

Halaman 1
Di tanah Deli, Sumatra Utara, hiduplah seorang putri yang tubuhnya memancarkan cahaya kehijauan seperti zamrud. Orang-orang menyebutnya Putri Hijau. Ia tinggal bersama dua saudaranya yang sangat menyayanginya.

Halaman 2
Kecantikan dan kebaikan Putri Hijau terkenal sampai ke negeri-negeri jauh. Seorang raja dari seberang ingin memaksanya menjadi permaisuri. Putri Hijau menolak dengan sopan, "Maaf, hatiku belum bersedia."
Halaman 3
Raja itu tidak terima. Ia mengirim pasukan besar ke tanah Deli. Rakyat ketakutan. Namun kedua saudara Putri Hijau maju ke depan. "Kami akan menjaga adik kami," kata mereka berdua dengan teguh.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Saudara sulung berubah menjadi meriam ajaib yang menggelegar menjaga benteng. Suaranya menggetarkan bukit-bukit, membuat pasukan lawan tidak berani mendekat. Ia bertahan siang dan malam tanpa lelah.
Halaman 5
Karena terus bersuara tanpa henti, badan meriam itu menjadi sangat panas, lalu patah menjadi dua. Sampai sekarang, potongan Meriam Puntung itu masih tersimpan di Medan, dikenang sebagai penjaga yang setia.
Halaman 6
Saudara kedua berubah menjadi naga besar berwarna hijau keemasan. Ia melingkari istana untuk melindungi adiknya. Namun pasukan lawan terlalu banyak. Putri Hijau akhirnya dibawa ke kapal menuju seberang.
Halaman 7
Di tengah laut, Putri Hijau berkata kepada sang raja, "Penuhilah satu permintaanku. Taburkanlah bertih ke laut." Bertih adalah butiran padi yang digoreng. Ketika bertih ditaburkan, laut tiba-tiba bergelombang besar.
Halaman 8
Dari dalam ombak, muncullah sang naga hijau! "Kakak datang menjemputku!" seru Putri Hijau. Naga itu mengangkat adiknya dengan lembut dari kapal, lalu membawanya menyelam ke istana yang indah di dasar laut. Di sana Putri Hijau hidup aman dan tenang.
Halaman 9
Konon, saat laut Selat Malaka berkilau kehijauan, itulah cahaya dari istana Putri Hijau. Orang Deli selalu mengenang putri yang lembut namun teguh, dan saudara-saudara yang setia menjaganya.
Halaman 10
Malam tiba di pesisir Deli. Ombak berdebur pelan seperti nyanyian dari istana bawah laut. Kamu pun dijaga oleh orang-orang yang menyayangimu. Pejamkan matamu sekarang. Sampai bertemu di mimpi yang indah.
Legenda Putri Hijau adalah salah satu cerita besar tanah Deli, Sumatera Utara — tentang putri bercahaya zamrud dan dua saudara yang menjelma menjadi meriam dan naga demi menjaganya. Orang Deli dan Melayu pesisir menuturkannya turun-temurun bersama sejarah negeri mereka.
Jejaknya bisa dilihat sampai sekarang: potongan Meriam Puntung, sang kakak sulung dalam legenda, tersimpan di kompleks Istana Maimun di Medan. Dan bila laut Selat Malaka berkilau kehijauan, orang tua di Deli berkata: itu cahaya istana Putri Hijau di dasar laut.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami menghindari perang yang menakutkan dan menutup kisah dengan putri yang aman di istana bawah laut, dijemput kakaknya sendiri. Bahan ngobrol: dua saudara yang rela menjaga adiknya — dan kalimat sang putri "hatiku belum bersedia", contoh bagus bahwa menolak dengan sopan itu boleh.
Kasih sayang dan kesetiaan keluarga adalah pelindung yang paling kuat.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.