

Halaman 1
Di tanah Jambi, hiduplah seorang ibu bernama Putri Tangguk bersama suami dan tujuh anaknya. Sawah mereka kecil, tetapi ajaib: padinya selalu penuh. Dipanen hari ini, besok pagi sudah berbuah lebat lagi.

Halaman 2
Lumbung keluarga itu selalu penuh beras. Lama-kelamaan, Putri Tangguk mulai lupa menghargai padinya. "Padi kami tidak akan pernah habis," katanya sambil tertawa. Ia pun mulai malas pergi ke sawah.
Halaman 3
Suatu hari hujan turun dan jalan ke rumah menjadi becek. Putri Tangguk tidak mau kakinya kotor. "Tebarkan saja padi di jalan!" katanya. Maka padi ditebar di lumpur, lalu diinjak-injak seperti batu pijakan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Malam itu, Putri Tangguk bermimpi. Ia mendengar suara halus dan sedih, "Kami padi, yang selama ini mengenyangkan keluargamu. Mengapa kami diinjak-injak di lumpur?" Putri Tangguk terbangun dengan hati berdebar.
Halaman 5
Paginya, ia membuka lumbung. Kosong! Tidak ada sebutir beras pun tersisa. Ia berlari ke sawah. Sawahnya yang ajaib kini hanya berisi air dan rumput liar. Padinya hilang semua, tidak bersisa sedikit pun.
Halaman 6
Tujuh anaknya mulai lapar. Putri Tangguk menangis pelan. "Ini salahku. Aku menyia-nyiakan padi yang selama ini memberi kami makan setiap hari," katanya penuh sesal kepada suaminya yang mengusap bahunya.
Halaman 7
Sejak hari itu, Putri Tangguk berubah. Ia bangun pagi-pagi, menanam bibit padi satu demi satu, dan merawatnya dengan sabar. Anak-anaknya ikut membantu mengusir burung dan mencabut rumput di sawah.
Halaman 8
Musim demi musim berlalu. Sawah itu perlahan menghijau kembali. Saat panen tiba, Putri Tangguk memeluk setangkai padi dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih. Kami tidak akan menyia-nyiakanmu lagi," bisiknya.
Halaman 9
Keluarga itu hidup cukup dan bahagia. Setiap kali makan, mereka menghabiskan nasi di piring sampai butir terakhir. Putri Tangguk selalu berpesan, "Hargai makananmu, karena ia tumbuh dengan susah payah."
Halaman 10
Malam turun di sawah Jambi. Katak bernyanyi pelan, dan padi muda tertidur ditiup angin. Kamu juga sudah makan dan kenyang hari ini. Sekarang waktunya beristirahat. Pejamkan matamu. Sampai bertemu di mimpi yang indah.
"Putri Tangguk" adalah cerita rakyat dari tanah Jambi tentang menghargai padi. Di banyak keluarga petani Nusantara, padi diperlakukan hampir seperti anggota keluarga — dan cerita ini lahir dari rasa hormat itu: padi yang diinjak-injak di lumpur pergi meninggalkan lumbungnya.
Jangkar dunia nyatanya ada di meja makan setiap hari. Nasi di piring anak menempuh jalan panjang: ditanam satu-satu, dijaga dari burung, dipanen berbulan-bulan kemudian. Kebiasaan "habiskan nasimu sampai butir terakhir" yang diajarkan orang tua Indonesia — persis pesan cerita ini.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam versi kami keluarga itu bangkit lagi lewat kerja sabar, jadi akhirnya menenangkan. Bahan ngobrol: kenapa padi "merajuk"? Ajak anak menghitung apa saja yang mereka syukuri di meja makan hari ini.
Hargai makanan dan jangan boros terhadap apa yang kita miliki.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.