada bukit yang gundul, "Tumbuhlah pohon buah-buahan." Maka bukit itu dipenuhi durian, duku, dan manggis. Orang-orang tidak takut lagi. Mereka menyambut Serunting dengan senyum.
Halaman 8
Ada satu hal yang selalu diingatnya: batu-batu dari kata marahnya dulu tidak bisa ia ubah kembali. "Kata-kata itu seperti batu," katanya kepada anak-anak dusun. "Sekali terucap, tidak bisa ditarik lagi."
Halaman 9
Sampai kini, batu-batu itu masih ada di tanah Sumatra Selatan. Orang tua menunjuknya sambil berpesan kepada anak-anak, "Ucapkanlah kata-kata yang baik, karena setiap kata punya kekuatan."
Halaman 10
Malam tiba di antara bukit-bukit batu. Semuanya sunyi dan damai. Sebelum tidur, ingatlah kata-kata baik yang kamu dengar hari ini, dan simpan di hatimu. Pejamkan matamu. Tidurlah yang nyenyak, sampai besok pagi.
Legenda Si Pahit Lidah tumbuh di Sumatera bagian selatan untuk menjelaskan batu-batu besar berbentuk aneh yang tersebar di sana. Serunting yang sakti bisa mengubah apa pun dengan ucapannya — dan orang dahulu menunjuk batu berbentuk manusia atau kerbau sebagai "bekas kata-katanya".
Batu-batunya nyata: di dataran tinggi Pasemah, sekitar Lahat dan Pagar Alam, tersebar arca-arca megalitik berusia ribuan tahun. Warga setempat sejak dulu mengaitkannya dengan Si Pahit Lidah. Arkeolog punya penjelasan sendiri — dua cerita untuk batu yang sama, dan keduanya menarik.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi-versi lama Serunting terus menyumpah sampai akhir hidupnya; dalam versi kami ia belajar memakai lidahnya untuk kebaikan. Pesannya tetap sama dan bagus dibicarakan: kata-kata seperti batu — sekali terucap, tidak bisa ditarik lagi.
Kata-kata punya kekuatan; gunakan untuk kebaikan, karena ucapan tak bisa ditarik kembali.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.