

Halaman 1
Di tanah Bugis, hiduplah seorang pelaut muda bernama Sawerigading. Badannya tegap, hatinya berani. Cita-citanya satu: berlayar ke negeri-negeri jauh di seberang lautan luas.

Halaman 2
Untuk itu ia butuh perahu besar. Di seluruh negeri, hanya satu pohon yang cukup besar: pohon Welenreng raksasa, puncaknya menembus awan. “Akan kubuat perahu dari pohon itu!” kata Sawerigading, lalu berangkat membawa kapaknya.
Halaman 3
Sampai di bawah pohon, ia mendongak. Ribuan sarang burung bergantungan di dahan-dahan! Terdengar cicit anak-anak burung. Sawerigading menurunkan kapaknya. “Kalau kutebang sekarang, ke mana mereka pulang?”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Ia pun menunggu dan bekerja. Berminggu-minggu, bersama warga kampung, ia memindahkan sarang demi sarang ke pohon-pohon lain. Burung-burung berterbangan di sekelilingnya, seolah menunjukkan dahan-dahan baru yang aman.
Halaman 5
Ketika sarang terakhir sudah aman, angin besar bertiup dari laut. Pohon Welenreng bergoyang, lalu rebah perlahan dengan sendirinya, seperti memberikan dirinya. “Terima kasih, pohon tua,” bisik Sawerigading.
Halaman 6
Dari kayunya, seluruh kampung bergotong royong membangun perahu yang megah. Layarnya terkembang seperti awan. Sawerigading berlayar diiringi lambaian tangan dan nyanyian dari pantai.
Halaman 7
Ombak setinggi bukit menghadang, badai bergulung-gulung. “Tenang, kawan-kawan!” seru Sawerigading dari kemudi. “Bintang-bintang menunjukkan jalan!” Ia berlayar dengan mantap, sampai perahunya tiba di negeri yang jauh.
Halaman 8
Di negeri itu ia bertemu Putri We Cudai yang cerdas dan suka bertanya. “Ceritakan tentang negerimu,” pinta sang putri. Maka berceritalah Sawerigading tentang tanah Bugis, sampai keduanya saling jatuh hati dan menikah.
Halaman 9
Kisah pelayaran Sawerigading dinyanyikan orang Bugis turun-temurun. Namanya kisah La Galigo, salah satu cerita terpanjang di dunia. Dan anak-anak Bugis pun tumbuh menjadi pelaut-pelaut pemberani.
Halaman 10
Sekarang perahu sudah ditambatkan, layar sudah digulung. Biarkan dirimu terbuai pelan-pelan, seperti perahu di atas ombak kecil. Selamat berlayar ke pulau mimpi, nakhoda kecil.
Sawerigading adalah pahlawan La Galigo, wiracarita orang Bugis dari Sulawesi Selatan yang termasuk karya sastra terpanjang di dunia — naskah kunonya diakui UNESCO sebagai warisan dokumenter dunia. Cerita kami mengambil satu benang dari epos raksasa itu: pohon Welenreng, perahu, dan pelayaran ke negeri jauh.
Keturunan semangat pelaut itu masih bisa dilihat sekarang: di Bulukumba, Sulawesi Selatan, orang Bugis-Makassar sampai hari ini membangun pinisi, perahu layar kayu yang seni pembuatannya diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Ajak anak melihat foto pinisi bertiang tinggi — begitulah kira-kira perahu impian Sawerigading.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Epos aslinya panjang, berlapis, dan ditujukan untuk orang dewasa; kami menyederhanakannya, dan satu perubahan penting: dalam versi lama pohon tumbang menimpa sarang-sarang burung, sedangkan Sawerigading kami memindahkan semua sarang lebih dulu. Bahan obrolan: cita-cita besar boleh, asal makhluk kecil tidak dikorbankan.
Kesabaran dan kasih pada makhluk kecil membuka jalan menuju cita-cita besar.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.