Identitas
- Kelompok usia: 4–6 tahun (TK A/B)
- Topik: Air dan cuaca · Subtopik: Berani melangkah untuk menolong orang banyak
- Alokasi waktu: 60 menit (satu blok dalam hari belajar; bisa dibagi dua hari)
- Cerita: Putri Kemarau (cerita rakyat Sumatera Selatan, 10 halaman, 3 menit)
- Dimensi profil lulusan: Kewargaan, Kemandirian, Komunikasi
Tujuan pembelajaran
- Anak menceritakan apa yang terjadi pada sawah dan sungai saat kemarau panjang datang.
- Anak menyebutkan alasan Putri Jelitani berani pergi sendiri ke tepi laut.
- Anak mengurutkan gambar halaman 2 dan halaman 9 dan menirukan bunyi hujan dari pelan menjadi deras.
Alat dan bahan
- Cerita Putri Kemarau: pemutar «Putar di kelas» di laptop/proyektor, atau dibacakan guru.
- Kartu diskusi & kosakata (cetak 1 lembar untuk guru).
- Lembar mewarnai halaman 2 atau halaman 9 (cetak sesuai jumlah anak).
- Satu gelas berisi air dan satu gelas kosong; krayon.
Pembukaan (10 menit)
- Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
- Pertanyaan pemantik: Tunjukkan gelas berisi air dan gelas kosong. «Kalau air di rumah habis, apa yang tidak bisa kita lakukan?»
- Tunjukkan gambar halaman 2: «Tanah di gambar ini retak-retak. Sudah berapa lama hujan tidak turun?»
- Perkenalkan 3 kata: kemarau, ombak, tulus.
Inti (40 menit)
- Memahami: Putar atau bacakan halaman 1 sampai 6. Berhenti setelah halaman 6, saat sang putri selesai berbicara kepada laut. Tanya: «Apakah laut akan menjawab? Apa yang akan dikatakannya?»
- Memahami: Lanjutkan halaman 7 sampai 10. Jeda sebentar, lalu tanya: «Apa yang jatuh pertama kali di pipi sang putri?»
- Mengaplikasi: «Hujan datang»: anak duduk melingkar, menggosok telapak tangan seperti angin, menepuk paha pelan, lalu cepat seperti hujan deras, lalu pelan lagi. Tanya: «Bagian mana yang paling mirip hujan di halaman 8?»
- Mengaplikasi: Mewarnai halaman 2 (sawah kering) atau halaman 9 (sawah menghijau). Dua gambar diletakkan berdampingan; anak menunjuk mana sebelum hujan dan mana sesudahnya.
- Merefleksi: Duduk melingkar. Bahas: «Bagaimana perasaan raja melihat negerinya kekeringan?», «Apa yang terjadi pada sawah dan sungai saat kemarau panjang?», «Mengapa Putri Jelitani berani pergi ke laut?», «Pernahkah kamu berani melakukan sesuatu untuk membantu orang lain?»
Penutup (10 menit)
- Recalling: Anak menyebutkan satu hal yang mengering saat kemarau dan satu yang hidup lagi sesudah hujan.
- Ulangi kata baru: kemarau, ombak, tulus, menyusut, kelabu.
- Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu tutup keran rapat-rapat setelah memakai air.
- Doa penutup dan salam.
Asesmen (observasi)
- Kemarau: anak menceritakan bahwa sawah mengering dan sungai menyusut sampai rakyat kekurangan makanan.
- Keberanian: anak menyebutkan bahwa sang putri pergi ke laut karena teringat rakyat yang kehausan.
- Sebelum dan sesudah: anak mengurutkan gambar halaman 2 dan halaman 9 dengan benar sambil menirukan bunyi hujan.
- Dokumentasi: hasil karya (lembar mewarnai), catatan anekdot saat permainan «Hujan datang».
Catatan untuk guru
- Untuk kelompok A (4 tahun): berhenti di halaman 8 saat hujan pertama turun, cukup satu ragam main («Hujan datang»), tanyakan apa yang mengering dan apa yang membuat rakyat gembira.
- Kalau anak bertanya apakah laut bisa berbicara: dalam cerita lama laut adalah teman yang mendengarkan. Yang penting kalimat penjaga laut: hati yang tulus lebih berharga daripada seribu persembahan.
- Kemarau panjang benar-benar terjadi di Sumatera. Petani menunggu hujan sebelum bisa menanam padi.